Bahwa wanita harus mandiri, dia setuju. Tapi apabila wanita wajib melahirkan anak dari rahimnya sendiri, dia pikir-pikir dulu untuk mengatakan setuju. Jika perempuan seperti dirinya tak kunjung dipercaya oleh Yang Maha Kuasa untuk melahirkan manusia walaupun hanya seorang, apa mau dikata? Satu-satunya yang bisa dia lakukan, berusaha menerima kenyataan. Biarlah tak sempat melahirkan, asal hidupku yang sebenarnya singkat ini bisa lebih bermakna tanpa keturunan, banyak yang harus kulakukan selain melulu memikirkan masalah yang satu ini, pikirnya menghibur diri.
Semula hatinya merasa yakin, dialah satu-satunya wanita yang paling beruntung, bisa bersanding dengan pria pujaan gadis-gadis pada masanya, serta pendamping hidupnya ini sangat sayang dan penuh perhatiaan terhadapnya. Rasanya lengkaplah sudah kebahagiaannya pada waktu itu. Tapi kemudian, setelah keduanya meniti tangga kehidupan asmara dan berhasil mencapai pelaminan, muncul tuntutan sang pujaan. Dia harus memberinya momongan. Setelah perkawinanya lewat beberapa tahun, dalam penantian yang menggelisahkan, dia tak kunjung merasakan adanya tanda-tanda kehamilan. Sebenar-benarnya dia tak berniat membuat kecewa suami kesayangan, karena masalah itu di luar kekuasaannya, tapi kenyataannya suaminya memang merasa dikecewakan.
Dia pernah berjuang keras mewujudkan impian suami untuk bisa mempersembahkan buah cinta, darah dagingnya. Dia banyak membaca berbagai referensi tentang kehamilan, melaksanakan tips-tips untuk bisa hamil, baik yang tradisional maupun yang boleh dibilang modern, terapi pijat pun pernah ia lakukan. Tapi impian suami sekaligus impiannya itu betul-betul hanya sebuah impian. Sejak itu bahtera rumah tangganya oleng. Perahu pun karam ke dasar lautan kehidupan bersama cinta yang telah lama dibina bersama. Suami berani memilih lagi, memilih perempuan yang bisa diharapkan mampu menghadirkan keturunan.
Hanya dengan alasan itu suaminya berpaling? Begitulah, hanya dengan alasan seperti itu. Sadarlah sekarang, dia bukanlah perempuan terpilih seperti anggapannya selama ini. Dia memang kalah, dikalahkan dalam hidup oleh rivalnya yang tentu saja sesama perempuan.
Kalah! Sebuah kata yang melahirkan rasa pesimis. Dan kata itu cukup besar mempengaruhi jiwanya. Kekalahan telah membentuk perasaannya untuk tidak percaya pada laki-laki. Siapa pun laki-laki itu. Tak terkecuali ayahnya sendiri. Mungkinkah masih tersisa rasa percaya pada ayahnya yang telah bertahun-tahun mencampakkan ibu dan dirinya hanya karena seseorang yang lebih cantik dan lebih muda dari ibunya? Rasa percaya pada kaum Adam sudah tak bersisa. Apalagi sampai hari ini ayahnya masih seperti dulu, tak ada niat memperbaiki hubungan sebagai ayah dan anak dengannya yang sudah terlanjur putus, dan semakin merenggang jaraknya. Ternyata pada umumnya laki-laki akan memilih dan tunduk pada wanita yang menang, menang dalam berkompetisi dengan sesama kaumnya.
Karena kekalahan lah kehidupannya jadi porak poranda. Andai dulu ibunya bisa memenangkan persaingan, andai waktu itu dirinya berhasil menghadirkan anak sebagai buah cinta dia dan suami dalam rumahnya, andai waktu itu dia mempunyai kelebihan dalam segala hal dari rival yang telah merebut suaminya, dan berbagai andai-andai lainnya, mungkin hidup ini terasa begitu indah dan menyenangkan untuk dijalani dan dikenang.
