Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut Tuhan daripadamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu? Mikha 6:8, “
Wanita,…..sebuah pernikahan yang dibangun di atas cinta yang menggebu, di atas komitmen yang begitu kuat sekalipun, bila tidak dijaga,dipelihara, dan dipupuk dengan cinta kasih, akan hancur secara perlahan. Oleh karena itu kita perlu tau dan mengenali masalah atau hal apa saja yang membuat pernikahan menjadi rentan akan kehancuran
Berikut beberapa masalah atau hal berbahaya yang bisa menggerogoti dan menghancurkan hidup pernikahan kita.
Pertama, harapan yang tidak realistis.
Seperti cinta romantis ala dongeng pengantar tidur, Cinderella, Putri Salju, Beauty and the
Beast, yang selalu berakhir indah. Seakan-akan pernikahan isinya melulu kebahagiaan. Tanpa masalah. Hanya ada keajaiban. Penuh bunga. Kemesraan yang tidak pernah berlalu.
Padahal, jelas tidak begitu kan. Pernikahan tidak melulu berisi
bunga. Kadang juga berisi kerikil. Atau, kalau pun berisi bunga;
bunga bangkai berduri. Jadi sudah bangkai, berduri pula. Pernikahan juga tidak selalu berselimut kemesraan. Kadang juga ada kebosanan, tangisan, keruwetan.
Kedua, berkurangnya sikap saling mengerti.
Kesalahan kecil, bisa bikin ledakan emosi mahahebat. Herannya, waktu pacaran pengertian bisa terjembatani begitu mulus. Berjalan dengan begitu kuat. Tapi setelah menikah, tingkat pengertian kerap bagai terjun bebas ke titik nadir. Toleransi menjadi rendah sesudah menikah.
Waktu pacaran, kakinya doi terantuk batu saja langsung heboh. Seolah mendadak ada gempa bumi. Kaki doi dipijit, diusap-usap, disayang-sayang. Keadaan bisa terbalik 180 derajat setelah menikah. “Matamu ke mana sih?”
Ketiga, berkurangnya tekad untuk mempertahankan pernikahan.
Menganggap pernikahan seolah sesuatu yang sekali pakai lalu buang. Berantem dikit, pengen cerai. Kesal dikit, bilangnya, “Sudah deh, kembalikan aku ke rumah orang tuaku!” Bila badai mengguncang biduk rumah tangga, kita lekas putus asa. Enggak punya daya juang untuk mempertahankan. Gampang menyerah.
Lalu bagaimana kita menangani masalah-masalah ini,
sehingga pernikahan kita tetap kokoh dan kuat?
Sobat Wanita,…..bangunlah sikap positif!
Konteks ayat diatas menceritakan umat Tuhan yang sudah terjebak dalam ibadah yang legalistis. Tuhan ingin umat-Nya itu tidak hanya terpaku pada aturan-aturan formal keagamaan, tapi juga memperhatikan hidup sehari- hari.
Namun, ayat ini juga bisa dikenakan dalam konteks hidup pernikahan, khususnya dalam masalah-masalah diatas, untuk lebih berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan rendah hati, dengan pasangan
Adil artinya, apa yang kita ingin pasangan kita lakukan kepada kita, lakukan lebih dahulu kepadanya. Kalau kita ingin pasangan kita menghargai kita, hargailah ia lebih dulu. Kalau kita ingin pasangan kita bersikap baik kepada kita, bersikap baiklah lebih dulu kepada ia, dan seterusnya.
Mencintai kesetiaan, teguh pada janji, komit dengan tanggung jawab. Enggak suka nyeleweng, lalu cari-cari alasan pembenaran. Setia kepada sesama, setia kepada Tuhan. Kesetian harus dimulai dari perkara-perkara sederhana.
“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara- perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” (Lukas 16:10). Jadi jangan harap kita bisa setia dalam hidup pernikahan kita, kalau janji mau jalan-jalan bersama saja, misalnya, kerap diingkari.
Rendah hati tumbuh dari kesadaran bahwa kita membutuhkan pasangan kita. Kita ini seumpama burung dengan satu sayap. Pasangan kita punya sebelah sayap yang lain. Kita hanya bisa terbang kalau menggunakan kedua sayap tersebut.
Rendah hati juga berarti, kesediaan untuk meminta maaf, kalau salah. Kesediaan memberi maaf dan memahami bahwa pasangan kita pun bisa khilaf.
Rendah hati juga membuat mulut kita ringan dan tulus mengucapkan terima kasih dan memuji.
