;

Memberi orang suatu harapan


Angela Lin 06 November jam 17:10 Balas Laporkan
Ketika saya sedang berjalan-jalan santai dengan suami saya disebuah pusat bisnis, pramuniaga dari berbagai perusahaan menyodorkan brosur yang warna-warni dari berbagai merk.

Suami saya berpura-pura tidak melihat dan tidak mau menerima brosur atau selebaran yang disodorkan oleh para pramuniaga tersebut. Sedangkan saya setiap disodorkan pasti menerimanya, sepanjang jalan saya telah menerima banyak sekali brosur-brosur tersebut.

“Untuk apa brosur itu, mengapa kamu suka sekali mengumpulkan brosur?” Ujar suami saya melihat tumpukan brosur di tangan saya dan kemudian mengomeli saya.

“Saya bukan tertarik kepada brosur-brosur ini, saya hanya memberi mereka sebuah harapan. Hanya kumpulan masyarakat yang mempunyai harapan yang bisa menciptakan kota yang bersemangat hidup,” Jawabku.

"Mengambil brosur menciptakan semangat hidup?" Ejek suami saya.

“Menerima ini belum tentu berguna untuk kita, tapi bagi mereka, membagikan selembar brosur/selebaran berarti mungkin bisa mendapatkan seorang atau lebih pelanggan, saya menerima selebaran ini tidak memerlukan tenaga, memberi sedikit semangat, perhatian dan senyuman kemungkinan bisa menciptakan kesuksesan seseorang,” dengan rasa percaya diri saya menyakinkan suami saya.

Pada saat ini, dari depan kami seorang gadis sedang berjalan ke arah kami kemudian menyodorkan selembar flyer kartu nama, suami saya dengan nada tidak senang dan raut muka masam menolaknya.

Dia terkejut sebentar tetapi dengan cepat dia dengan semangat berkata,

” Dapatkah memberi saya sebuah kesempatan? Saya hanya memerlukan waktu 1 menit saja sudah cukup.”

“Saya tidak peduli,” jawab suami saya dengan dingin.

“Coba kita dengarkan sebentar, paling sedikit kita bisa memberi dia sebuah kesempatan untuk menjelaskan,” ujar saya kepada suami.

Pramuniaga tersenyum tanda terima kasih dan berkata,

"Terima kasih, jika ingin mempunyai tubuh yang sehat tentu harus berolah raga, saya dengan gembira mengundang bapak dan ibu menyisakan sedikit waktu untuk datang dan relaks ke pusat kebugaran kami, paling sedikit disana dapat menikmati suasana yang ceria dan penuh vitalitas.”

Setelah berkata demikian dia menyodorkan selembar kartu namanya, berkata lagi,

“kalian tidak saja memberi saya kesempatan menjelaskan, juga memberi saya sebuah kepercayaan diri, terima kasih atas bantuan kalian.”

Perkataannya yang tulus membuat suami saya terharu, dan ia berkata,

”Kami sebetulnya sedang mencari sebuah pusat kebugaran, saran anda sungguh bagus, kami akan pergi kesana jika sudah ada kesempatan,” ujar suami saya sambil mengambil kartu nama yang disodorkan pemuda ini.

Ketika kami sudah menjauh, saya bertanya kepada suami saya,

"Apakah engkau benar-benar akan pergi?”

Suami saya menjawab,

“Belum tentu, saya hanya memberi dia sebuah harapan.” Setelah itu kami saling bertatapan dan tersenyum dengan tulus.


focus berita handphone, laptop, gadget, tablet, computer

darwys - 17.42
terimakasih atas kunjungan anda

0 komentar:

Posting Komentar