LOVE Bagian 17
Malam ini adalah malam yang membuatnya begitu resah. Sebentar-sebentar dia terbangun dari tidurnya, terganggu oleh kegelisahannya sendiri. Dia jadi takut menghadapi hari-hari yang terbentang di hadapannya. Andai dia punya kuasa menghindari hari esok dan melompat ke masa depan, barangkali malam ini juga dia akan segera melakukannya.
Dia tak bisa memprediksi, apa yang akan terjadi esok hari.
Apa yang akan dilakukan Dzulfikar dan Fauzi dalam menyelesaikan persoalan mereka bertiga ini? Apakah keduanya akan bersikukuh pada prinsipnya masing-masing, mempertahankan apa yang menurut mereka berdua adalah haknya? Atau setelah terjadi perdebatan sengit akan ada salah seorang yang rela mengalah memberikan apa yang menjadi haknya pada rivalnya?
Bila dipikir-pikir, dia tak berbeda dengan sebuah benda, benda yang tak berdaya, layaknya sebuah mainan yang menjadi rebutan dan permainan pria yang ingin memainkannya. Ia benci pada dirinya sendiri, yang begitu bodohnya membiarkan dirinya menjadi pemicu perseteruan dua orang laki-laki. Dalam skenario kehidupan ini, kenapa harus dia yang menjalani peran sebagai sumber gara-gara bersitegangnya dua pria itu?
Pagi ini dia mencoba mengawali kegiatannya dengan berpikir positif, bahwa semuanya akan terselesaikan dengan baik. Dia ingin pertemuannya dengan kedua orang yang telah berkenan memberi warna pada kehidupannya adalah pertemuan yang memberinya banyak hikmah. Dan dia ingin merayakan pertemuan ini dengan menghidangkan jamuan lezat pagi hari. Makanan apa ya yang menjadi menu favorit Zul dan Uzi? Dia ingin membuat jamuan yang simple, tapi bisa memuaskan kedua tamunya.
Kemudian dia masih ingat, di sela-sela chatting-nya dulu, Fauzi suka bercerita tentang makanan kesukaannya. Dan makanan khas Sunda yang disukai dan dirindukan Uzi selama berada di Aussi adalah kupat tahu. Sedangkan Zul lebih suka lontong kari. Pagi ini dia akan menghidangkan keduanya. dia membeli ketupat yang sudah jadi dari penjual yang sudah terkenal akan kelezatan rasa ketupatnya, sedangkan sayur dan yang lain-lainnya dia masak sendiri.
Detik-detik yang mendebarkan itu akhirnya tiba juga. Dia sudah siap dengan semuanya, dengan jamuan simple-nya, dan dengan penampilannya yang lain dari biasanya. Dia mengenakan gaun yang terbaik untuk menghormati kedua tamunya. Harapannya, sambutan yang dipersiapkannya sedemikian rupa ini bisa meredakan keegoisan kedua laki-laki itu.
Yang lebih dulu tiba di rumahnya adalah Dzulfikar. Wajahnya tampak serius, seperti sedang berpikir tentang sesuatu yang sangat penting.
“Bagaimana kabarnya anak-anak, Bang?” Barangkali dengan bertanya seperti itu dia bisa sedikit menyenangkan hati dan mengurangi keseriusan pria ini.
“Alhamdulillah, mereka baik. Kelihatannya mereka senang waktu melihat fotomu, keduanya antusias ingin cepat bertemu dengan Mama Anis.” Kata Dzulfikar sambil tersenyum.
“Dan komentar mereka?” Dia jadi penasaran dibuatnya.
“Kata mereka, kamu sepertinya seorang mama yang ideal. Tapi Si Sulung sempat bertanya, galak nggak ya Pa calon mama baru itu?” Kata Zul sambil menatapnya, seolah ingin menyelami perasaannya saat ini. Dan dia yang ditatap, hanya tersenyum.
“Lalu aku bilang sama anak-anakku, Mamamu itu curang, suka nyuruh Papa bersaing sama orang lain, padahal dia sendiri tidak mau disaingin!” Kata Dzukfikar lagi.
Dia sangat paham, kali ini Zul menyindirnya. Lalu dia segera memberi jawaban, “Itu bukan kehendakku, Bang. Tapi mungkin memang sudah suratan takdir kita harus menghadapi persoalan ini. Mengertilah, semua ini di luar dugaanku.” Katanya penuh harap, meminta pengertian Dzukfikar atas kehadiran Fauzi yang tiba-tiba itu di tengah-tengah mereka. Dan Dzulfikar tak sempat menjawab kembali perkataannya, karena di luar terdengar suara deru mobil. Sebuah taksi berhenti tepat di depan pagar rumahnya. Terlihat dari kaca jendela ruang depan, Fauzi turun dari taksi itu dan berjalan menuju tempat di mana dia dan Dzulfikar sudah menunggunya.
