;

love bagian 8


Akiko Acellia 23 Agustus jam 15:25 Balas Laporkan
LOVE Bagian 8

Untuk pertemuan pertama, mereka menghabiskan waktu di rumah saja, dan tak begitu lama, hanya dua jam. Kedatangan Dzulfikar ke Bandung dalam rangka menghadiri seminar yang diselenggarakan oleh universitas tempatnya bekerja pada siang hari ini di sebuah wisma di daerah Lembang. Dan laki-laki itu menyempatkan diri mampir ke rumah seorang Dewi Rengganis. Katanya malamnya Bang Zul ini akan segera kembali ke Jakarta.

Tugas pertamaku sudah kulaksanakan dengan baik, Mama. Katanya dalam hati.

Sepeninggal tamunya itu, dia bergegas menghampiri mobilnya, untuk kemudian meluncur menuju sebuah warnet yang sudah menjadi langgananya bila dia sedang tak ada jadwal mengajar. Dia sudah tak sabar ingin “bertemu” dengan pujaan hatinya. Entah kenapa, sejak malam tadi hati dan pikirannya tak bisa lepas dari bayangan pria yang pasti sekarang sedang menunggunya di YM.

Kebetulan siang ini tak begitu banyak pengunjung warnet, sehingga suasananya cukup tenang. Dia memilih kursi dan komputer nomer dua, karena sudah hapal betul, komputer itulah yang paling bisa diandalkan, tak pernah menimbulkan masalah selama digunakan. Dari komputer operator terdengar alunan lembut suara Ebiet G. Ade menyanyikan lagu yang liriknya seperti ini,

Mengapa dadaku mesti berguncang
bila kusebutkan namamu…
sedang kau diciptakan
bukanlah untukku
itu pasti
tapi aku tak mau peduli…
sebab cinta bukan mesti bersatu…
biar kucumbui bayangmu…
dan kusandarkan harapanku…

Lagu itu cukup mempengaruhi jiwanya. Suara khas Ebiet yang merdu mendayu-dayu membuat hatinya tak menentu, sendu dan pilu jadi satu.
Baru menyentuh komputer saja dadanya sudah lebih dulu berdebar. Begitu dahsyatkah pengaruh cintanya pada pria yang sampai detik ini belum juga memperlihatkan wajahnya? Dalam hal ini tepat sekali pepatah yang mengatakan, bahwa cinta itu buta. Sedangkan pepatah lain yang mengatakan bahwa cinta berawal dari mata turun ke hati, tidak berlaku untuk kasus dirinya ini. Perasaannya pada pria misterius itu sudah sampai pada level “siapa pun Fauzi, dia tak peduli”.

Pernah suatu hari laki-laki ini menceritakan keadaan dirinya yang sebenarnya. Waktu itu Fauzi memberi tahu bahwa dia punya masalah dengan kaki kirinya. Karena sebuah kecelakaan lalu lintas, tulang tempurung di lutut kirinya diganti dengan metal dan plastik. Mengetahui hal itu, sama sekali hatinya tak berubah, malah kasih sayangnya pada lelaki itu berlipat-lipat. Dan kiranya dia pun tak akan mempermasalahkan, apakah wajah Fauzi itu bulat, oval, kotak, atau berbentuk jajaran genjang. Bahkan andai tak berwujud pun, Fauzi untuknya tetap sangat berarti.

