LOVE Bagian 7
Terjadi perubahan besar dalam dirinya, sejak kedatangan ibunya tempo hari. Perlahan dia bersedia memulai melangkahkan kaki menapaki jalan hidup yang selama ini dihindarinya, kehidupan baru dengan kehadiran seseorang. Seseorang yang tak cuma bisa hadir di alam imajinasinya, tidak cuma berwujud siluet yang tampil dalam avatar atau display image di folder PM (Privacy Message-nya), bukan pula seseorang yang sosoknya hanya diwakili oleh ikon dan aksara, tapi orang itu benar-benar nyata, senyata dirinya dan ibunya.
Dia bukan tak berdaya menolak semua obsesi ibunya itu. Dia rela menjalani semuanya semata-mata karena rasa kasih yang besar terhadap ibu yang telah bersusah payah mengandung, melahirkan, dan membesarkannya. Kepada siapa lagi dia harus tunduk dan patuh, selain kepada bunda yang sudah begitu tegar menjadi single parent, hingga dia bisa menjadi wanita yang mandiri seperti sekarang ini. Dia pantang menjadi seorang anak yang membangkang.
Pada hari ini dia harus mau menunggu kedatangan seseorang itu, seseorang yang mungkin selanjutnya akan membuat harinya-harinya tak sepi lagi. Dan hal tersebut menjadi bagian dari tuntutan skenario kehidupan dia selanjutnya.
Hari ini juga dia terpaksa menghapus semua image buruk tentang pria dalam pikirannya. Mulai saat ini dia harus mengakui dan harus percaya, bahwa dari sekian banyak pria yang tak setia di dunia nyata, terdapat juga pria-pria setia. Oleh karena itu dia mulai berani membuka diri, dengan harapan, setiap pengorbanan yang ia lakukan, membuahkan kebahagiaan untuk bundanya seorang.
Ketika lelaki yang dinantikannya itu sudah berada di hadapannya, dia baru tersadar, bahwa momen ini tak setegang yang dibayangkan. Semuanya berjalan dengan santai, tanpa debaran jantung di dadanya, tiada luapan perasaan gembira layaknya bila dia bertemu Fauzi di alam maya. Sungguh sebuah awal pertemuan yang terlalu biasa.
“Seperti sudah kuduga sebelumnya, wanita yang saya kunjungi hari ini semanis namanya!” Kata lelaki itu, setelah keduanya berjabat tangan dan duduk berhadapan, dengan jarak yang cukup dekat, hanya terhalang oleh meja tamu ukuran setengah meter, yang di atasnya sudah tersedia dua gelas softdrink beserta beberapa makanan cemilan.
“Terima kasih. Tapi saya tidak semanis yang anda kira. Biasa saja, alakadarnya, seperti yang anda lihat ini.” Dia menjawab dengan santainya.
“Panggil saya Zul. Nama lengkap saya Dzulfikar Malik. Kalau adik memanggil saya dengan kata ‘anda’, kesannya resmi sekali.“ Kata pria itu sambil tersenyum.
“Oh, begitu ya. Baiklah Bang Zul, selamat datang di rumahku. Saya senang bertemu denganmu.” Dia membalas senyum tamunya itu. Bagaimana pun enggannya dia menghadapinya, tapi menghormati tamu adalah sebuah keharusan. Terbayang pula dalam benaknya, ibunya yang sekarang sudah kembali ke Jakarta, akan tersenyum bahagia bila menyaksikan semua adegan permulaan ini.
“Ibumu memanggilmu dengan nama Anis. Nama lengkapnya?” Rupanya pria itu masih penasaran tentang namanya. Atau barangkali masih dalam rangka “mukadimah”, untuk menghilangkan sedikit nervous.
“Dewi Rengganis.” Jawabnya.
“Sebuah nama yang sangat bagus, seperti tokoh utama dalam cerita wawacan,” tamunya memujinya lagi. Pikirnya, ah, Si Abang ini pandai juga berbasa-basi demi menyenangkan hati tuan rumah.
“Tapi di cyber, saya dipanggil ‘Nice’.” Tiba-tiba dia jadi teringat pada seseorang yang barangkali sekarang sedang sabar menunggunya dan berharap dirinya segera online di Yahoo Messenger.
