
Akhirnya malam ini dia bertemu juga dengan Fauzi. Laki-laki ini datang menemuinya dengan seikat symbol cinta di tangannya. Dia menerima mawar-mawar merah itu dengan bahagia, lalu dirangkainya dalam jembangan berbentuk hati. Dalam pandangannya, wajah dan penampilan Fauzi biasa saja. Raut mukanya menggambarkan kebersahajaan pribadinya. Tak ada yang dipersoalkan, dia sudah terlanjur suka dengan semua yang ada pada pria itu.
Tanpa sungkan Fauzi memeluknya dengan penghayatan yang dalam. Dia pun tak berdaya menolak dekapan kekasih yang sudah begitu lama dinantikan kehadirannya.
“Wujud asli Nice itu ternyata seperti ini, toh…” Pria itu bebisik di telinganya. Wajah si wanita merona dikarenakan rasa malu dan rindu yang menggebu.
“Ternyata mukaku ancur ya, Uzi?” Dia membalas berbisik di telinga pria itu. Masih di dalam hangatnya pelukan pria pujaan, dia menatap lekat-lekat wajah kekasihnya yang semakin mendekati wajahnya.
“Ancur apanya? Ancur lipstick-nya kali.” Saat ini wajah dan tubuh mereka berpadu tak berjarak. Seperti jiwa mereka yang sudah sejak lama lekat. Suasana jadi hening…sepi… sebab mereka tengah menikmati gelora rasa dengan bertautnya dua bibir, begitu lama…dan…lama… Bibirnya benar-benar tak kuasa menghindari lumatan bibir nakal kekasihnya. Tiba-tiba dia terbangun dari tidurnya. Terasa ada yang mendesak di bawah perutnya, ingin segera dikeluarkan. Dengan segera dia bangkit lalu tergesa-gesa masuk ke kamar kecil. Ah, ternyata adegan hangat yang baru saja ia alami hanyalah sebuah mimpi.
Sekembalinya dari toilet dia masih merenung-renung. Kok bisa ya malam ini aku mimpi bertemu dan kemudian berkencan dengan Fauzi. Gumamnya. Mungkin karena sejak dua hari ini dia terlalu konsen memikirkan dan mengkhawatirkan keadaan kekasihnya itu. Rasa sesal memenuhi rongga dadanya karena mimpinya tak sempat selesai. Lalu dia melirik jembangan bunga berbentuk hati yang ada di atas buffet, tak ada seikat mawar merah di situ. Sedih. Matanya melirik jam meja di samping vas bunga yang ternyata masih kosong itu, jarum pendeknya berada di posisi waktu tengah malam. Dia ingin meneruskan tidurnya dengan harapan mimpinya tadi bersambung ke episode atau jilid selanjutnya. Tapi selamat, sampai tiba pagi hari mimpi indahnya tak muncul lagi.
Tiba-tiba telepon genggamnya berdering. Sebuah pesan singkat khusus untuknya, dari pria yang baru beberapa hari dikenalnya, Dzulfikar.
“Selamat pagi, Anis. Apa kabar hari ini?”
“Alhamdulillah, saya sehat.”
“Belum berangkat ke sekolah, Bu Guru?”
“Sebentar lagi. Sekarang sedang sarapan.”
“OK. Kalau begitu, selamat menjalani aktifitas rutinnya. Good luck!”
Akh, basa-basi yang basi!!
Dia membalas kembali pesan itu dengan singkatnya, “Thanks.” Sebenarnya dia tak begitu suka basa-basi seperti itu, dirinya lebih suka kalimat yang sifatnya to the point, apalagi melalui SMS. Dia menyukai kalimat-kalimat yang singkat, padat, jelas, biar cepat tertangkap maksudnya dan cepat selesai urusannya, serta tidak akan menimbulkan salah tafsir. Kecuali bila ngobrol di cyber, itu lain lagi. Momen dan suasana di alam maya memang dikondisikan untuk berbasa-basi dalam rangka membuang waktu, mengusir sepi, dan membunuh rasa jenuh.
