LOVE Bagian 15
Dia segera menyadari kekeliruannya, kenapa bertanya seperti itu? Sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk berterus terang pada Fauzi tentang masalah rumit yang sedang dihadapinya itu. Biarlah Fauzi menikmati dulu kebersamaan ini sepuasnya. Biarlah tamu yang datang dari tempat yang sangat jauh ini berkesempatan menumpahkan segenap rindu dendam, yang pasti dalam hatinya sudah begitu lama terpendam.
“Aku bertanya seperti itu, karena ya…ingin saja. Sekedar bertanya, boleh kan?” Katanya sambil melirik dan mengajak tersenyum pria di sampingnya.
“Jangan membuat pertanyaan dan pernyataan yang menimbulkan kepenasaranku!” Pinta pria itu.
“Hehe..kita sekarang berada di dunia realita, Uzi. Kita bukan sedang chatting di cyber. Nyantai aja lagi. Apa lagi sih yang membuat Uzi masih merasa penasaran terhadapku?” Tanya dia.
“Kamu banyak berubah!” Jawab Fauzi.
“Masa? Apanya yang berubah?”
“Banyaklah. Di dunia realita ternyata kamu tidak sehangat female_39, tidak semanja female_39, dan sepertinya di darat female_39 ini sengaja menjaga jarak. Sejak aku tiba di sekolahmu sampai detik ini, telingaku belum pernah sekalipun mendengar kamu memanggilku dengan kata “sayang”, seperti dulu waktu kita sering berkencan di YM.” Protes Fauzi.
“Apa yang telah terjadi, Nice?” Tanyanya lagi. Sesungguhnya pertanyaan ini menambah kacau balau pikirannya.
Beruntung, mobilnya segera tiba di halaman rumah yang pagarnya sudah terbuka lebar. Dengan begitu dia terhindar beberapa saat dari pertanyaan yang nadanya menodong itu.
“Selamat datang di rumahku!” Katanya sambil mengajak tamunya masuk lewat pintu depan menuju beranda. Sang tamu mengikutinya dari belakang, seolah-olah sudah terbiasa bertamu ke rumah itu, tanpa rasa canggung sedikit pun.
“Rumah yang sejuk. Pasti aku akan betah berlama-lama tinggal di sini.” Kata pria itu sambil merebahkan diri di sofa berwarna biru di ruang tamu.
“Silahkan, kenapa tidak. Beginilah rumahku, berantakan.”
“Rapi begini dibilang berantakan?” Tanya Fauzi keheranan.
“Aku akui, aku bukan wanita yang pandai menata rumah. Kalau pun sekarang rumah ini tampak bersih dan rapi, itu karena jasa pembantuku.”
Kemudian dia memeriksa meja makan. Di sana sudah terhidang masakan kesukaannya: ayam goreng, sayur asem, beberapa bungkus pepes jamur, sambal goreng lengkap dengan lalabnya, serta beberapa potong buah melon sebagai makanan pencuci mulut.
Ketika memasuki acara makan siang, hatinya kembali dilanda kebingungan. Yang ia takutkan adalah Fauzi mulai lagi mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya terpojok. Oleh karena itu selama menikmati santap siang bersama, dia berusaha menghindari topik percakapan yang mengarah pada masalah pribadi. Dengan sengaja dia mengajak Fauzi berbicara mengenai tema-tema global, seperti tentang keadaan sosial, ekonomi, dan politik di Indonesia akhir-akhir ini. Mengatur alur pembicaraan supaya sesuai dengan yang dia inginkan terasa sangat melelahkan.
Cepat atau lambat, dia harus terbuka juga, bahwa Fauzi jangan berharap banyak padanya, sebab di antara mereka berdua sekarang, telah hadir Dzulfikar. Yang membuatnya bingung, apakah laki-laki ini akan siap mendengar semuanya? Dan apakah perlu juga dia berterus terang pada Dzulfikar tentang kedatangan pria ini? Menurutnya, walau bagaimana pun, Zul harus dilibatkan dalam masalah ini, sebab dia sudah terlanjur menerima laki-laki itu sebagai calon pendamping hidupnya. Tapi untuk sementara, kepada siapa dia harus meminta advise atas masalahnya ini? Kepada ibunya? Ah, sudah tentu ibunya akan sangat keberatan dengan kedatangan pria asing ini, dan sudah bisa dipastikan ibunya akan berpihak pada calon menantu kesayangannya.