Sebagian kolega yang bersimpati pada nasibnya berpendapat, bahwa suaminya hanya mengkambinghitamkan kemandulannya untuk lari darinya. Bisa jadi begitu. Tapi apa pun alasan yang sebenarnya, nasib sudah membawanya pada lanjutan cerita hidup seperti sekarang ini. Kenyataannya sekarang dia sudah tercampakkan! Persis seperti ibunya dulu. Semacam reinkarnasi. Bedanya, ibunya mampu melahirkan dirinya, meskipun tetap saja tak bisa menghindar dari kekalahan.
Menurutnya hidup ini semata-mata perjuangan yang tidak pernah selesai. Tuntas masalah yang satu, masalah lain di depan sana segera menghadang. Terkadang, setelah berjuang keras pun jika takdir menentukan lain, keberuntungan tak pernah dapat kita raih. Terpikir kembali olehnya, jika dia dianugrahi anak pun, belum tentu permasalahan hidupnya yang rumit-rumit berakhir sampai di situ. Di sini manusia hanya bisa bersabar.
Untung sampai detik ini logikanya masih berfungsi normal. Masih bisa berpikir jernih. Sebaiknya aku tidak boleh lagi menyerah meskipun kalah dan kalah dalam episode hidup berikutnya, tekadnya. Secercah harapan yang kadang mampu membangkitkan semangat hidupnya datang dari orang-orang yang masih membutuhkannya, seperti ibunya, murid-muridnya, dan beberapa teman dekatnya di dunia maya.
Teman dekat di dunia maya? Ya, rupanya dia hanya percaya pada pria-pria cyber, percaya bahwa pria-pria ideal hanya ada di dunia digital, pria-pria yang bisa dijadikan tokoh imajinasi sekehendak hatinya. Pria-pria yang tak akan banyak menuntut seperti layaknya pria di dunia nyata. Setidak-tidaknya itu menurut pendapatnya sendiri yang telah malang melintang menjelajah dunia yang unik itu. Pada detik ini pun dia sudah bersiap-siap berselancar di internet, memasuki dunia imajinasi, dunia di mana orang-orang yang wujud fisiknya entah di mana, menyapanya dengan akrab.
Kebetulan suasana di lab komputer sudah sepi. Teman-temannya lebih dulu meninggalkannya sendirian di ruangan, seperti sengaja memberi kesempatan padanya untuk leluasa mengumbar hayalan. Layar komputer di meja kerja yang sejak satu jam yang lalu dibiarkan menampilkan landscape secara slide show dia hampiri. Tangan kananya meng-klik internet explorer, karena berniat membuka e-mail yang sudah empat hari tidak dibukanya. Setelah itu krusornya diarahkan pada icon Yahoo Messenger. Jari-jarinya mengetik username dan password dengan cepat. Beruntung, kali ini jaringan internet sedang tak ada gangguan. Tidak lama menunggu, folder menu utama miliknya di YM sudah tampil. Tapi sayang, teman-teman cyber yang selalu mengajaknya bercanda sedang tidak online. Semuanya.
Lalu dia tatap id seseorang yang juga sama sedang tidur nyenyak alias offline. Tak apalah yang lainnya off, asal dia saja yang OL hari ini. Plissss….kamu OL dong…..!! pintanya penuh harap. Aneh, tiba-tiba id itu menyala, id yang ber-nickname fauzi2003. Mungkin ini satu kebetulan yang membahagiakan. Ya Tuhan, kenapa setiap id dia menyala perasaanku selalu berubah menjadi kacau? Ada apa dengan aku pada hari ini dan hari-hari sebelumnya? Gumamnya.
Tiba-tiba muncul sebuah folder baru persis di depan matanya.
“Hallo Dear, apa kabar?” fauzi2003 lebih dulu menyapa dirinya yang masih merasakan sesuatu yang aneh dalam dadanya.
Dengan girangnya dia menjawab sapaan itu. “Hai juga, alhamdulillah, aku lagi fit hari ini. Dan kamu?”
“Aku lagi kedinginan di sini, Darling…”
“Pake mantel yang tebal atuh, atau nyalakan api di tungku!”
“Sudah, tapi nggak bisa membuatku jadi hangat. Badanku boleh hangat, tapi hatiku tetap saja menggigil…”
“Busyet, dia nyindir aku,” gerutunya pula. Tak disadarinya jari-jarinya sudah mengetik kalimat seperti ini, “Kalo gitu sama dong, I’m lonely too.”