Ketika sudah berada di hadapannya, apa yang Fauzi perbuat terhadapnya di depan Dzulfikar? Laki-laki itu menghampirinya dan mengecup keningnya. Akh, dasar Fauzi! Dia jadi kesal, tidak bisakah pria itu bersikap wajar dengan menahan barang sebentar sikap romantisnya itu? Atau mungkin Uzi sengaja melakukannya di depan Zul sebagai sebuah tantangan? Tapi tampaknya Zul tenang-tenang saja. Pria yang satu ini paling jago menjaga sikap dan menyembunyikan perasaannya.
“Bang Zul, kenalkan, ini Uzi. Dia datang dari tempat yang jauh.” Katanya, dengan hati yang teramat sangat khawatir, khawatir Zul dan Uzi akan melakukan tindakan saling menyinggung perasaan.
“Uzi, ini Bang Zul, yang pernah saya ceritakan waktu itu.” Katanya lagi.
Mereka berdua bersalaman sambil menyebutkan nama masing-masing. Entahlah, apa yang terjadi dalam lubuk hati mereka pada menit-menit ini. Dia sama sekali tidak bisa menebaknya. Yang tampak dari air muka keduanya, mereka tengah serius, tak ada senyum, tak ada basa-basi yang bisa mencairkan suasana.
Dia yakin keduanya belum sempat sarapan pagi di tempat masing-masing. Lalu dia mengajak kedua pria itu menikmati hidangan yang telah disediakan. Tapi tampaknya kedua pria itu, termasuk dirinya, kurang berselera. Selama menyantap makanan di piring masing-masing tak saling berkata-kata, bisa jadi semuanya tengah asyik memikirkan susunan dan bentuk bahasa yang akan dikemukakan, dalam rangka menyelesaikan urusan yang teramat pribadi ini. Suasana di ruang makan jadi tegang dan beku. Dia sengaja membiarkan kedua pria itu tenggelam dalam pikirannya sendiri-sendiri.
Bersambung ...
Malam ini adalah malam yang membuatnya begitu resah. Sebentar-sebentar dia terbangun dari tidurnya, terganggu oleh kegelisahannya sendiri. Dia jadi takut menghadapi hari-hari yang terbentang di hadapannya. Andai dia punya kuasa menghindari hari esok dan melompat ke masa depan, barangkali malam ini juga dia akan segera melakukannya.
Dia tak bisa memprediksi, apa yang akan terjadi esok hari.
Apa yang akan dilakukan Dzulfikar dan Fauzi dalam menyelesaikan persoalan mereka bertiga ini? Apakah keduanya akan bersikukuh pada prinsipnya masing-masing, mempertahankan apa yang menurut mereka berdua adalah haknya? Atau setelah terjadi perdebatan sengit akan ada salah seorang yang rela mengalah memberikan apa yang menjadi haknya pada rivalnya?
Bila dipikir-pikir, dia tak berbeda dengan sebuah benda, benda yang tak berdaya, layaknya sebuah mainan yang menjadi rebutan dan permainan pria yang ingin memainkannya. Ia benci pada dirinya sendiri, yang begitu bodohnya membiarkan dirinya menjadi pemicu perseteruan dua orang laki-laki. Dalam skenario kehidupan ini, kenapa harus dia yang menjalani peran sebagai sumber gara-gara bersitegangnya dua pria itu?
Pagi ini dia mencoba mengawali kegiatannya dengan berpikir positif, bahwa semuanya akan terselesaikan dengan baik. Dia ingin pertemuannya dengan kedua orang yang telah berkenan memberi warna pada kehidupannya adalah pertemuan yang memberinya banyak hikmah. Dan dia ingin merayakan pertemuan ini dengan menghidangkan jamuan lezat pagi hari. Makanan apa ya yang menjadi menu favorit Zul dan Uzi? Dia ingin membuat jamuan yang simple, tapi bisa memuaskan kedua tamunya.
Kemudian dia masih ingat, di sela-sela chatting-nya dulu, Fauzi suka bercerita tentang makanan kesukaannya. Dan makanan khas Sunda yang disukai dan dirindukan Uzi selama berada di Aussi adalah kupat tahu. Sedangkan Zul lebih suka lontong kari. Pagi ini dia akan menghidangkan keduanya. dia membeli ketupat yang sudah jadi dari penjual yang sudah terkenal akan kelezatan rasa ketupatnya, sedangkan sayur dan yang lain-lainnya dia masak sendiri.