“Di cyber? Maksudnya?”
“Saya kan guru IT, sambil memanfaatkan sarana dan waktu, saya sering chatting di internet. Nah ada salah seorang teman chatting yang memanggil saya dengan sebuah nama, ‘Nice’.” Dia berkata begitu sambil tertawa kecil, merasa malu, hari gini, di saat umurnya sudah “dewasa banget” kata Fauzi, masih hobby chatting.
“Kalau begitu, saya harus memanggilmu Nice juga?”
“Oh, jangan, itu hanya namaku di cyber. Panggil Anis sajalah seperti teman-teman yang lainnya.” Entah kenapa dia merasa tidak rela bila panggilan sayang Fauzi untuknya ditiru lelaki lain.
“Baiklah. Ibumu tentu sudah banyak bercerita tentang saya kan? Jadi saya tidak perlu memperkenalkan diri secara mendetail. Lambat laun Adik akan lebih banyak tahu tentang pribadi saya dari pada saya sendiri.”
“Boleh saya bertanya, Bang?”
“Silahkan.”
“Sudah lama Bang Zul mengenal ibuku?”
“Kira-kira setahun yang lalu. Waktu itu saya berkunjung ke Panti Wreda tempat ibu Dik Anis bertugas. Lalu…setelah beberapa kali berkunjung dalam rangka kegiatan amal yang diselenggarakan kampus saya, kami sempat berbincang-bincang banyak tentang keluarga masing-masing. Dari situlah saya mengetahui bahwa Ibu Pramanik mempunyai seorang anak yang sangat ia banggakan. Dan Alhamdulillah saya sudah berada di hadapannya sekarang,“ kata si pria sambil menatapnya. Kemudian pria itu mengalihkan pandangannya ke arah lain ketika dia membalas tatapannya.
Sang tamu nampaknya berjuang keras untuk mencairkan suasana dengan mencari-cari tema obrolan yang tepat dan menarik. Sikapnya sedikit tidak tenang, sering merubah posisi duduknya.
Melihat semua ini dia maklum, sebab pertemuan ini direncanakan dan dirancang untuk mencapai satu tujuan, dia dan lelaki itu suatu saat harus menjadi pasangan hidup. Tapi dia sendiri tak terpengaruh oleh rencana atau tujuan itu. Dia menganggap bahwa tamu yang sedang dihadapinya ini bukan siapa-siapa, tak ada istimewanya, anggap saja laki-laki ini teman sejawat, seperti teman-teman prianya di sekolah.
Selanjutnya dia sendiri yang berinisiatif untuk mengubah-ngubah topik pembicaraan, agar ketegangan sang tamu mencair dan akhirnya merasa nyaman. Dari kesimpulannya sementara, lelaki itu baik, low profile, tapi sedikit serius, dan sepertinya tidak suka bercanda. Dia jadi teringat pada teman chatting-nya yang lain, Hassan Ismail dari negeri jiran, Malaysia. Karakter Hassan banyak kemiripannya dengan pria ini.
Performent lelaki yang baru dia kenal ini…baik juga. Busana yang dikenakan sangat pas dengan tubuhnya yang agak tinggi dan sedikit ramping. Kemeja biru muda bermotif kotak-kotak berlengan panjang dengan celana panjang biru tua, membuat matanya terasa sejuk. Rambutnya hitam pekat, sedikit ikal, disisir rapih kearah belakang. Dan satu hal yang membuat dia betah bercakap-cakap dengan tamunya ini adalah kegemaran yang hampir sama dengannya, sama-sama hobby membaca karya sastra, sama-sama pengagum Pramudya Ananta Toer dan Umar Khayam. Malah katanya pria ini seorang kolektor karya-karya Pram. Dengan begitu dia punya teman baru untuk sekedar bertukar pikiran tentang sastra.
Sebuah kesan pertama yang mulus. Tapi dia tak pernah berharap banyak. Tak pernah menginginkan hubungan ini menjadi hubungan serius dan spesial. Seandainya dia bukan figur wanita yang dicari lelaki itu juga tak masalah. Dia hanya ingin menjalani hidup ini seperti yang seharusnya dijalani, dengan tanpa beban.
Bersambung ...
