Ketika dia dan kedua tamunya kembali ke ruang tamu, Dzulfikarlah yang lebih dulu membuka “forum perdebatan” ini.
“Saya sebagai wakil dari tuan rumah, mempersilahkan anda untuk memulai menjelaskan tentang kedatangan anda ke Indonesia,” Zul memulai percakapan, langsung ke pokok permasalahan dengan tanpa basa-basi.
Semoga mereka mau berdamai, Ya Allah. Dan berilah aku kesiapan serta kekuatan dalam menghadapi kedua pria ini, doanya, dalam hati.
“Saya hanya memenuhi janji saya pada Nice, bahwa suatu saat saya akan datang ke Indonesia mengunjunginya bila Tuhan mengizinkan. Dan ternyata saya diperkenankan juga bertemu dengannya.” Jawab Fauzi dengan tenangnya.
“Dan tolong jelaskan juga alasan anda, kenapa ingin bertemu dengan saya. Rasanya saya tidak berkepentingan dengan anda. Di Bandung, saya hanya mengenal Nice, yang lain tidak!” Fauzi balik menodong Dzulfikar dengan pertanyaan seperti itu..
“Salah sekali bila anda beranggapan saya tak berkepentingan dengan anda. Anis adalah calon istri dan calon ibu anak-anakku. Saya berhak melindungi dan menjaganya dari siapa pun yang mencoba meracuni pikirannya. Dan pertemuan kita pagi ini sangat penting buat saya, saya bisa langsung mengatakan pada anda, jangan mengganggu hubungan kami yang hanya tinggal selangkah lagi menuju pelaminan.” Sikap Dzulfikar tak kalah tenangnya.
“Mana buktinya bahwa dia calon istri dan calon ibu anak-anak anda?” Tantang Fauzi.
“Sedangkan cincin yang melingkar di jarinya pun adalah pemberian saya!” Kata Fauzi lagi dengan mantapnya. Ih, kekanak-kanakan amat kamu, Uzi! Pikir si wanita. Lalu Dzulfikar menoleh pada jari manis tangan kiri si wanita.
“Itu bukanlah sesuatu yang bisa memperkuat sebuah hubungan. Sebuah cincin tidak bisa dijadikan bukti bertautnya antara dua perasaan. Cinta dan kasih sayang itu kan tak kasat mata, karena terdapat dalam hati sanubari masing-masing. Dengan begitu buktinya pun tak harus berwujud benda nyata.”
Bila acara debat kusir ini diteruskan, dipastikan akan tambah seru dan semakin menegangkan. Tapi tentu saja dia sebagai tuan rumah tak menghendaki adanya perseteruan yang semakin tajam. Dia segera melerai perdebatan itu.
“Aku mengundang kalian ke rumahku bukan untuk adu mulut, tapi untuk menyelesaikan sebuah persoalan. Bila kalian tidak bisa aku andalkan untuk menyelesaikannya, aku akan memanggil pihak lain, atasanku misalnya. Apakah kalian setuju bila sekarang juga aku akan memanggil Pak Susanto sebagai atasanku di sekolah untuk ikut melerai perdebatan ini? Tak ada sepotong jawaban pun dari kedua tamunya. Kesempatan ini dia gunakan untuk berbicara lagi.
“Kalian terlalu percaya pada diri masing-masing, sehingga lupa pada keberadaanku. Kalian tak memberiku kesempatan untuk bersuara menyampaikan pendapatku tentang persoalan ini. Asal kalian tahu, pada hari ini, dengan disaksikan oleh dua orang pria yang sama-sama egoisnya, aku tak akan pernah memilih siapa-siapa untuk teman hidupku selanjutnya.” Dia nekad membuat keputusan sepihak. Tapi jauh di dasar hatinya yang paling dasar, dia mengakui, bahwa sesungguhnya dia masih sangat mengasihi dan mengagumi kedua pria yang ada di hadapannya ini.
Tapi apa boleh buat, demi sikap adilnya pada keduanya, dia harus segera menentukan, ke arah mana kemudi kehidupan harus dikendalikan. Dia harus segera memilih arah dan jalan di antara banyak jalan yang terbentang, jalan menuju masa datang. Mungkin kedua pria ini terkejut dengan keputusan yang baru saja ia utarakan, mungkin juga tak percaya, tapi….ya seperti itulah sikap yang diambilnya demi sebuah keadilan.