Tampaknya Fauzi sangat menikmati jamuannya. Melihat itu hatinya merasa senang, setidaknya dia sudah berusaha menjadi tuan rumah yang baik hari ini. Dan tak lupa dia berdo’a juga, semoga Fauzi lupa pada pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan padanya dan terlalu pribadi itu.
Tapi ketika mereka sudah kembali ke ruang depan, sebelum mereka duduk kembali di kursi tamu, Fauzi membuat surprise jilid kedua. Pria ini menghampirinya dan meraih tangan kirinya, lalu memasang sebentuk cincin bermodel cincin kawin bermata indah di jari manisnya. Bagaimana dia bisa menolak semua ini, adegan ini begitu tiba-tiba. Dan tak terbayangkan, bagaimana jadinya perasaan Fauzi jika dia menolaknya?
“Cincin ini mewakili segenap ungkapan yang telah lama terpendam dalam hati. Dengan cincin ini aku tak perlu lagi berpanjang-panjang menyampaikan semua isi hatiku dalam bentuk kalimat. Aku harap kamu bisa menerjemahkan semuanya, Nice.“ Kata Fauzi sambil menatapnya lekat-lekat, dan memegang erat jemari tangan kirinya.
“Uzi, kenapa kau lakukan ini? Kenapa begitu hobby-nya Uzi membuat kejutan untukku?” Dia memperlihatkan ketidak setujuannya dengan menarik tangannya. Kemudian mereka berdua duduk berbarengan di kursi yang berseberangan. Dia amati dengan seksama cincin bermata indah itu. Mata cincin itu tampak berkilauan terkena sinar dari sekeliling ruangan. Mata cincin itu entah dari jenis apa, dia tak paham soal batu-batuan mulia. Yang dia tahu adalah bahwa ruby symbol cinta yang agung, zamrud melambangkan harapan, dan berlian melambangkan keabadian cinta. Tapi kenapa cincin itu Uzi berikan kepadanya? Sedangkan sampai hari ini cintanya belum pasti untuk siapa.
“Tampaknya kamu tak suka dengan pemberianku ini. Ada apa sih sebenarnya? berterus teranglah! Dari awal perjumpaanku denganmu perasaanku sudah tak enak. Feeling-ku mengatakan ada sesuatu yang tengah menghadangku untuk tak bisa dekat denganmu. Cepat katakan, ada apa?!” Nada bicara Fauzi meninggi, berarti hati pria ini betul-betul tersinggung atas sikapnya itu.
“Uzi,…Uzi jangan berharap banyak padaku!” Dia berkata begitu dengan suara lirih dan sedikit bergetar.
“Apa maksudmu?” Suara Fauzi masih meninggi.
“Di antara kita ada Dzulfikar!” Dengan sangat terpaksa dia mengungkapkannya, meskipun dia tahu kalimat yang baru saja diucapkannya adalah sebuah ungkapan yang berpotensi melukai hati Fauzi.
Fauzi tersenyum hambar. Lalu berkata lagi, “Sudah kuduga sebelumnya, pasti dialah penyebab berubahnya perlakuanmu terhadapku.” Mendengar Fauzi berkata seperti itu dirinya benar-benar pasrah. Terserahlah apa yang akan terjadi kemudian akibat dari keterusterangannya ini. Dia merasa lelah dan tak sanggup lagi terus menerus menyembunyikan kenyataan dan bergelut dalam kebingungan. Dia ingin segera keluar dari lingkaran masalah yang tak pernah selesai sejak dia mengenal Dzulfikar. Pada Dzulfikar pun dia akan bersikap sama. Dia akan berterus terang secepatnya, bahwa Fauzi yang sekarang sedang ada di Indonesia dan tengah mengunjungi rumahnya ini adalah kekasih cyber-nya, sebelum mereka berdua dipertemukan oleh ibunya. Jika dia serba takut untuk terbuka dan menyembunyikan semuanya, artinya dia membiarkan dirinya tersiksa dan terbelenggu masalah yang tak berkesudahan tentang laki-laki. Lagi-lagi masalah laki-laki yang membuat hidupnya menjadi seru itu.