“Masa? Kok bisa sama ya….orang kesepian ketemu orang kesepian jadinya apa coba?” Pria di seberang sana itu menggodanya dengan sebuah teka-teki.
“Ya dua orang kesepian. Satu tambah satu kan sama dengan dua.”
“Salah! Satu pria kesepian ditambah satu wanita kesepian jadi seorang anak, hahaha….” Kata si pria sambil tertawa puas.
Dia terkejut saat membaca kalimat terakhir yang diketik lawan bicaranya itu. Serasa ada yang menonjok ulu hatinya. Anak? Dia selalu merasa tidak nyaman dengan kata “anak”. Bukankah kekalahan dalam hidupnya selama ini karena masalah anak!
“Buzzzzzzzzzz…..,” fauzi2003 seperti tak sabar menunggu balasan kelakarnya.
Dia jadi tidak berselera meneruskan chatting-nya. Dia biarkan fauzi2003 berkali-kali membunyikan suara “ding!” Ah mau buka e-mail saja. Biarkan laki-laki di seberang sana itu kebingungan sendiri dengan sikapku, katanya dalam hati.
“Ding!!”
“Hallo, are you still there?”
Dia sama sekali enggan membalas message itu, lalu memutuskan untuk menutup folder YM-nya. Klik…klik….id female_39 sign out. Sekarang dia lebih berkonsentrasi pada e-mali-e-mail yang masuk. Matanya terpaku pada e-mail dari seseorang. Lagi-lagi e-mail dari fauzi2003. Diam-diam hatinya senang juga, sebab isinya sudah pasti menghibur. Karakter Fauzi memang humoris, meskipun tak jarang membuat dia kesal.
Dear female di Indonesia,
Sudah bisa dipastikan, kamu pasti kangen padaku. Ya kan? Hayoh ngaku!
Kalo nggak, biar aku aja yang terus terang, boleh ya?
Entah kenapa, aku selalu khawatir bila kamu lama nggak online. Ke mana saja selama empat hari ini? Tahu nggak, badanku hampir berlumut menunggumu. Tak ada email, tak ada tulisan baru di blog-mu. Kamu ternyata bisa juga menyiksaku seperti ini.
Ini aku sudah berjujur ria. Kapan kamu mau jujur cerita tentang hatimu?
Miss U,
Fauzi
***
Bersambung ...
Semula hatinya merasa yakin, dialah satu-satunya wanita yang paling beruntung, bisa bersanding dengan pria pujaan gadis-gadis pada masanya, serta pendamping hidupnya ini sangat sayang dan penuh perhatiaan terhadapnya. Rasanya lengkaplah sudah kebahagiaannya pada waktu itu. Tapi kemudian, setelah keduanya meniti tangga kehidupan asmara dan berhasil mencapai pelaminan, muncul tuntutan sang pujaan. Dia harus memberinya momongan. Setelah perkawinanya lewat beberapa tahun, dalam penantian yang menggelisahkan, dia tak kunjung merasakan adanya tanda-tanda kehamilan. Sebenar-benarnya dia tak berniat membuat kecewa suami kesayangan, karena masalah itu di luar kekuasaannya, tapi kenyataannya suaminya memang merasa dikecewakan.
Dia pernah berjuang keras mewujudkan impian suami untuk bisa mempersembahkan buah cinta, darah dagingnya. Dia banyak membaca berbagai referensi tentang kehamilan, melaksanakan tips-tips untuk bisa hamil, baik yang tradisional maupun yang boleh dibilang modern, terapi pijat pun pernah ia lakukan. Tapi impian suami sekaligus impiannya itu betul-betul hanya sebuah impian. Sejak itu bahtera rumah tangganya oleng. Perahu pun karam ke dasar lautan kehidupan bersama cinta yang telah lama dibina bersama. Suami berani memilih lagi, memilih perempuan yang bisa diharapkan mampu menghadirkan keturunan.
Hanya dengan alasan itu suaminya berpaling? Begitulah, hanya dengan alasan seperti itu. Sadarlah sekarang, dia bukanlah perempuan terpilih seperti anggapannya selama ini. Dia memang kalah, dikalahkan dalam hidup oleh rivalnya yang tentu saja sesama perempuan.