Terjadi perubahan besar dalam dirinya, sejak kedatangan ibunya tempo hari. Perlahan dia bersedia memulai melangkahkan kaki menapaki jalan hidup yang selama ini dihindarinya, kehidupan baru dengan kehadiran seseorang. Seseorang yang tak cuma bisa hadir di alam imajinasinya, tidak cuma berwujud siluet yang tampil dalam avatar atau display image di folder PM (Privacy Message-nya), bukan pula seseorang yang sosoknya hanya diwakili oleh ikon dan aksara, tapi orang itu benar-benar nyata, senyata dirinya dan ibunya.
Dia bukan tak berdaya menolak semua obsesi ibunya itu. Dia rela menjalani semuanya semata-mata karena rasa kasih yang besar terhadap ibu yang telah bersusah payah mengandung, melahirkan, dan membesarkannya. Kepada siapa lagi dia harus tunduk dan patuh, selain kepada bunda yang sudah begitu tegar menjadi single parent, hingga dia bisa menjadi wanita yang mandiri seperti sekarang ini. Dia pantang menjadi seorang anak yang membangkang.
Pada hari ini dia harus mau menunggu kedatangan seseorang itu, seseorang yang mungkin selanjutnya akan membuat harinya-harinya tak sepi lagi. Dan hal tersebut menjadi bagian dari tuntutan skenario kehidupan dia selanjutnya.
Hari ini juga dia terpaksa menghapus semua image buruk tentang pria dalam pikirannya. Mulai saat ini dia harus mengakui dan harus percaya, bahwa dari sekian banyak pria yang tak setia di dunia nyata, terdapat juga pria-pria setia. Oleh karena itu dia mulai berani membuka diri, dengan harapan, setiap pengorbanan yang ia lakukan, membuahkan kebahagiaan untuk bundanya seorang.
Ketika lelaki yang dinantikannya itu sudah berada di hadapannya, dia baru tersadar, bahwa momen ini tak setegang yang dibayangkan. Semuanya berjalan dengan santai, tanpa debaran jantung di dadanya, tiada luapan perasaan gembira layaknya bila dia bertemu Fauzi di alam maya. Sungguh sebuah awal pertemuan yang terlalu biasa.
“Seperti sudah kuduga sebelumnya, wanita yang saya kunjungi hari ini semanis namanya!” Kata lelaki itu, setelah keduanya berjabat tangan dan duduk berhadapan, dengan jarak yang cukup dekat, hanya terhalang oleh meja tamu ukuran setengah meter, yang di atasnya sudah tersedia dua gelas softdrink beserta beberapa makanan cemilan.
“Terima kasih. Tapi saya tidak semanis yang anda kira. Biasa saja, alakadarnya, seperti yang anda lihat ini.” Dia menjawab dengan santainya.
“Panggil saya Zul. Nama lengkap saya Dzulfikar Malik. Kalau adik memanggil saya dengan kata ‘anda’, kesannya resmi sekali.“ Kata pria itu sambil tersenyum.
“Oh, begitu ya. Baiklah Bang Zul, selamat datang di rumahku. Saya senang bertemu denganmu.” Dia membalas senyum tamunya itu. Bagaimana pun enggannya dia menghadapinya, tapi menghormati tamu adalah sebuah keharusan. Terbayang pula dalam benaknya, ibunya yang sekarang sudah kembali ke Jakarta, akan tersenyum bahagia bila menyaksikan semua adegan permulaan ini.
“Ibumu memanggilmu dengan nama Anis. Nama lengkapnya?” Rupanya pria itu masih penasaran tentang namanya. Atau barangkali masih dalam rangka “mukadimah”, untuk menghilangkan sedikit nervous.
“Dewi Rengganis.” Jawabnya.
“Sebuah nama yang sangat bagus, seperti tokoh utama dalam cerita wawacan,” tamunya memujinya lagi. Pikirnya, ah, Si Abang ini pandai juga berbasa-basi demi menyenangkan hati tuan rumah.
“Tapi di cyber, saya dipanggil ‘Nice’.” Tiba-tiba dia jadi teringat pada seseorang yang barangkali sekarang sedang sabar menunggunya dan berharap dirinya segera online di Yahoo Messenger.
“Di cyber? Maksudnya?”