Andai bukan ibunya yang memperkenalkan dia pada pria itu, dari awal dia sudah terbirit-birit menjauh. Kehadiran seorang pria dengan sosok nyata tak dirasa penting untuknya. Tanpa pendamping pun, dia masih bisa makan, jajan, shopping, nge-net di warnet. Apa lagi?
Lalu bagaimana dengan masa tuanya jika dia panjang usia? Siapa yang akan mengurusnya jika bukan anak kandung dan saudara? Kan ada panti wreda. Semua tunjangan pensiunnya akan dia serahkan pada panti yang berbaik hati mengurusnya.
Tapi ternyata hidup ini tak sesederhana itu. Banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum mengambil satu keputusan. Sepertinya dia tidak boleh bersifat egois, harus patuh pada ibu, tunduk pada waktu, berbaik-baik sikap pada calon pendamping hidupnya nanti, dan sebagainya. Menjalani semuanya memang tampaknya melelahkan!
Untuk melupakan sejenak persoalan-persoalan yang akhir-akhir ini berdesakan memenuhi kepalanya, dia terjun lagi ke dunia cyber, menemui salah seorang chatter yang dalam mimpinya tadi malam telah sudi menyempatkan hadir. Tapi kemudian dia Kecewa berat. Id yang dituju tidak online. Kemana ya Uzi? Rasanya hari ini bukan hari kegiatannya di Islamic Centre. Atau ada acara mendadak? Hatinya tak berhenti bertanya-tanya. Anehnya lagi, tak seperti biasanya pria itu tak meninggalkan message offline di PM-nya. Hari ini YM-nya benar-benar sunyi dan membosankan. Ada sih beberapa teman yang OL yang sudah akrab juga dengannya, tapi semuanya cuma sekedar teman berbincang di kala senggang. Tak ada yang seistimewa pria itu. Di blog-nya pun tak ada postingan baru, artikel dan karya-karya yang ada basi semua.
Satu jam sudah berlalu. Dia memutuskan untuk tidak lagi menunggu, karena yang ditunggu tak kunjung muncul. Besoknya terjadi lagi seperti itu. Lusa dan hari-hari selanjutnya, sama. Tak ada lagi acara chatting mesra, tak ada lagi kegiatan berbalas e-mail, tak ada lagi diskusi di blog masing-masing secara bergantian. Dan dia enggan menulis e-mail walau hanya sekedar menanyakan keberadaan si pria saat ini, sebab bila e-malinya tak berbalas, malah akan membuat hatinyanya semakin kecewa. Sesungguhnya dia telah kehilangan jejak. Fauzi benar-benar tenggelam di lautan ketidakpastian.
Sebagai tanda bahwa dia masih setia, setiap hari tak bosan-bosannya mengecek keberadaan kekasihnya itu dengan membuka YM, e-mail dan blog. Id fauzi2003 tetap “tidur nyenyak”. Sempurnalah kemisteriusanmu, Fauzi! Katanya.
Yang dia khawatirkan adalah kondisi fisik Fauzi. Waktu chatting terakhir Fauzi sempat bercerita bahwa kesehatannya memburuk. Dia berdo’a untuk kesembuhan laki-laki itu, andai sekarang sedang dalam perawatan di rumah sakit.
Sejak menghilangnya orang terdekat setelah ibunya, jiwanya terasa hampa, merana. Hari-hari yang dilalui tak ubahnya seperi lembaran buku kosong yang warna kertasnya abu-abu. Kelam. Kegiatan chatting, surfing, maupun browsing sudah bukan kegiatan rutin lagi kali ini. Hanya sekali-sekali saja dia lakukan saat butuh referensi.
Bersambung ...
|
terimakasih atas kunjungan anda
|
|
0 komentar:
Posting Komentar