;

love bagian 4


Akiko Acellia 15 Agustus jam 14:39 Balas Laporkan
LOVE Bagian 4

Ternyata ibunya sudah menunggu di rumahnya. Pembantunya bilang ibunya sudah tiba di rumahnya sejak tadi siang. Ada rasa sesal, kenapa dia tidak diberi tahu dari awal tentang kedatangan tamu istimewanya ini. Pasti tadi dia tak akan berlama-lama di sekolah.
Kira-kira setengah tahun dia tak bertemu ibunya. Jarak Bandung-Jakarta memang tak begitu jauh, tapi kesibukanlah yang membuat jarak mereka seolah-olah sangat jauh. Ibunya adalah pengurus salah satu panti jompo di bilangan Kemayoran Jakarta. Untuk urusan yang tidak terlalu penting, ibunya tak pernah sengaja datang ke Bandung. Dia yang biasanya datang ke Jakarta saat libur panjang. Oleh karenanya dia merasa heran, kali ini Si Mama ada urusan apa gerangan? Yang membuatnya lebih heran lagi, ibunya tidak memberi kabar terlebih dahulu tentang kunjungannya ini, melalui SMS sekali pun. Seperti orang jaman dulu saja, di mana alat komunikasinya hanya berupa surat yang dititipkan melalui jasa pos yang penyampaiannya perlu waktu berhari-hari.

“Mamaaahhh….kok nggak ngasih kabar mau datang?” Dari garasi di samping rumahnya dia sudah berteriak, protes pada perempuan paruh baya yang sedang menunggunya sejak tadi siang itu.
“Takut mengganggu. Nanti pekerjaanmu nggak kelar-kelar,” kata ibunya setelah berhadapan dengan putri semata wayangnya itu.
“Minimal kasih tahu pake SMS, kek. Atau nyuruh Si Juju telepon ke sekolah!” Dia masih bernada protes.
“Sudah lah, Mama nggak mau bikin repot kamu.” Lalu ibunya melepas rasa kangen dengan mendekap buah hatinya erat-erat.
“Sudah makan? Instirahatnya sudah cukup? Pakai travel ya tadi?” Tanyanya sambil duduk di pinggir ibunya.
“Makan…sudah, istirahat…sudah, nyampe di rumah ini berkat jasa travel…terus mau tanya apa lagi?” Kata ibunya sambil tertawa.
“Nanya kok borongan gitu!”

Dia cuma tersenyum. Habis, hatinya sudah tak sabar, ingin mengetahui tujuan yang sebenarnya dari kunjungan ibunya ke Bandung ini.
Setiap dia berada di sisi ibunya, setiap itu pula hatinya merasa tentram. Seakan-akan dia kembali menjadi anak kecil yang ketika tidur harus dikelonin, ketika tiba waktunya makan harus disuapi. Tiba-tiba dirinya merasa sedang berada kembali di dunia anak-anak, di masa-masa di mana dia bebas bermain dan bertindak, terlepas dari persoalan orang dewasa yang rumit dan berat.

Obrolan akrab antara ibu dan anak berlanjut hingga ke tempat tidur, sambil bernostalgia mengenang hari-hari yang membahagiakan yang pernah dilaluinya berdua, dan berusaha melupakan hari-hari yang berisi pahit getirnya kehidupan yang pernah dijalaninya bersama-sama juga.
“Apa obsesi kamu yang sampai saat ini merasa belum tercapai?” Pertanyaan ibunya yang satu ini membuatnya heran. Selama ini ibunya lah yang selalu menganjurkan untuk belajar menerima apa adanya dalam segala hal, baik itu nasib, rejeki, dan keaadaanya yang seperti ini. Dan sekarang ibunya bertanya tentang obsesi? Obsesi pada hal apa?
“Nggak ada, Ma. Aku sudah merasa cukup senang dengan apa yang ada!” Jawabnya.
“Apa tidak ingin seperti orang lain?”
“Maksud Mama?” Dia menatap ibunya lekat-lekat, ingin segera tahu, rahasia apa yang ada di balik pertanyaan ibunya itu. Feelingnya menangkap isyarat, bahwa ada sesuatu yang sedang dipendam di hati ibunya. Dia bangkit dari posisi badannya yang tidur terlentang. Lalu duduk bersila sambil memeluk guling menghadap ibunya yang masih terlentang menatap langit-langit kamar yang putih bersih.