Dalam waktu singkat jendela mayanya sudah terbuka lebar. Seperti biasa PM-nya penuh dengan message offline dari seseorang. Seseorang yang tak kenal lelah merindukannya siang dan malam.
“Uzi sayang… apa kabar?” Dia mendahului menyapa pria itu.
“Hi, Nice. Kemana saja? Sudah baca message offline-ku semua? Seperti itulah keadaan hatiku saat ini. Dan aku…sedang kurang sehat.”
“Kenapa? Sakit apa, Sayang?”
“Biasa, penyakit yang dulu kambuh lagi.”
“Ya ampun Uzi, kalau rumah kita deketan, pasti sekarang aku ajak kamu berobat ke dokter.”
“Thanks, Honey, aku masih kuat berobat sendiri.”
“Emangnya sakit apa? Ada problem lagi dengan knee replacement?”
“Bukan. Kata dokter tekanan darahku naik lagi. Terus hasil diagnosis terakhir, katanya aku mengidap diabetes. Tapi don’t worry, sudah makan obat kok.”
“Aduh aku harus gimana dong? Kasihan banget Uzi sayang !” Ikon yang sedang menangis mewakili keadaan hatinya.
“Selama aku masih bisa chatting, jangan khawatir :) .”
“Oh ya, gimana kabar tentang sang pangeran yang mau ketemu kamu itu?” Pertanyaan pria itu dengan tiba-tiba menodongnya.
“Mmm…nggak tahu, nggak ada kabarnya. Barangkali orang itu masih sibuk, belum sempat bertemu aku.” Dia nekad berbohong, demi orang yang disayanginya sepenuh hati. Bagaimana mungkin dia menceritakan semuanya ketika kondisi kesehatan Fauzi sedang melemah seperti sekarang ini. Meskipun di dalam e-mail Fauzi pernah berbicara panjang lebar bahwa dirinya pasrah menerima baik buruknya takdir, tapi hati kecilnya bisa jadi berkata lain.
“Aku do’akan, semoga kamu bahagia seandainya terlaksana hidup bersama laki-laki itu. Sungguh dia seorang pria yang sangat beruntung, bisa bertemu kamu atas izin dan keridhoan ibumu.”
“Uzi, lebih baik kita ngobrol masalah yang lain saja!” Pintanya.
“Kenapa? Aku kan harus memberimu spirit. Aku rasa pilihan ibumu itu sangat tepat. Jangan pernah menolak. Asal kamu tahu, Nice, bila kamu bahagia, aku pun ikut bahagia.”
“Lebih baik kita berbicara masalah kita saja yu. Aku ingin Uzi lebih memperhatikan kesehatan Uzi sendiri. Jangan melulu memikirkan aku. Percayalah, aku tetaplah aku, yang selalu setia menemuimu di YM. Tak akan ke mana-mana. Paling bolak-balik antara sekolah, rumah, dan kadang-kadang ke warnet seperti sekarang.” Hari ini dia benar-benar ingin menghibur kekasih cyber-nya. Dalam bayangannya, muka Fauzi kelihatan pucat, badannya lemas tak bergairah.
“Oh ya, hati-hati dengan makanannya dan juga jangan lupa minum obatnya.”
“Terima kasih atas perhatiannya, Neng. Tapi aku akan berterima kasih lagi bila kamu menuruti segala kehendak ibumu.” Jawab pria itu.
“Apa maksudmu Uzi? Kenapa omongannya muter lagi ke situ? Udah dibilangin aku nggak suka!!”
“Tapi kamu harus cepat mengambil keputusan, Sayang. Jangan sampai terlambat. Hidupmu terlalu berharga untuk disia-siakan seperti aku.”
Dari kalimat yang diketik Fauzi barusan, dia menangkap sesuatu yang buruk sedang berkecamuk dalam diri kekasihnya itu. Sepertinya Uzi sedang badmood. Nada bicaranya apatis. Apa semua itu gara-gara aku pernah curhat tentang calon yang diajukan Mama padaku? Atau karena memang kondisi badan Uzi sedang tidak baik? Hatinya begitu khawatir dengan keadaan ini. Lalu dia berniat mengakhiri percakapannya hari ini. Kalau tidak, seperti hari-hari sebelumnya, suka terjadi missunderstanding, dan ujung-ujungnya pasti berantem.
“Uzi, dengan berat hati aku off duluan ya. Ada sesuatu yang harus aku beli sekarang juga. Aku harap kamu tidak berpikir yang buruk-buruk tentang aku. Sampai hari ini, tidak ada yang berubah dalam diri dan jiwaku.” Tak ingin menunggu jawaban dari pria di seberang sana, dia langsung sign out. Dia berharap esok hari kondisi Fauzi sudah membaik dan fresh lagi, serta muncul lagi karakter aslinya: senang bercanda juga suka tertawa lepas.

Bersambung ...


focus berita handphone, laptop, gadget, tablet, computer

darwys - 22.21
terimakasih atas kunjungan anda

0 komentar:

Posting Komentar