
LOVE Bagian 6
“Hi, Honey, kenapa baru online? Banyak kerjaan?” Sapa pria itu.
“ Iya lah, aku kan mesti kerja dulu. Kalau chatting terus, nanti aku dibilang makan gaji buta.”
“Jadi sekarang Nice capek ya?”
“lumayan, sampe pegel-pegel nih badanku.”
“Sini, aku pijitin bagian yang pegelnya.”
“Nggak mau, ah!”
“Kenapa?”
“Mana terasa kalo mijitnya cuma pake ikon doang?”
“Ye…kan yang dipijitnya juga cuma ikon, ya sama-sama nggak enaknya atuh,” Kata si pria tak mau kalah.
“BTW, Uzi sudah makan siang?”
“Waktu kita kan berbeda Neng. Waktu di tempatku sekarang menjelang sore. Waktu makan siang sudah lama lewat, tapi… perutku masih kekenyangan.”
“Emang makannya sama apa tadi?”
“sama Spinach Canelloni Tomato Coulis.”
“Wah, masakan apaan tuh? Asing banget kedengarannya di telingaku.”
“Sejenis makanan yang bahan dasarnya bayam. Masih ada sisa di piring, kamu mau nyicipin?” Kata laki-laki itu sambil memberi ikon yang lagi nyengir.
“Kalau memang tersedia juga di situ, aku lebih memilih lotek atau karedok aja deh. Ada nggak?”
“Wah kamu mah ngerepotin aku aja. Karedok yang enak kan mesti pake oncom dan kencur. Di Aussi mesti ke mana ya nyari oncomnya?”
“Untuk menjamu tamu istimewa, mesti ketemu dong tuh oncom! Rupanya Uzi pinter masak ya?”
“Sebagai orang yang hidup sebatang kara di negeri orang, aku harus bisa masak. Aku kan nggak bisa mengandalkan kamu yang masih ada di Indo!” Ketikannya diakhiri dengan ikon smile.
“Suatu saat, bila kita ditakdirkan bertemu, aku janji mau masak makanan special untukmu, tahu goreng biar gampang masaknya, mau?” Dia menambahkan ketikannya juga dengan ikon yang lagi nyengir.
“Asal kamu yang menghidangkannya, makanan apa pun akan menjadi hidangan yang istimewa.”
“Halah, gombalnya keluar lagi deh! Eh, boleh nggak aku curhat sama kamu, Uzi?”
“Tentang apa?”
“Tapi bener ya mau dengerin masalah aku ini?”
“Bukan dengerin kali, tapi baca. Kita kan nggak pake voice!”
“OK, gini…aku mau dikenalin dengan seseorang oleh Mamaku. Menurut pendapatmu gimana?” Dia mengetik kalimat itu dengan rasa sedih. Takut perasaan pria itu terluka. Tapi…pada siapa lagi dia harus mengeluh mengenai masalah itu. Dia sudah terbiasa sharing dengan laki-laki ini. Masalah seperti ini terlalu pribadi untuk diekspos kepada teman-temannya di sekolah.
“Orang mana dia?”
“Orang Jakarta.”
“Kalau cuma mau kenal, aku rasa bagus lah. Kita jadi tambah saudara.”
“Kalau ternyata laki-laki itu nantinya berniat lebih serius ingin menjalin hubungan yang lebih dekat lagi denganku, gimana?”
“Bila itu terjadi, tinggal tanya hati kecilmu. Mau nggak menerimanya sebagai orang yang special buatmu.”
Dia merasa kaget dengan jawaban pria itu, dan kemudin…kecewa.
“Kenapa Uzi ngasih advise seperti itui?”
“Lho, memang harusnya gimana? Sekarang kan kamu lagi butuh saran yang baik-baik. Kalau saranku jelek nanti pikiranmu tambah kalut.”
“Kok, Uzi nggak ngelarang sih? Lalu, selama ini kamu menganggap aku sebagai apa? Jadi kata-kata indah yang kamu hambur-hamburkan setiap hari di PM kita itu cuma gombal belaka?” Dia memilih ikon yang lagi nangis menjerit-jerit untuk melengkapi ketikannya. Dia kecewa pada jawaban kekasih cyber-nya. Padahal selama ini dalam hatinya sering muncul rasa jealous bila tahu Fauzi sedang chatting juga sama teman perempuannya yang lain. Makanya, jika dia selalu menolak untuk dikenalkan pada teman-teman wanita Fauzi di YM, bukan apa-apa, semata-mata karena dia cemburu, cemburu pada semuanya.
“Sepertinya kamu nggak cemburu sama sekali pada pilihan mamaku, Uzi?”
“KENAPA TIDAK BILANG DARI KEMARIN-KEMARIN BAHWA KITA CUMA TEMAN, HAH?!”
Wah gawat, Nice benar-benar marah rupanya, dia mengetik kalimat itu dengan huruf kapital semua, seolah-olah dia sedang berteriak membentakku, pikir lelaki itu dengan kagetnya.
“Sebentar, Nice, jangan sewot dulu….aku tak bermaksud…..” laki-laki itu tak bisa meneruskan ketikannya, karena si wanita off dengan tiba-tiba, menutup jendela mayanya rapat-rapat. Signout
Sejenak wanita yang sedang kecewa berat itu seorang diri menatap hampa layar monitor komputernya yang sudah kembali ke tampilan semula. Tapi dalam kesedihannya dia masih sempat berpikir, kenapa dia harus marah pada Fauzi? Bukankah dia sudah biasa dengan datang dan perginya pria-pria cyber? Dia sendiri tak mengerti dengan keadaan hatinya pada saat ini. Kenapa dia jadi serius menanggapi sikap-sikap romantis Fauzi? Kenapa dia tidak rela bila Fauzi tak ada rasa cemburu padanya? Bukankah selama ini dia menganggap bahwa dunia maya adalah kembarannya dunia mimpi, petualangan seindah apa pun di dunia cyber akan segera berakhir jika dia terjaga (sign out). Ternyata yang diselimuti misteri itu bukan cuma pribadi seorang Fauzi, tapi juga pribadinya sendiri. Dengan semuanya ini, dia betul-betul tidak mengerti.
