;

love bagian 2


Akiko Acellia 15 Agustus jam 2:06 Balas Laporkan
LOVE Bagian 2

Sejenak dia tertegun, Apa-apaan sih Fauzi ini? Kenapa to the point amat tentang perasannya padaku? Apa dia cuma bercanda? Tapi…kalau dipikir-pikir…sebenarnya aku juga seperti itu, hehe… Fauzi, aku pun mau jujur pada diri sendiri, bahwa aku juga sama, selalu khawatir bila kamu offline berhari-hari, hatiku sering mengalami rindu berat. Tapi…ups, sorry aja ya bila harus to the point gitu bilang secara langsung padamu. Perempuan itu tak boleh blak-blakan, harus lantip kata orang Sunda. Orang bijak bilang, bila perempuan cantik telanjang, hilanglah kecantikannya. Aku sih memang bukan perempuan cantik, tapi aku pun nggak mau telanjang, katanya masih dalam hati.
Dia mencoba me-reply e-mail itu. Jari-jarinya menari-nari di atas keyboard, bibirnya tersenyum, membayangkan wajah Fauzi yang kegirangan saat menerima balasan e-mailnya nanti. Membayangkan wajah yang diciptakannya sendiri, karena sahabatnya yang nun jauh di sana itu tak pernah menampakkan muka, dalam bentuk foto sekali pun.

Dear fauzi di Aussi yang lagi mengigil.
Aku senang menerima e-mailmu. Tapi aku nggak bisa jujur padamu. Tentang semua yang tersimpan dalam hatiku, adalah secret! Apa perlunya kamu tau. Kecuali bila kamu sudi memperlihatkan wajahmu yang handsome itu. Selama kamu bersembunyi, selama itu pula aku akan bungkam tentang kata hatiku.

Miss U too

Female.

Lalu dia cepat-cepat meng-klik tombol send di e-mailnya, dalam hitungan detik emailnya sudah terkirim. Untuk hari ini dia merasa sudah cukup surfing-nya, sekujur tubuhnya terasa lelah, seharian membimbing murid-murid membuat power point. Badannya butuh dopping dan istirahat. Sudah terbayang di kelopak matanya sofa yang lembut dan secangkir kopi panas yang pasti sudah disediakan pembantunya sedang menunggu di rumahnya. Di jalan raya yang sudah mulai sepi, dia memacu Chevrolet-nya dengan kencang.

***

Akhir-akhir ini seperti ada cairan semangat mengalir dalam darahnya. Entah dari mana sumbernya, dia sendiri tak tahu. Yang jelas, belakangan ini dia merasa bergairah dalam bekerja, optimis dalam memandang hari esok. Rasa jenuh karena dua tahun lamanya hidup menyendiri perlahan mulai berkurang, digantikan oleh rasa senang, lebih tepatnya bahagia, karena setiap hari bertemu dengan orang-orang yang menurutnya menyenangkan.

Seperti hari ini. Di tengah suara gaduh anak-anak di lab komputer, dia tatap wajah muridnya satu persatu. Mereka adalah mahluk-mahluk yang membuatku seakan-akan orang yang paling dibutuhkan di dunia ini, pikirnya. Di ruangan ini seolah-olah dialah primadonanya, para siswa baik laki-laki maupun perempuan, selalu ingin dia dampingi apabila mereka menemukan masalah dengan komputernya. Terkadang dia kewalahan menghadapi pertanyaan dan permintaan mereka. Dia tatap wajah cantik Septi, siswa kelas 3 A ini sedang tekun mengamati layar monitor. Dia menyukai anak itu, karena selain cantik dan berkerudung, pandai pula. Seandainya pernikahannya dulu sempat dianugrahi anak, mungkin sudah sebesar anak-anak ini. Dia tatap pula wajah Radinal yang sedang asyik mengetik. Andai dulu dia sempat melahirkan, dan anaknya itu laki-laki, mungkin seperti Radinal lah wajahnya, tampan, pintar, dan kalem.