Kalah! Sebuah kata yang melahirkan rasa pesimis. Dan kata itu cukup besar mempengaruhi jiwanya. Kekalahan telah membentuk perasaannya untuk tidak percaya pada laki-laki. Siapa pun laki-laki itu. Tak terkecuali ayahnya sendiri. Mungkinkah masih tersisa rasa percaya pada ayahnya yang telah bertahun-tahun mencampakkan ibu dan dirinya hanya karena seseorang yang lebih cantik dan lebih muda dari ibunya? Rasa percaya pada kaum Adam sudah tak bersisa. Apalagi sampai hari ini ayahnya masih seperti dulu, tak ada niat memperbaiki hubungan sebagai ayah dan anak dengannya yang sudah terlanjur putus, dan semakin merenggang jaraknya. Ternyata pada umumnya laki-laki akan memilih dan tunduk pada wanita yang menang, menang dalam berkompetisi dengan sesama kaumnya.
Karena kekalahan lah kehidupannya jadi porak poranda. Andai dulu ibunya bisa memenangkan persaingan, andai waktu itu dirinya berhasil menghadirkan anak sebagai buah cinta dia dan suami dalam rumahnya, andai waktu itu dia mempunyai kelebihan dalam segala hal dari rival yang telah merebut suaminya, dan berbagai andai-andai lainnya, mungkin hidup ini terasa begitu indah dan menyenangkan untuk dijalani dan dikenang.
Sebagian kolega yang bersimpati pada nasibnya berpendapat, bahwa suaminya hanya mengkambinghitamkan kemandulannya untuk lari darinya. Bisa jadi begitu. Tapi apa pun alasan yang sebenarnya, nasib sudah membawanya pada lanjutan cerita hidup seperti sekarang ini. Kenyataannya sekarang dia sudah tercampakkan! Persis seperti ibunya dulu. Semacam reinkarnasi. Bedanya, ibunya mampu melahirkan dirinya, meskipun tetap saja tak bisa menghindar dari kekalahan.
Menurutnya hidup ini semata-mata perjuangan yang tidak pernah selesai. Tuntas masalah yang satu, masalah lain di depan sana segera menghadang. Terkadang, setelah berjuang keras pun jika takdir menentukan lain, keberuntungan tak pernah dapat kita raih. Terpikir kembali olehnya, jika dia dianugrahi anak pun, belum tentu permasalahan hidupnya yang rumit-rumit berakhir sampai di situ. Di sini manusia hanya bisa bersabar.
Untung sampai detik ini logikanya masih berfungsi normal. Masih bisa berpikir jernih. Sebaiknya aku tidak boleh lagi menyerah meskipun kalah dan kalah dalam episode hidup berikutnya, tekadnya. Secercah harapan yang kadang mampu membangkitkan semangat hidupnya datang dari orang-orang yang masih membutuhkannya, seperti ibunya, murid-muridnya, dan beberapa teman dekatnya di dunia maya.
Teman dekat di dunia maya? Ya, rupanya dia hanya percaya pada pria-pria cyber, percaya bahwa pria-pria ideal hanya ada di dunia digital, pria-pria yang bisa dijadikan tokoh imajinasi sekehendak hatinya. Pria-pria yang tak akan banyak menuntut seperti layaknya pria di dunia nyata. Setidak-tidaknya itu menurut pendapatnya sendiri yang telah malang melintang menjelajah dunia yang unik itu. Pada detik ini pun dia sudah bersiap-siap berselancar di internet, memasuki dunia imajinasi, dunia di mana orang-orang yang wujud fisiknya entah di mana, menyapanya dengan akrab.
Kebetulan suasana di lab komputer sudah sepi. Teman-temannya lebih dulu meninggalkannya sendirian di ruangan, seperti sengaja memberi kesempatan padanya untuk leluasa mengumbar hayalan. Layar komputer di meja kerja yang sejak satu jam yang lalu dibiarkan menampilkan landscape secara slide show dia hampiri. Tangan kananya meng-klik internet explorer, karena berniat membuka e-mail yang sudah empat hari tidak dibukanya. Setelah itu krusornya diarahkan pada icon Yahoo Messenger. Jari-jarinya mengetik username dan password dengan cepat. Beruntung, kali ini jaringan internet sedang tak ada gangguan. Tidak lama menunggu, folder menu utama miliknya di YM sudah tampil. Tapi sayang, teman-teman cyber yang selalu mengajaknya bercanda sedang tidak online. Semuanya.