Dengan perasaan yang masih kacau balau, dia mulai browsing, membuka-buka surat kabar online. Pikirannya tetap saja bercabang, tak bisa berkonsentrasi pada satu objek. Dia membayangkan ibunya yang sedang menunggunya di rumah, menunggu kepastian jawaban dari persoalannya tadi malam. Pikirannya loncat lagi pada Fauzi yang mungkin sedang terbengong-bengong di depan komputernya, atau malah bisa jadi sedang asyik berkencan dengan perempuan lain bercanda ria di cyber juga. Meskipun dari awal kenal dengan pria itu dia berusaha untuk menganggap bahwa sosok Fauzi sama dengan bayangan, perlahan tapi pasti, hatinya kena juga, tak bisa menghindar dari lemparan anak panah merah yang dilepas Fauzi dari busurnya. Buktinya, saat ini dia sedang terkapar, menggelepar.
Untuk menenangkan hatinya yang sedang galau, dia berniat menulis surat untuk Fauzi melalui e-mail, ingin meminta nasehat yang benar-benar bisa membuat hatinya tentram. Ketika e-mailnya sudah terbuka, di list paling atas ada email baru dengan subject “Maafkan Aku”. Pengirimnya fauzi2003@yahoo.com.au. Dengan cepat dia buka isinya, siapa tahu tertera kabar yang bisa membuatnya kembali tegar dan segar.
Assalamualaikum, Nice.
Hari ini kamu sensitif amat. Kita kan belum selesai ngobrolnya di YM. Aku ingin obrolan kita berakhir sampai tuntas, tidak menggantung seperti tadi. Bisa nggak kamu bersikap sedikit tenang. Kamu kan sudah dewasa banget, bukan remaja lagi. Malu dong sama murid-murid kamu yang sudah mulai berpikir logis. Dikit-dikit ngambek, dikit-dikit ngambek, gimana bisa selesai persoalannya bila kamu gampang tersinggung?
Aku bukannya tidak cemburu waktu kamu menceritakan semuanya. Tapi aku harus introspeksi sebelum menghadirkan rasa cemburu itu. Apalah artinya aku buatmu, dibanding ibumu dan calonmu itu. Posisi mereka sangat dekat dengan wujudmu. Nah aku? Wajahku saja kamu belum tahu, ya kan? Memang kita sudah sangat dekat, sudah saling memahami karakter masing-masing. Tapi itu saja tidak cukup untuk sebuah hubungan yang serius. Kita dipisahkan oleh jarak yang sangat jauh. Bersentuhan lewat citra saja tidak cukup, Nice. Harus ada tindak lanjutnya, yaitu petemuan fisik. Dan sampai saat ini aku belum siap untuk menampilkan sosokku seutuhnya pada siapa pun, termasuk padamu, orang yang sangat istimewa di hatiku. Demi kebahagiaan belahan jiwaku, aku rela kamu bertemu pria yang benar-benar hadir wujudnya dan nyata, yang selalu bersedia ada disampingmu kapan pun kamu mau.
Tapi bukan berarti aku tidak lagi membutuhkanmu. Kalau mau jujur, sosokmu aku tempatkan pada ruang hati yang khusus sudah sejak lama. Ah, barangkali ungkapan jujurku ini kedengarannya gombal, klise, dan murahan. Andai kamu bisa merasakannya, seperti itulah sesungguhnya aku. Aku terlanjur menyayangimu seperti aku menyayangi diriku sendiri. Aku sendiri tak mengerti dengan semua ini. Aku jadi chatter sudah lama banget, bertahun-tahun, tapi baru kali ini merasakan sebuah perasaan yang sukar diungkapkan dengan kata-kata. Perasaan yang barangkali hanya aku dan kamu yang bisa merasakan kenikmatannya.
Nice, kamu percaya takdir kan? Bila kamu seorang muslim yang baik, pasti optimis bahwa kasih sayang Allah begitu besar pada hamba-Nya, kamu tidak usah ragu pada hidup ini. Bila kita berjodoh, suatu saat kita akan bertemu jiwa dan raga, akan dipertemukan dalam keadaan sehat walafiat, sejauh mana pun jarak yang membentang antara negeriku dan negerimu. Tapi bila Allah berkata lain, kita harus rela dipisahkan selamanya. Dan itu berarti kamu akan dipertemukan dengan seseorang yang terbaik, yang bisa membahagiakanmu dunia dan akhirat.
Sekarang tenangkan dulu pikiranmu. Jangan bertindak dalam keadaan emosi yang tidak stabil. Bila sudah merasa baikan, kabari aku ya, Sayang.
Aku di Aussi, yang selalu sendiri.
Fauzi
Tanpa disadarinya dia sudah berurai air mata. Isi email itu begitu menyayat-nyayat perasaannya. Jadi apa yang harus dia lakukan selanjutnya bila Fauzi bersikap pasrah seperti itu? Apakah dia memilih menyenangkan hati ibunya atau memilih membahagiakan hati kekasih cybernya? Dia biarkan pikirannya tenggelam dalam kebingungan. Barangkali kepada sang waktulah dia berharap jawabannya. Apakah dia bisa sepasrah Fauzi dalam menjalani hidup ini? Sang waktu jualah yang akan memberi kepastian.
Bersambung ...
|
terimakasih atas kunjungan anda
|
|
0 komentar:
Posting Komentar