“Kamu nggak bisa terus menerus hidup sendiri seperti ini. Wanita harus punya pendamping, untuk kemudian mendapat keturunan. Lalu hidup berbahagia besama keluarga, baik keluarga kecil maupun keluarga besar, yaitu keluarga yang terdiri dari saudara-saudara dari pihak ibumu dan suamimu. Bicara masalah anak, meskipun terbilang beresiko tinggi untuk melahirkan pada usiamu sekarang ini, tapi banyak yang mampu dan masih bisa mendapat keturunan. Makanya harus secepatnya berumah tangga lagi. Jangan cepat berputus asa. Kita hanya wajib berusaha, tercapai tidaknya semua keinginan kita adalah urusan Yang Maha Kuasa. Tolong, jangan sia-siakan hidupmu ini, Nak!” Giliran ibunya yang menatap wajahnya lekat-lekat.

Sejenak dia terdiam. Dia merasa tak yakin pada ucapan ibunya. Bahkan dia meragukan daya simak telinganya sendiri. Jangan-jangan telinganya sudah berkurang kepekaannya sehingga terdapat kesalahan dalam menyimak. Lalu bila ternyata kupingnya tak salah dengar, sejak kapan ibunya mempunyai gagasan seperti ini? Kemarin-kemarin beliau tenang-tenang saja tak pernah usul yang aneh-aneh. Kenapa tiba-tiba malam ini menyuruhnya merubah gaya hidup menyendiri yang sudah lumayan lama ia jalani.

Ibunya berkata lagi, “Sebenarnya masalah pendamping nggak usah susah-susah dicari, tinggal kamu bilang mau, besok pun dia bisa datang jika diundang ke sini. Orang nya baik, supel, intelek, pekerja yang ulet, dan lumayan ganteng.”
Omongan ibunya yang ini juga tak kalah mengagetkannya. Semudah itukah ibunya ingin merubah hidup dirinya? Dan begitu beraninya menawarkan seorang calon pendamping yang belum tentu cocok dengan seleranya? Masalah si cowok yang katanya baik, supel, intelek, pekerja yang ulet, dan lumayan ganteng, itu masalah selera ibunya. Rasanya dia tidak pernah dan tak ingin berpikir tentang semua karakter laki-laki yang hidup di dunia nyata. Dia merasa tak berkepentingan dengan semua itu.
Ada apa dengan ibunya? Ada motif apa dibalik semua usul ibunya yang terasa mendadak ini? Tak merasa khawatirkah anaknya kelak disia-siakan untuk kedua kalinya oleh menantunya, seperti bapaknya dulu yang mengecewakan dua orang wanita sekaligus, menyia-nyiakan dia dan ibunya? Tak takutkah pengalaman buruk beliau berulang menimpa anaknya?

Melihat dia diam seribu bahasa, ibunya berkata lagi. “Kalau memang kamu merasa malu untuk menjawab setuju, lalu menyerahkan semuanya pada Mama, pasti urusannya akan beres. Calonmu itu sudah lama lho menunggu saat yang tepat untuk berkenalan denganmu. Mama juga sudah kepingin banget gendong cucu, cucu yang cantik kaya Mamanya.”

Ketika dia berusaha untuk menjelaskan terlebih dahulu keaadaan hatinya pada saat ini yang masih jauh untuk diajak ke arah itu, ibunya sudah menyela lagi, “Ingat Nak, Mama, juga kamu itu perempuan, mahluk lemah, suatu saat butuh bantuan pria sebagai penanggung jawab kehidupan kita. Mama sudah bosan hidup seperti ini, melakukan apa-apa sendirian, capek, lelah!”

Bersambung ...


focus berita handphone, laptop, gadget, tablet, computer

darwys - 22.30
terimakasih atas kunjungan anda

0 komentar:

Posting Komentar