“Tapi ingat, Nice, aku tak akan menyerah begitu saja. Kamu sendiri menyadari, bahwa sebelum bertemu dia, kamu lebih dulu dekat denganku. Laki-laki itu tak bisa seenaknya merampas semua yang pasti akan menjadi milikku!” Kata Fauzi, nada suaranya yang cukup tinggi itu tak pernah merendah.
Dia terkejut dengan pernyataan tamunya ini. Di cyber Uzi adalah pria yang bijaksana dan terkesan selalu mengalah, sering menasehatinya agar bersikap tenang, tak gampang terpancing emosi. Tapi di alam nyata sebaliknya, Fauzi terbukti sebagai seorang yang gigih memperjuangkan apa yang dia inginkan, apa pun yang akan terjadi.
“Dulu aku terkesan mengalah dan bergantung pada takdir karena jarak kita berjauhan dan aku sedang sakit waktu itu. Sekarang, aku bisa melakukan apa pun. Kesembuhanku dari beberapa penyakit membuat gairah hidupku kembali menggebu. Dan saat ini, posisiku bahkan lebih dekat denganmu dari pada orang Jakarta itu!”
Dia tak berniat membantah semua pernyataan tamunya ini. Dia membiarkan pria ini berpuas diri memuntahkan kata-kata sebagai perwujudan dari emosinya. Apa pun yang akan terjadi terjadilah, bukankah semua mahluk yang ada di bumi ini hanya menjalani hidup seperti apa yang telah digariskan dalam skenario kehidupan? Pikirnya.
Dengan perasaan yang sama-sama edang dilanda kegalauan, mereka berpisah untuk sementara. Fauzi kembali ke hotelnya menggunakan taksi. Pria ini menolak mentah-mentah tawaran Anis untuk mengantarnya sampai ke hotel tempatnya menginap. Rupanya pengakuan Anis membuat pria itu benar-benar gusar. Tapi Fauzi masih berkenan meninggalkan nomor telepon genggamnya, serta berjanji akan menemuinya lagi pada kesempatan lain. Dan cincin yang matanya berkilau-kilau itu masih melingkar di jari manis tangan kirinya.
Bersambung ...
Dia segera menyadari kekeliruannya, kenapa bertanya seperti itu? Sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk berterus terang pada Fauzi tentang masalah rumit yang sedang dihadapinya itu. Biarlah Fauzi menikmati dulu kebersamaan ini sepuasnya. Biarlah tamu yang datang dari tempat yang sangat jauh ini berkesempatan menumpahkan segenap rindu dendam, yang pasti dalam hatinya sudah begitu lama terpendam.
“Aku bertanya seperti itu, karena ya…ingin saja. Sekedar bertanya, boleh kan?” Katanya sambil melirik dan mengajak tersenyum pria di sampingnya.
“Jangan membuat pertanyaan dan pernyataan yang menimbulkan kepenasaranku!” Pinta pria itu.
“Hehe..kita sekarang berada di dunia realita, Uzi. Kita bukan sedang chatting di cyber. Nyantai aja lagi. Apa lagi sih yang membuat Uzi masih merasa penasaran terhadapku?” Tanya dia.
“Kamu banyak berubah!” Jawab Fauzi.
“Masa? Apanya yang berubah?”
“Banyaklah. Di dunia realita ternyata kamu tidak sehangat female_39, tidak semanja female_39, dan sepertinya di darat female_39 ini sengaja menjaga jarak. Sejak aku tiba di sekolahmu sampai detik ini, telingaku belum pernah sekalipun mendengar kamu memanggilku dengan kata “sayang”, seperti dulu waktu kita sering berkencan di YM.” Protes Fauzi.
“Apa yang telah terjadi, Nice?” Tanyanya lagi. Sesungguhnya pertanyaan ini menambah kacau balau pikirannya.
Beruntung, mobilnya segera tiba di halaman rumah yang pagarnya sudah terbuka lebar. Dengan begitu dia terhindar beberapa saat dari pertanyaan yang nadanya menodong itu.
“Selamat datang di rumahku!” Katanya sambil mengajak tamunya masuk lewat pintu depan menuju beranda. Sang tamu mengikutinya dari belakang, seolah-olah sudah terbiasa bertamu ke rumah itu, tanpa rasa canggung sedikit pun.
