;

love bagian 16


Akiko Acellia 24 Agustus jam 17:20 Balas Laporkan
LOVE Bagian 16

Kejujuran yang telah dia sampaikan pada Fauzi membuat beban pikirannya berkurang. Dadanya sedikit lega, meskipun akibat dari keterusterangannya itu sudah bisa diprediksi akan memicu konflik dan ketegangan yang berkelanjutan antara Fauzi dan Dzulfikar. Untuk semakin mengurangi beban yang seakan-akan menghimpit dadanya itu, dia akan segera berterus terang pula pada Dzulfikar, lewat telepon. Sebab tidak mungkin menyuruh Dzulfikar datang menemuinya di Bandung pada hari kerja seperti sekarang ini. Tapi juga dia tak mau menunggu akhir pekan yang masih empat hari lagi. Kelamaan. Sedangkan dirinya sudah tak kuat lagi menggenggam masalah ini, ingin segera memecahkannya, apa pun resiko yang harus dia tanggung sendirian.
Malam ini, tepat jam 20.00 dia menghubungi Dzulfikar lewat telepon rumahnya. Dia menggeser kursi ke dekat meja telepon, karena sudah pasti pembicaraannya dengan Zul kali ini akan berlangsung lama.
Setelah berbasa-basi seperti biasa, dia segera mengutarakan maksud sebenarnya menghubungi Dzulfikar. Dia bercerita dari awal tentang perkenalannya dengan seorang pria bernama Fauzi, warga negara Australia itu, sampai kepada kunjungan Fauzi ke rumahnya tadi siang. Setelah puas bercerita, lalu dia berhenti berbicara, memberi kesempatan kepada Dzulfikar untuk menanggapi kejujurannya ini. Apakah Dzulfikar akan bersikap sama seperti Fauzi tadi siang terhadapnya, dia telah siap menerimanya.
“Kapan saya bisa bertemu Fauzi, Nis?” Suara tenang itu mengagetkannya, kaget karena Zul tak terdengar emosi.
“Kalau Abang sudah bertemu dia, mau apa?” Tanyanya penuh kekhawatiran.
“Abang mau bilang padanya, bahwa kamu adalah milikku. Meskipun kita belum resmi menikah, tapi paling tidak, pada minggu yang lalu kamu pernah mengucapkannya secara lisan bahwa kamu sudi menerima Abang beserta anak-anak untuk menjadi bagian dari hidupmu. Masa kamu lupa peristiwa bersejarah itu? Malah Anislah yang memohon agar Abang tidak memunculkan wanita lain sebagai sainganmu. Ternyata Anis sendiri yang memulai memunculkan pria lain sebagai sainganku! Tapi Abang tak gentar. Katakan pada kekasih cyber-mu itu, Abang ingin bertemu dia secepatnya. Abang ingin tahu seberapa besar cintanya padamu hingga bisa berubah wujud dari roh maya menjadi mahluk yang nyata!” Nada bicara Dzulfikar datar-datar saja, sama sekali tidak meninggi. Tapi mendengar isi pembicaraannya semua orang akan paham, bahwa dia sedang ingin menerjang, menerjang seseorang dengan kalimat-kalimat berbisanya. Dan hati Anis tersinggung.
“Akan aku usahakan kalian bisa bertemu secepatnya. Aku sudah cape menghadapi masalah-masalah seperti ini. Aku tak ingin terus menerus menjadi korban keegoisan laki-laki!” Sampai juga dia pada titik jenuh itu.
“Jangan mencoba mengingkari ucapanmu pada malam itu, Anis. Asal kamu tahu, anak-anak sudah kuberi penjelasan tentang profil calon mamanya. Jangan sampai rencana kamu untuk bertemu anak-anakku minggu depan gagal total gara-gara pria itu!” kata Dzulfikar lagi dari telepon di seberang sana.
