
Di hadapan Mama tersayang dia selalu ingin tersenyum, apa pun suasana hatinya pada saat ini. Dia membuang jauh-jauh semua rasa yang bisa merusak kemesraan dia dan ibunya malam ini. Dia berusaha tenang dan bijak menyikapi semuanya. Padahal di lubuk hatinya, di lubuk hatinya yang paling dalam, dia benar-benar kecewa dengan gagasan ibunya yang terkesan memaksakan kehendak itu.
“Ya nantilah, Anis pikir-pikir dulu.” Dia kembali tidur terlentang, masih memeluk guling kesayangan.
“Sampai kapan pikir-pikirnya? Sekarang sudah saatnya bertindak, sudah lewat waktu untuk pikir-pikir!” Desak ibunya.
“Ya harus dipikir dulu Mama, ini masalah hidup, bukan perkara gampang!” Akhirnya terungkap juga kekesalan hatinya.
“Mikirnya kamu itu suka kelamaan!” Bentak ibunya.
Akhirnya di hadapan ibunya dia cemberut juga.
“Sekarang begini, usahakan kamu bisa bertemu dulu dengan calonmu. Mama yakin, setelah kalian ketemu, ke sananya akan lancar-lancar saja.”
Dia terdiam, tak berniat sama sekali meneruskan acara bincang-bincangnya itu. Malam ini dia benar-benar merasa kehilangan kebebasan dalam menentukan pilihan hidup. Ibarat seekor burung dara yang sedang terbang lepas, tiba-tiba dipanggil tuannya untuk masuk kembali ke dalam sangkar.
Tapi dia sudah bisa menebak apa akibatnya jika menolak keinginan ibunya. Sesungguhnya, dia tak mau membuat orang yang paling istimewa dalam hatinya ini kecewa, sedih, dan marah padanya.
“Masalah ini kita tunda dulu, Anis sudah ngantuk banget nih Ma, besok kita lanjutkan lagi rapat pentingnya ya!” Suasana sedikit tegang, dia ingin mencairkannya dengan mencoba bercanda.
“Tapi awas, jangan memperumit masalah dengan banyak mikir, ntar rambut kamu rontok semua!”
“Ah, rontok juga nggak masalah, kan sekarang mah ada wig!” Katanya sambil cepat-cepat bersembunyi di balik selimut tebalnya, ingin segera mengakhiri percakapan yang menyebalkan ini. Seterusnya ibunya entah berbicara tentang apa lagi, sebab imajinasinya saat ini sedang melayang ke negeri seberang, “Ngomong-ngomong, lagi ngapain ya Fauzi? Sekarang waktu di Aussi kan sudah menjelang dini hari. Apa dia masih asyik bermimpi tentang aku? Atau malah pria itu sudah bangun dan sedang menyiapkan segala keperluan buat aktifitas rutinnya? Sayang sekali dia tidak bisa berkomunikasi langsung selain lewat YM. Laki-laki itu pantang mempublikasikan nomor telepon, alamat jelas rumahnya, apalagi wajah berikut suaranya. Seperti buronan saja!”
Pagi hari yang di nantikannya tiba juga. Dia bersemangat untuk mulai menjalani hari ini dengan setumpuk rencana. Rencana pertama, menghindar beberapa saat dari ibunya yang pasti akan bertanya lagi mengenai kesediaannya dipertemukan dengan seseorang. Kedua, mengulur-ngulur waktu untuk memberi jawaban sambil memikirkan jawaban yang tepat bila nanti ibunya bertanya lagi tentang sikapnya dalam menghadapi “calonnya” itu. Ketiga adalah rencana yang berkaitan dengan pekerjaannya. Untuk menyiasati jadwal mengajar yang padat agar tidak cepat penat, dia memilih metode resitasi untuk programnya hari ini. Kebetulan minggu kemarin kelas 9 B, C, dan G sudah diberi materi tentang adobe photo shop. Minggu ini tinggal mengetes para siswa melalui penugasan. Tentu saja dengan bimbingannya. Dia berusaha untuk tidak meninggalkan kelas tanpa alasan yang jelas.