Detik-detik yang mendebarkan itu akhirnya tiba juga. Dia sudah siap dengan semuanya, dengan jamuan simple-nya, dan dengan penampilannya yang lain dari biasanya. Dia mengenakan gaun yang terbaik untuk menghormati kedua tamunya. Harapannya, sambutan yang dipersiapkannya sedemikian rupa ini bisa meredakan keegoisan kedua laki-laki itu.
Yang lebih dulu tiba di rumahnya adalah Dzulfikar. Wajahnya tampak serius, seperti sedang berpikir tentang sesuatu yang sangat penting.
“Bagaimana kabarnya anak-anak, Bang?” Barangkali dengan bertanya seperti itu dia bisa sedikit menyenangkan hati dan mengurangi keseriusan pria ini.
“Alhamdulillah, mereka baik. Kelihatannya mereka senang waktu melihat fotomu, keduanya antusias ingin cepat bertemu dengan Mama Anis.” Kata Dzulfikar sambil tersenyum.
“Dan komentar mereka?” Dia jadi penasaran dibuatnya.
“Kata mereka, kamu sepertinya seorang mama yang ideal. Tapi Si Sulung sempat bertanya, galak nggak ya Pa calon mama baru itu?” Kata Zul sambil menatapnya, seolah ingin menyelami perasaannya saat ini. Dan dia yang ditatap, hanya tersenyum.
“Lalu aku bilang sama anak-anakku, Mamamu itu curang, suka nyuruh Papa bersaing sama orang lain, padahal dia sendiri tidak mau disaingin!” Kata Dzukfikar lagi.
Dia sangat paham, kali ini Zul menyindirnya. Lalu dia segera memberi jawaban, “Itu bukan kehendakku, Bang. Tapi mungkin memang sudah suratan takdir kita harus menghadapi persoalan ini. Mengertilah, semua ini di luar dugaanku.” Katanya penuh harap, meminta pengertian Dzukfikar atas kehadiran Fauzi yang tiba-tiba itu di tengah-tengah mereka. Dan Dzulfikar tak sempat menjawab kembali perkataannya, karena di luar terdengar suara deru mobil. Sebuah taksi berhenti tepat di depan pagar rumahnya. Terlihat dari kaca jendela ruang depan, Fauzi turun dari taksi itu dan berjalan menuju tempat di mana dia dan Dzulfikar sudah menunggunya.
Ketika sudah berada di hadapannya, apa yang Fauzi perbuat terhadapnya di depan Dzulfikar? Laki-laki itu menghampirinya dan mengecup keningnya. Akh, dasar Fauzi! Dia jadi kesal, tidak bisakah pria itu bersikap wajar dengan menahan barang sebentar sikap romantisnya itu? Atau mungkin Uzi sengaja melakukannya di depan Zul sebagai sebuah tantangan? Tapi tampaknya Zul tenang-tenang saja. Pria yang satu ini paling jago menjaga sikap dan menyembunyikan perasaannya.
“Bang Zul, kenalkan, ini Uzi. Dia datang dari tempat yang jauh.” Katanya, dengan hati yang teramat sangat khawatir, khawatir Zul dan Uzi akan melakukan tindakan saling menyinggung perasaan.
“Uzi, ini Bang Zul, yang pernah saya ceritakan waktu itu.” Katanya lagi.
Mereka berdua bersalaman sambil menyebutkan nama masing-masing. Entahlah, apa yang terjadi dalam lubuk hati mereka pada menit-menit ini. Dia sama sekali tidak bisa menebaknya. Yang tampak dari air muka keduanya, mereka tengah serius, tak ada senyum, tak ada basa-basi yang bisa mencairkan suasana.
Dia yakin keduanya belum sempat sarapan pagi di tempat masing-masing. Lalu dia mengajak kedua pria itu menikmati hidangan yang telah disediakan. Tapi tampaknya kedua pria itu, termasuk dirinya, kurang berselera. Selama menyantap makanan di piring masing-masing tak saling berkata-kata, bisa jadi semuanya tengah asyik memikirkan susunan dan bentuk bahasa yang akan dikemukakan, dalam rangka menyelesaikan urusan yang teramat pribadi ini. Suasana di ruang makan jadi tegang dan beku. Dia sengaja membiarkan kedua pria itu tenggelam dalam pikirannya sendiri-sendiri.
Bersambung ...
|
|
darwys
| terimakasih atas kunjungan anda |
|


0 komentar:
Posting Komentar