“Bu, kenapa ya krusornya menghilang?” Seorang murid membuyarkan lamunannya.
“Mana?” Dia bangkit dari kursi. “Oh, itu komputernya hang, tunggu saja sampai normal kembali. Lho, kok kamu malah chatting, mana tugasnya?” Kata dia dengan nada kesal.
“Belum, Bu. Komputernya keburu hang!” Anak itu berdalih.
“Coba semua dengarkan dulu!” Dia bertepuk tangan beberapa kali, berusaha menghentikan suara ribut para siswa yang kebingungan dengan tugasnya. Waktu matanya melirik ke sudut ruangan, terlihat dua anak sedang cakar-cakaran.
“Hei, Doni, Arif di mana-mana selalu bercanda! Sudah selesai belum membuat e-mailnya?”
“Ini Bu Si Arif, menggangu terus!” Anak yang dipanggil Doni membela diri.
“Pekerjaanmu sudah selesai, Arif?”
“Belum, Bu. Gagal terus registrasinya.”
“Makanya harus konsentrasi dulu pada tugas-tugasmu. Sekarang bukan saatnya untuk main-main. Cepat. Waktunya tinggal 20 menit lagi!
“Buuu….Si Rian mah malah main game! Teriak seorang anak lagi. Ditimpali oleh teriakan anak-anak yang lain yang mengolok-ngolok murid bernama Rian itu.
“Perhatikan sekali lagi, dilarang chatting dan main game, ini lab untuk belajar, bukan warnet! Hari ini kalian wajib punya e-mail. Bagi yang belum berhasil registrasi e-mailnya, terpaksa tidak dipekenankan pulang!”
“Yaaaa……!”Terdengar suara koor anak-anak.
“Laporkan address e-mail masing-masing pada Ibu. Ayo sini, siapa yang sudah sukses registrasinya?” Dia duduk kembali di kursinya. Beberapa siswa perempuan menghampirinya. Dia mulai mencatat address-address e-mail yang baru, untuk kemudian mengecek hasil pekerjaan siswa-siswanya itu. Yang paling membahagiakan hatinya adalah bila pekerjaan para siswanya memuaskan.

Dengan ancaman tidak diperbolehkan pulang sebelum pekerjaannya selesai, murid-murid jadi lebih konsentrasi. Akhirnya satu persatu maju melaporkan e-mailnya masing-masing untuk dicatat pada buku catatan khusus miliknya. Menghadapi murid-murid yang sedang masa-masanya berkembang baik fisik maupun mentalnya, memang perlu trik dan metode yang tepat. Serta tidak emosional tentunya. Dan sudah pasti semua usaha ke arah itu sangat melelahkan.

Hari ini programnya di kelas 3 A selesai. Setelah ditertibkan lebih dahulu oleh KM-nya, para siswa berdoa bersama, lalu mengucapkan salam padanya, dan bubar.
Dia membereskan kembali kursi-kursi yang tak beraturan letaknya, kemudian mematikan semua komputer yang ada. Harusnya komputer-komputer itu di-refresh dulu, tapi dia merasa malas. Besok saja oleh Pak Soni guru IT kelas dua. Dia ingin cepat-cepat surfing ke dunia maya seperti biasa. Ada satu puisi yang mau diposting pada blognya. Puisi yang tidak lain adalah suara batinnya sendiri. Ketika blognya sudah tampil di layar monitor, dia lanjutkan dengan membuka file yang ada di dalam flashdisk untuk di-copy paste ke dalam blog.

Dia tidak pernah merasa tua untuk bloging, juga tidak pernah merasa tua untuk menulis puisi-puisi cinta. Hari ini dia berniat posting sebuah puisi. Sebuah puisi untuk seseorang, seseorang yang secara sadar atau tidak mulai sering menggoreskan kesan dalam benaknya, setiap hari. Puisi ini juga satu ungkapan perasaan yang ditujukan pada seseorang itu yang makin hari makin membuatnya penasaran karena keakraban dan kehangatan obrolannya, sedangkan wajah identitas diri orang itu tetap saja gelap.

Goresan tanganku untuk engkau yang selalu ngajak main petak umpet!

Setia Menanti

Bulanku bulan pemalu
bertirai awan
bertopeng mendung
beselimut kabut dan embun yang tebal
walau malam sejuk tentram

Sedang di pelataran taman
sekuntum melati sabar menanti
menunggu bulanku tak malu lagi
menyebarkan cahaya kehangatan
memacu detak jantung-jantung rindu
menggetarkan sendi-sendi kasih

Aku setia,
menunggu keberanianmu
menyapa bumi
memandang taman
menatap mesra setangkai kembang
yang telah lama mendambamu karena disia-siakan seekor kumbang

Karena akses internet sedang bagus-bagusnya, dengan cepat puisinya sudah tampil diblog yang berlatar coklat. Tak lupa dia membuat ilustrasi di atas puisi itu dengan meng-upload gambar yang diambil dari komputernya, gambar setangkai bunga melati. “Selamat membaca wahai orang misterius,” Kalimat yang keluar dari bibirnya itu dia tujukan pada Fauzi, yang dalam puisinya dia sebut sebagai “bulanku bulan pemalu”.

Bersambung ...


focus berita handphone, laptop, gadget, tablet, computer

darwys - 22.40
terimakasih atas kunjungan anda

1komentar:

ardy darwys mengatakan...

bulanku bulan pemalu itu apa yach?
apa ada yang tau!!!!

Posting Komentar