“Rumah yang sejuk. Pasti aku akan betah berlama-lama tinggal di sini.” Kata pria itu sambil merebahkan diri di sofa berwarna biru di ruang tamu.
“Silahkan, kenapa tidak. Beginilah rumahku, berantakan.”
“Rapi begini dibilang berantakan?” Tanya Fauzi keheranan.
“Aku akui, aku bukan wanita yang pandai menata rumah. Kalau pun sekarang rumah ini tampak bersih dan rapi, itu karena jasa pembantuku.”
Kemudian dia memeriksa meja makan. Di sana sudah terhidang masakan kesukaannya: ayam goreng, sayur asem, beberapa bungkus pepes jamur, sambal goreng lengkap dengan lalabnya, serta beberapa potong buah melon sebagai makanan pencuci mulut.
Ketika memasuki acara makan siang, hatinya kembali dilanda kebingungan. Yang ia takutkan adalah Fauzi mulai lagi mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya terpojok. Oleh karena itu selama menikmati santap siang bersama, dia berusaha menghindari topik percakapan yang mengarah pada masalah pribadi. Dengan sengaja dia mengajak Fauzi berbicara mengenai tema-tema global, seperti tentang keadaan sosial, ekonomi, dan politik di Indonesia akhir-akhir ini. Mengatur alur pembicaraan supaya sesuai dengan yang dia inginkan terasa sangat melelahkan.
Cepat atau lambat, dia harus terbuka juga, bahwa Fauzi jangan berharap banyak padanya, sebab di antara mereka berdua sekarang, telah hadir Dzulfikar. Yang membuatnya bingung, apakah laki-laki ini akan siap mendengar semuanya? Dan apakah perlu juga dia berterus terang pada Dzulfikar tentang kedatangan pria ini? Menurutnya, walau bagaimana pun, Zul harus dilibatkan dalam masalah ini, sebab dia sudah terlanjur menerima laki-laki itu sebagai calon pendamping hidupnya. Tapi untuk sementara, kepada siapa dia harus meminta advise atas masalahnya ini? Kepada ibunya? Ah, sudah tentu ibunya akan sangat keberatan dengan kedatangan pria asing ini, dan sudah bisa dipastikan ibunya akan berpihak pada calon menantu kesayangannya.
Tampaknya Fauzi sangat menikmati jamuannya. Melihat itu hatinya merasa senang, setidaknya dia sudah berusaha menjadi tuan rumah yang baik hari ini. Dan tak lupa dia berdo’a juga, semoga Fauzi lupa pada pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan padanya dan terlalu pribadi itu.
Tapi ketika mereka sudah kembali ke ruang depan, sebelum mereka duduk kembali di kursi tamu, Fauzi membuat surprise jilid kedua. Pria ini menghampirinya dan meraih tangan kirinya, lalu memasang sebentuk cincin bermodel cincin kawin bermata indah di jari manisnya. Bagaimana dia bisa menolak semua ini, adegan ini begitu tiba-tiba. Dan tak terbayangkan, bagaimana jadinya perasaan Fauzi jika dia menolaknya?
“Cincin ini mewakili segenap ungkapan yang telah lama terpendam dalam hati. Dengan cincin ini aku tak perlu lagi berpanjang-panjang menyampaikan semua isi hatiku dalam bentuk kalimat. Aku harap kamu bisa menerjemahkan semuanya, Nice.“ Kata Fauzi sambil menatapnya lekat-lekat, dan memegang erat jemari tangan kirinya.
“Uzi, kenapa kau lakukan ini? Kenapa begitu hobby-nya Uzi membuat kejutan untukku?” Dia memperlihatkan ketidak setujuannya dengan menarik tangannya. Kemudian mereka berdua duduk berbarengan di kursi yang berseberangan. Dia amati dengan seksama cincin bermata indah itu. Mata cincin itu tampak berkilauan terkena sinar dari sekeliling ruangan. Mata cincin itu entah dari jenis apa, dia tak paham soal batu-batuan mulia. Yang dia tahu adalah bahwa ruby symbol cinta yang agung, zamrud melambangkan harapan, dan berlian melambangkan keabadian cinta. Tapi kenapa cincin itu Uzi berikan kepadanya? Sedangkan sampai hari ini cintanya belum pasti untuk siapa.