Siangnya mau browsing. Dirinya selalu haus akan hal-hal baru yang berkaitan dengan profesinya. Menurutnya, guru jaman sekarang jangan kalah kreatif dan kalah inovatif oleh murid-muridnya. Jika seorang guru cuma bisa berteori dan cukup berpuas diri dengan ilmu yang dia dapatkan dulu di bangku kuliah, akan terlangkahi beberapa tahap oleh murid yang pandai dan bergairah dalam belajar. Apalagi anak-anak masa kini besar sekali rasa ingin tahunya. Dan itu modal dasar mereka dan salah satu faktor yang memudahkan para guru dalam merangsang minat dan kemampuan mereka pada salah satu bidang keilmuan. Sebagai contoh, di bidang IT, tak jarang mereka sudah lebih dulu mengetahui website tertentu dengan mencari informasi sendiri, baik melalui surfing maupun chatting dengan sesama remaja di internet. Coba tanya remaja-remaja pengguna aktif internet tentang Facebook, mereka akan menjelaskan website itu berikut seluk beluk yang ada di dalamnya dengan sangat fasih. Padahal dia sebagai guru belum pernah memperkenalkan website itu pada para siswanya. Di sisi lain fenomena ini sangat membantu para guru dalam mentransfer ilmu pada para siswa, di sisi lainnya lagi, bila kepribadian para siswa rapuh dan lalai, dampak negatif internet akan segera menyergap mereka. Berlimpahnya situs porno serta tindakan kriminal di cyber (cyber crime) adalah hal yang sewaktu-waktu akan menjadikan mereka sebagai korbannya. Barangkali tindakan preventif-nya ada pada orang tua dan guru yang harus memberikan semacam pembekalan kepada mereka, dengan memberikan rambu-rambu yang harus ditaati, serta berwanti-wanti agar mereka bersikap ekstra hati-hati.
Untuk dirinya pribadi pun internet telah memberikan banyak keuntungan plus kerugiannya sekaligus. Kerugian? Betul. Semenjak dia asyik dengan dunia cyber, dia merasa terisolir dari lingkungan sosialnya. Setiap hari dia lebih banyak berkutat di depan komputer, jarang berbaur dengan sahabat-sahabat maupun teman-teman seprofesi. Sehingga banyak sahabatnya yang sesekali mengajukan protes dan mencap dia sebagai orang yang sombong akhir-akhir ini. Dan kehilangan beberapa sahabat buat dia adalah sebuah kerugian. Tapi sampai saat ini dia belum menemukan satu solusi pun tentang bagaimana caranya keluar dari masalah tersebut, bagaimana caranya dia bisa hidup dengan damai dan adil pada sahabatnya di dua alam, alam nyata dan alam maya. Kadang-kadang dia berpikir, jika seperti itu masalahnya, berarti dia harus berguru pada hewan amphibi seperti katak dan sejenisnya. Kok bisa ya hewan-hewan itu hidup di dua alam tanpa ada yang protes? Atau siapa tahu kepada hewan-hewan itu pun banyak binatang lain yang menyebutnya sombong? Tapi…untuk sementara, biarlah dia dianggap sombong oleh teman-teman di dunia nyata, yang penting kegiatannya ini tidak pernah merugikan orang lain, pikirnya.
Dan kali ini dia kembali membuka jendela dunia mayanya, ingin segera menemui seseorang yang akhir-akhir ini sudah memproklamirkan diri menjadi…pacarnya. Ada beberapa message offline di PM-nya. Tak salah lagi semua pesan itu pasti dari si pria pemalu. Isi pesannya melulu tentang kerinduan pria itu padanya. Apakah semua ungkapan perasaan itu benar adanya? Keluar dari hati sanubarinya yang paling dalam? Dia tak peduli, apakah kata-kata itu kata-kata yang sesuai fakta atau hanya gombal belaka, rasanya tak perlu pembuktian.
Berdasarkan pengalamannya, sahabat-sahabat pria yang pernah singgah di hati dan menghiasi hari-harinya dengan bunga-bunga cinta datang dan pergi silih berganti. Ada yang sebelum pergi sempat pamit dulu, ada yang menghilang begitu saja. Sudah lumrah. Terlalu biasa. Barangkali si pria ini pun akan seperti itu, satu hari dengan tak disangka datang padanya dengan cinta, dan suatu saat, entah kapan, akan lenyap juga tanpa berita. Dan dia tak berhak menyalahkan siapa-siapa, karena semua itu terjadi bukan di alam fisik, tapi di alam imajinasi yang tak jelas batas-batas wilayahnya, atau memang sesungguhnya alam tersebut tanpa batas.
Bersambung ...
|
terimakasih atas kunjungan anda
|
|
0 komentar:
Posting Komentar