”Kenapa kamu tak memilih salah satu di antara aku dan dia, Nice?” Tanya Fauzi, dengan air muka yang keheranan
“Karena aku tak mau berbuat tak adil pada kalian berdua.” Jawabnya.
“Tapi dengan bersikap seperti itu secara tak sadar kamu telah merugikan dirimu sendiri.” Dzulfikar menambahkan. Rupanya kedua pria itu lupa pada karakter keras kepalanya si wanita, masih saja mencoba memberi masukan.
“Tak masalah seberapa besar kerugianku, asal hati kalian terhindar dari ketidak adilanku.” Katanya lagi.
Fauzi dan Dzulfikar terdiam, keduanya baru tersadar, bahwa ternyata kelanjutan cerita hidup mereka sepenuhnya berada di tangan si wanita. Hitam putihnya warna kehidupan mereka selanjutnya tergantung kepada keputusan yang diambil si wanita pada hari ini.
Melihat kedua tamu prianya duduk tertegun, sebenarnya hantinya merasa sangat iba. Bagaimana pun kedua pria itu adalah manusia-manusia yang pernah begitu dekat dengan jiwa raganya, pernah mengisi hari-hari sepinya hingga dia menyadari bahwa hidup ini indah. Pada detik dan menit ini ingin rasanya dia memeluk mereka satu persatu secara bergantian, sebagai tanda bahwa cinta kasihnya pada mereka berdua begitu besar, dan tak akan pernah pudar. Tapi ia tak boleh melakukan itu. Dia harus tampak tegas dan tegar di mata mereka, agar mereka pun yakin bahwa dia bisa hidup senormal mungkin tanpa kehadiran mereka.
Dia pun tak boleh memberi kesempatan kepada Dzulfikar untuk mempertemukan anak-anaknya dengan dirinya, bisa-bisa keputusan yang dirasanya sudah adil ini dibatalkan hanya karena hatinya luluh serta terpesona oleh wajah-wajah suci anak-anak Zul.
“Aku juga membatalkan janjiku untuk bertemu dengan anak-anakmu, Bang. Sampaikan permintaan maafku yang sebesar-besarnya pada keduanya. Mohon maaf juga atas segala kesalahanku selama ini pada kalian. Terima kasih atas semua bantuannya yang sangat berharga, baik bantuan moral maupun material. Semoga Allah sajalah yang akan membalas kebaikan kalian. Selamat tinggal. Aku do’akan mudah-mudahan kalian segera menemukan seseorang yang kalian cari selama ini, yang tentu saja segala sesuatunya melebihi semua yang ada dalam diriku.” Dia berusaha untuk bersikap setegar mungkin dalam mengutarakan semua itu. Padahal, andai Zul dan Uzi tahu, hati kecilnya saat ini tengah menangis, menangis sejadi-jadinya, meratapi perpisahan ini. Senyatanya, pada hari ini dia merasakan ada sesuatu yang tercerabut dari dalam jiwanya. Bila dia diibaratkan sebentuk cincin indah bermata dua, dia adalah cincin yang kedua matanya itu lepas, terlempar begitu saja dari watang-nya.
Kedua tamunya terdiam begitu lama, merasa tak percaya pada semuanya. Peristiwa ini layaknya sebuah pertunjukan sandiwara yang baru menghadirkan lakon cerita dalam beberapa babak, tiba-tiba cerita berakhir begitu saja, karena ada salah seorang aktris yang mogok, tak mau melanjutkan permainan perannya di atas panggung. Dan pentas pun segera ditutup dengan layar.
Sebagai laki-laki, keduanya semakin meyakini bahwa seorang wanita adalah sebuah teka-teki yang tak ada jawabannya, sebuah misteri yang tak akan pernah terungkap kemisteriaannya. Tapi tak tercantum dalam prinsip hidup keduanya bahwa lelaki akan menyerah begitu saja. Semakin ditentang, semakin tertantang untuk bisa menyederhanakan rumitnya persoalan.
Seakan-akan pernah diadakan kesepakatan antara keduanya, persaingan dalam mendapatkan cinta seorang Dewi Rengganis pun akan mereka lanjutkan di babak berikutnya pada pertunjukan sandiwara selanjutnya, karena mereka berdua berpendapat bahwa sesungguhnya hidup itu adalah persaingan yang tak berkesudahan.***
The End
|
|
darwys
| terimakasih atas kunjungan anda |
|


0 komentar:
Posting Komentar