“Tampaknya kamu tak suka dengan pemberianku ini. Ada apa sih sebenarnya? berterus teranglah! Dari awal perjumpaanku denganmu perasaanku sudah tak enak. Feeling-ku mengatakan ada sesuatu yang tengah menghadangku untuk tak bisa dekat denganmu. Cepat katakan, ada apa?!” Nada bicara Fauzi meninggi, berarti hati pria ini betul-betul tersinggung atas sikapnya itu.
“Uzi,…Uzi jangan berharap banyak padaku!” Dia berkata begitu dengan suara lirih dan sedikit bergetar.
“Apa maksudmu?” Suara Fauzi masih meninggi.
“Di antara kita ada Dzulfikar!” Dengan sangat terpaksa dia mengungkapkannya, meskipun dia tahu kalimat yang baru saja diucapkannya adalah sebuah ungkapan yang berpotensi melukai hati Fauzi.
Fauzi tersenyum hambar. Lalu berkata lagi, “Sudah kuduga sebelumnya, pasti dialah penyebab berubahnya perlakuanmu terhadapku.” Mendengar Fauzi berkata seperti itu dirinya benar-benar pasrah. Terserahlah apa yang akan terjadi kemudian akibat dari keterusterangannya ini. Dia merasa lelah dan tak sanggup lagi terus menerus menyembunyikan kenyataan dan bergelut dalam kebingungan. Dia ingin segera keluar dari lingkaran masalah yang tak pernah selesai sejak dia mengenal Dzulfikar. Pada Dzulfikar pun dia akan bersikap sama. Dia akan berterus terang secepatnya, bahwa Fauzi yang sekarang sedang ada di Indonesia dan tengah mengunjungi rumahnya ini adalah kekasih cyber-nya, sebelum mereka berdua dipertemukan oleh ibunya. Jika dia serba takut untuk terbuka dan menyembunyikan semuanya, artinya dia membiarkan dirinya tersiksa dan terbelenggu masalah yang tak berkesudahan tentang laki-laki. Lagi-lagi masalah laki-laki yang membuat hidupnya menjadi seru itu.
“Tapi ingat, Nice, aku tak akan menyerah begitu saja. Kamu sendiri menyadari, bahwa sebelum bertemu dia, kamu lebih dulu dekat denganku. Laki-laki itu tak bisa seenaknya merampas semua yang pasti akan menjadi milikku!” Kata Fauzi, nada suaranya yang cukup tinggi itu tak pernah merendah.
Dia terkejut dengan pernyataan tamunya ini. Di cyber Uzi adalah pria yang bijaksana dan terkesan selalu mengalah, sering menasehatinya agar bersikap tenang, tak gampang terpancing emosi. Tapi di alam nyata sebaliknya, Fauzi terbukti sebagai seorang yang gigih memperjuangkan apa yang dia inginkan, apa pun yang akan terjadi.
“Dulu aku terkesan mengalah dan bergantung pada takdir karena jarak kita berjauhan dan aku sedang sakit waktu itu. Sekarang, aku bisa melakukan apa pun. Kesembuhanku dari beberapa penyakit membuat gairah hidupku kembali menggebu. Dan saat ini, posisiku bahkan lebih dekat denganmu dari pada orang Jakarta itu!”
Dia tak berniat membantah semua pernyataan tamunya ini. Dia membiarkan pria ini berpuas diri memuntahkan kata-kata sebagai perwujudan dari emosinya. Apa pun yang akan terjadi terjadilah, bukankah semua mahluk yang ada di bumi ini hanya menjalani hidup seperti apa yang telah digariskan dalam skenario kehidupan? Pikirnya.
Dengan perasaan yang sama-sama edang dilanda kegalauan, mereka berpisah untuk sementara. Fauzi kembali ke hotelnya menggunakan taksi. Pria ini menolak mentah-mentah tawaran Anis untuk mengantarnya sampai ke hotel tempatnya menginap. Rupanya pengakuan Anis membuat pria itu benar-benar gusar. Tapi Fauzi masih berkenan meninggalkan nomor telepon genggamnya, serta berjanji akan menemuinya lagi pada kesempatan lain. Dan cincin yang matanya berkilau-kilau itu masih melingkar di jari manis tangan kirinya.
Bersambung ...
|
|
darwys
| terimakasih atas kunjungan anda |
|


0 komentar:
Posting Komentar