Wanita,…semoga pernikahan Anda menjadi Bahagia Selalu!! AMIN
Wanita,…..sebuah pernikahan yang dibangun di atas cinta yang menggebu, di atas komitmen yang begitu kuat sekalipun, bila tidak dijaga,dipelihara, dan dipupuk dengan cinta kasih, akan hancur secara perlahan. Oleh karena itu kita perlu tau dan mengenali masalah atau hal apa saja yang membuat pernikahan menjadi rentan akan kehancuran
Berikut beberapa masalah atau hal berbahaya yang bisa menggerogoti dan menghancurkan hidup pernikahan kita.
Pertama, harapan yang tidak realistis.
Seperti cinta romantis ala dongeng pengantar tidur, Cinderella, Putri Salju, Beauty and the
Beast, yang selalu berakhir indah. Seakan-akan pernikahan isinya melulu kebahagiaan. Tanpa masalah. Hanya ada keajaiban. Penuh bunga. Kemesraan yang tidak pernah berlalu.
Padahal, jelas tidak begitu kan. Pernikahan tidak melulu berisi
bunga. Kadang juga berisi kerikil. Atau, kalau pun berisi bunga;
bunga bangkai berduri. Jadi sudah bangkai, berduri pula. Pernikahan juga tidak selalu berselimut kemesraan. Kadang juga ada kebosanan, tangisan, keruwetan.
Kedua, berkurangnya sikap saling mengerti.
Kesalahan kecil, bisa bikin ledakan emosi mahahebat. Herannya, waktu pacaran pengertian bisa terjembatani begitu mulus. Berjalan dengan begitu kuat. Tapi setelah menikah, tingkat pengertian kerap bagai terjun bebas ke titik nadir. Toleransi menjadi rendah sesudah menikah.
Waktu pacaran, kakinya doi terantuk batu saja langsung heboh. Seolah mendadak ada gempa bumi. Kaki doi dipijit, diusap-usap, disayang-sayang. Keadaan bisa terbalik 180 derajat setelah menikah. “Matamu ke mana sih?”
Ketiga, berkurangnya tekad untuk mempertahankan pernikahan.
Menganggap pernikahan seolah sesuatu yang sekali pakai lalu buang. Berantem dikit, pengen cerai. Kesal dikit, bilangnya, “Sudah deh, kembalikan aku ke rumah orang tuaku!” Bila badai mengguncang biduk rumah tangga, kita lekas putus asa. Enggak punya daya juang untuk mempertahankan. Gampang menyerah.
Lalu bagaimana kita menangani masalah-masalah ini,
sehingga pernikahan kita tetap kokoh dan kuat?
Sobat Wanita,…..bangunlah sikap positif!
Konteks ayat diatas menceritakan umat Tuhan yang sudah terjebak dalam ibadah yang legalistis. Tuhan ingin umat-Nya itu tidak hanya terpaku pada aturan-aturan formal keagamaan, tapi juga memperhatikan hidup sehari- hari.
Namun, ayat ini juga bisa dikenakan dalam konteks hidup pernikahan, khususnya dalam masalah-masalah diatas, untuk lebih berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan rendah hati, dengan pasangan
Adil artinya, apa yang kita ingin pasangan kita lakukan kepada kita, lakukan lebih dahulu kepadanya. Kalau kita ingin pasangan kita menghargai kita, hargailah ia lebih dulu. Kalau kita ingin pasangan kita bersikap baik kepada kita, bersikap baiklah lebih dulu kepada ia, dan seterusnya.
Mencintai kesetiaan, teguh pada janji, komit dengan tanggung jawab. Enggak suka nyeleweng, lalu cari-cari alasan pembenaran. Setia kepada sesama, setia kepada Tuhan. Kesetian harus dimulai dari perkara-perkara sederhana.
“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara- perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” (Lukas 16:10). Jadi jangan harap kita bisa setia dalam hidup pernikahan kita, kalau janji mau jalan-jalan bersama saja, misalnya, kerap diingkari.
Rendah hati tumbuh dari kesadaran bahwa kita membutuhkan pasangan kita. Kita ini seumpama burung dengan satu sayap. Pasangan kita punya sebelah sayap yang lain. Kita hanya bisa terbang kalau menggunakan kedua sayap tersebut.
Rendah hati juga berarti, kesediaan untuk meminta maaf, kalau salah. Kesediaan memberi maaf dan memahami bahwa pasangan kita pun bisa khilaf.
Rendah hati juga membuat mulut kita ringan dan tulus mengucapkan terima kasih dan memuji.
Wanita,…semoga pernikahan Anda menjadi Bahagia Selalu!! AMIN
|
|
darwys
| terimakasih atas kunjungan anda |
|


0 komentar:
Posting Komentar