“Abang boleh saja berkata seperti itu, jangan begini jangan begitu. Tapi jalan hidupku bukan Abang yang menentukan, tapi diriku sendiri!” Dia berani berkata begitu karena merasa heran, kenapa kedua laki-laki itu begitu egoisnya? Baik Fauzi maupun Dzulfikar sama-sama ingin memaksakan kehendaknya. Tak pernah terlontar dari mulut mereka kalimat penawaran untuk dirinya, memberi kebebasan padanya untuk menentukan pilihan. Tak pernah keluar dari mulut mereka pertanyaan seperti ini, “Di antara kita berdua, siapa yang akan kamu pilih sebagai teman hidupmu?” Bukankah kalimat itu lebih sejuk terdengar dari pada saling menantang dan saling melempar kata-kata tajam?
“Kencan kita pada malam minggu kemarin bukan akhir dari perjuanganmu mendekatiku. Kenyataan, di depan mata muncul persoalan baru yang tak bisa kita hindari, mau tak mau harus dihadapi. Dan selama Abang belum mengikatku dengan ijab kabul pernikahan, Abang belum berhak penuh mengatur hidupku!” Menghadapi sikap Zul seperti itu, hatinya yang sudah mantap dan sudah pasti memilih Dzulfikar, pada saat ini kembali goyah. Semua rencana hidupnya ke depan bersama Dzulfikar yang telah disusun dalam kepalanya, seketika buyar.
Dia harus segera mengakhiri percakapan ini dengan Dzulfikar. Bila tidak, perdebatan tentang hubungan mereka akan semakin memanas. Dia meminta Dzulfikar untuk menyempatkan diri datang ke Bandung besok pagi. Dia tak mau masalah ini berlaut-larut dan membuat hidupnya tak tenang. Dan Zul menyanggupinya. Lalu dia mengontak Fauzi melalui handphone di hotelnya.
“Selamat malam, Uzi.” Sapanya, setelah nomer HP-nya tersambung dengan nomor HP Fauzi.
Sesaat terdengar suara khas Fauzi yang agak serak dari seberang sana.
“Good evening, Honey. Belum tidur?”
“Belum, ada yang ingin aku sampaikan padamu.”
“Tentang apa, Sayang?”
Hatinya sedikit lega, ternyata gusarnya Uzi tadi siang tak berkepanjangan. Laki-laki ini kembali mau beramah-ramah menyapanya.
“Maaf deh, aku mengganggu waktu istirahatmu.”
“Nggak apa-apa. Malah dari tadi aku menantikan deringan telepon darimu. Ternyata tempat seramai apapun jadi sesepi kuburan, bila tak ada kamu di sampingku, Nice.” Suara yang agak serak itu kembali merayu-rayu.
“Besok mau kan Uzi datang lagi ke tempatku?”
“Oh, with pleasure. Jam berapa?”
“Pagi-pagi saja. Biar tidak terjebak macet dan tidak kegerahan.”
“OK, Honey. Besok dandan yang cantik ya!” jawab pria itu. Dia jadi sedih mendengarnya. Tampaknya Fauzi begitu yakin, angan-angan mereka berdua yang benihnya telah disemai sejak di dunia maya akan terwujud dengan segera.
“Dzulfikar ingin bertemu denganmu, Uzi.” Katanya lagi dengan suara pelan.
“Siapa pun yang ingin bertemu denganku, akan aku hadapi!” Nada lembut Fauzi yang merayu-rayu itu berubah menjadi naik.
“Kalau begitu terima kasih atas kesediaannya, see you tomorrow.” Katanya. Hening…tak ada jawaban dari pemilik suara agak serak di seberang sana, mungkin sedang tak berkenan menjawab semua yang baru saja dia ucapkan.

Bersambung ...

focus berita handphone, laptop, gadget, tablet, computer

darwys - 22.02
terimakasih atas kunjungan anda

0 komentar:

Posting Komentar