Lalu dia tatap id seseorang yang juga sama sedang tidur nyenyak alias offline. Tak apalah yang lainnya off, asal dia saja yang OL hari ini. Plissss….kamu OL dong…..!! pintanya penuh harap. Aneh, tiba-tiba id itu menyala, id yang ber-nickname fauzi2003. Mungkin ini satu kebetulan yang membahagiakan. Ya Tuhan, kenapa setiap id dia menyala perasaanku selalu berubah menjadi kacau? Ada apa dengan aku pada hari ini dan hari-hari sebelumnya? Gumamnya.
Tiba-tiba muncul sebuah folder baru persis di depan matanya.
“Hallo Dear, apa kabar?” fauzi2003 lebih dulu menyapa dirinya yang masih merasakan sesuatu yang aneh dalam dadanya.
Dengan girangnya dia menjawab sapaan itu. “Hai juga, alhamdulillah, aku lagi fit hari ini. Dan kamu?”
“Aku lagi kedinginan di sini, Darling…”
“Pake mantel yang tebal atuh, atau nyalakan api di tungku!”
“Sudah, tapi nggak bisa membuatku jadi hangat. Badanku boleh hangat, tapi hatiku tetap saja menggigil…”
“Busyet, dia nyindir aku,” gerutunya pula. Tak disadarinya jari-jarinya sudah mengetik kalimat seperti ini, “Kalo gitu sama dong, I’m lonely too.”
“Masa? Kok bisa sama ya….orang kesepian ketemu orang kesepian jadinya apa coba?” Pria di seberang sana itu menggodanya dengan sebuah teka-teki.
“Ya dua orang kesepian. Satu tambah satu kan sama dengan dua.”
“Salah! Satu pria kesepian ditambah satu wanita kesepian jadi seorang anak, hahaha….” Kata si pria sambil tertawa puas.
Dia terkejut saat membaca kalimat terakhir yang diketik lawan bicaranya itu. Serasa ada yang menonjok ulu hatinya. Anak? Dia selalu merasa tidak nyaman dengan kata “anak”. Bukankah kekalahan dalam hidupnya selama ini karena masalah anak!
“Buzzzzzzzzzz…..,” fauzi2003 seperti tak sabar menunggu balasan kelakarnya.
Dia jadi tidak berselera meneruskan chatting-nya. Dia biarkan fauzi2003 berkali-kali membunyikan suara “ding!” Ah mau buka e-mail saja. Biarkan laki-laki di seberang sana itu kebingungan sendiri dengan sikapku, katanya dalam hati.
“Ding!!”
“Hallo, are you still there?”
Dia sama sekali enggan membalas message itu, lalu memutuskan untuk menutup folder YM-nya. Klik…klik….id female_39 sign out. Sekarang dia lebih berkonsentrasi pada e-mali-e-mail yang masuk. Matanya terpaku pada e-mail dari seseorang. Lagi-lagi e-mail dari fauzi2003. Diam-diam hatinya senang juga, sebab isinya sudah pasti menghibur. Karakter Fauzi memang humoris, meskipun tak jarang membuat dia kesal.
Dear female di Indonesia,
Sudah bisa dipastikan, kamu pasti kangen padaku. Ya kan? Hayoh ngaku!
Kalo nggak, biar aku aja yang terus terang, boleh ya?
Entah kenapa, aku selalu khawatir bila kamu lama nggak online. Ke mana saja selama empat hari ini? Tahu nggak, badanku hampir berlumut menunggumu. Tak ada email, tak ada tulisan baru di blog-mu. Kamu ternyata bisa juga menyiksaku seperti ini.
Ini aku sudah berjujur ria. Kapan kamu mau jujur cerita tentang hatimu?
Miss U,
Fauzi
***
Bersambung ...
|
|
darwys
| terimakasih atas kunjungan anda |
|


1komentar:
awal dari rasa cinta.......
Posting Komentar