“Saya kan guru IT, sambil memanfaatkan sarana dan waktu, saya sering chatting di internet. Nah ada salah seorang teman chatting yang memanggil saya dengan sebuah nama, ‘Nice’.” Dia berkata begitu sambil tertawa kecil, merasa malu, hari gini, di saat umurnya sudah “dewasa banget” kata Fauzi, masih hobby chatting.
“Kalau begitu, saya harus memanggilmu Nice juga?”
“Oh, jangan, itu hanya namaku di cyber. Panggil Anis sajalah seperti teman-teman yang lainnya.” Entah kenapa dia merasa tidak rela bila panggilan sayang Fauzi untuknya ditiru lelaki lain.
“Baiklah. Ibumu tentu sudah banyak bercerita tentang saya kan? Jadi saya tidak perlu memperkenalkan diri secara mendetail. Lambat laun Adik akan lebih banyak tahu tentang pribadi saya dari pada saya sendiri.”
“Boleh saya bertanya, Bang?”
“Silahkan.”
“Sudah lama Bang Zul mengenal ibuku?”
“Kira-kira setahun yang lalu. Waktu itu saya berkunjung ke Panti Wreda tempat ibu Dik Anis bertugas. Lalu…setelah beberapa kali berkunjung dalam rangka kegiatan amal yang diselenggarakan kampus saya, kami sempat berbincang-bincang banyak tentang keluarga masing-masing. Dari situlah saya mengetahui bahwa Ibu Pramanik mempunyai seorang anak yang sangat ia banggakan. Dan Alhamdulillah saya sudah berada di hadapannya sekarang,“ kata si pria sambil menatapnya. Kemudian pria itu mengalihkan pandangannya ke arah lain ketika dia membalas tatapannya.
Sang tamu nampaknya berjuang keras untuk mencairkan suasana dengan mencari-cari tema obrolan yang tepat dan menarik. Sikapnya sedikit tidak tenang, sering merubah posisi duduknya.
Melihat semua ini dia maklum, sebab pertemuan ini direncanakan dan dirancang untuk mencapai satu tujuan, dia dan lelaki itu suatu saat harus menjadi pasangan hidup. Tapi dia sendiri tak terpengaruh oleh rencana atau tujuan itu. Dia menganggap bahwa tamu yang sedang dihadapinya ini bukan siapa-siapa, tak ada istimewanya, anggap saja laki-laki ini teman sejawat, seperti teman-teman prianya di sekolah.
Selanjutnya dia sendiri yang berinisiatif untuk mengubah-ngubah topik pembicaraan, agar ketegangan sang tamu mencair dan akhirnya merasa nyaman. Dari kesimpulannya sementara, lelaki itu baik, low profile, tapi sedikit serius, dan sepertinya tidak suka bercanda. Dia jadi teringat pada teman chatting-nya yang lain, Hassan Ismail dari negeri jiran, Malaysia. Karakter Hassan banyak kemiripannya dengan pria ini.
Performent lelaki yang baru dia kenal ini…baik juga. Busana yang dikenakan sangat pas dengan tubuhnya yang agak tinggi dan sedikit ramping. Kemeja biru muda bermotif kotak-kotak berlengan panjang dengan celana panjang biru tua, membuat matanya terasa sejuk. Rambutnya hitam pekat, sedikit ikal, disisir rapih kearah belakang. Dan satu hal yang membuat dia betah bercakap-cakap dengan tamunya ini adalah kegemaran yang hampir sama dengannya, sama-sama hobby membaca karya sastra, sama-sama pengagum Pramudya Ananta Toer dan Umar Khayam. Malah katanya pria ini seorang kolektor karya-karya Pram. Dengan begitu dia punya teman baru untuk sekedar bertukar pikiran tentang sastra.
Sebuah kesan pertama yang mulus. Tapi dia tak pernah berharap banyak. Tak pernah menginginkan hubungan ini menjadi hubungan serius dan spesial. Seandainya dia bukan figur wanita yang dicari lelaki itu juga tak masalah. Dia hanya ingin menjalani hidup ini seperti yang seharusnya dijalani, dengan tanpa beban.
Bersambung ...
|
|
darwys
| terimakasih atas kunjungan anda |
|

0 komentar:
Posting Komentar