;

love bagian 14


Akiko Acellia 24 Agustus jam 17:17 Balas Laporkan
LOVE Bagian 14

Tak ada pria yang selalu memanggilnya “Nice”, kecuali Fauzi. Dia menatap pria di hadapannya dengan sinar menelisik. Seandainya benar orang ini adalah Fauzi yang dulu selalu ia rindukan siang dan malam, sosoknya sangat berbeda dengan Uzi yang hidup dalam imajinasi dan mimpi-mimpinya selama ini. Uzi yang ada dalam citranya dan pernah hadir dalam mimpinya adalah Uzi yang umurnya tak beda jauh dengannya, Uzi yang penampilannya bersahaja, seadanya, dan terkesan asal-asalan.
Tapi Uzi yang sekarang sudah berwujud nyata di hadapannya adalah seorang pria yang berpenampilan kebapakan. Menurut perkiraannya, umur pria itu sekitar sepuluh tahun lebih tua darinya. Postur badannya sedang, tidak terlalu tinggi dan tidak juga pendek menurut ukuran orang Indonesia. Mengenakan busana casual, jeans dan T-shirt yang tersembunyi di balik jacket berwarna gelap. Tubuhnya yang termasuk dalam kategori gemuk tersamarkan oleh jacket coklat tua, membuat laki-laki ini terlihat berwibawa. Kulitnya putih bersih. Rambutnya agak ikal, dibiarkan tumbuh sebatas tengkuk. Dan dia masih ingat, bahwa tempurung lutut Fauzi terbuat dari metal, tapi ketika Fauzi berdiri dan berjalan menghampirinya tadi terlihat normal-normal saja.
Tapi perbedaan persepsinya tentang Fauzi di dunia nyata dan dunia imajinasinya sama sekali tidak mengubah perasaan rindu dendam yang sudah terlanjur terpendam dalam hatinya.
“Apakah kamu masih mengenaliku, Nice sayang?” Kata pria itu lagi.
“Siapa sebenarnya anda ini?” Dia masih tak percaya pada tebakannya sendiri.
“Dulu aku pernah berjanji akan membuat surprise. Hari ini janji itu kupenuhi. Aku datang dari jauh dengan cinta, cinta yang akan tetap membara dan tak akan pernah kita padamkan.” Ya Allah, dia benar-benar Fauzi. Gaya pengungkapan perasaannya sangat khas, romantis dan puitis.
“Jadi….?” Dalam debaran jantungnya yang semakin kencang, dia masih memerlukan penjelasan.
“I’m Fauzi2003.” Penjelasan singkat yang justru membuatnya semakin terkaget-kaget. Lalu, gembirakah dia? terharukah? Atau malah bingung? Dia sendiri tak tahu, perasaan apa yang tengah berkecamuk dalam hatinya sekarang ini.
Sebagai seorang yang sudah seharusnya mapan dalam menyikapi setiap persoalan, sudah selayaknya dia bersikap tenang. Juga sebagai seorang yang berprofesi sebagai guru, rasanya tidak sedap dipandang mata bila dia menampakkan diri terkejut-kejut di depan tamu istimewanya ini. Dengan begitu dia berjuang sekuat tenaga untuk bisa menguasai keadaan.
“Sebuah kejutan yang dahsyat, Uzi. Tapi alangkah lebih baiknya bila sebelumnya beritahu aku tentang kedatanganmu, biar aku bisa mempersiapkan diri, dan menjamu tamu dengan sepantasnya.” Perkataannya ini dalam rangka mencairkan suasana. Fauzi berwujud nyata hanya tersenyum, kemudian berkata lagi.
“Bolehkah aku memelukmu, Sayang?” Tiba-tiba sinar mata Fauzi menembus jantungnya. Rupanya lelaki itu sejak tadi sudah tak sabar ingin mendekapnya. Bak terkena hipnotis dirinya segera bangkit dari posisi duduk, untuk kemudian menyambut pelukan mesra pria yang sudah tidak misterius lagi.

Keadaan lab komputer yang sepi dan berada di lantai dua serta jauh dari ruang guru, sangat mendukung peristiwa ini. Adegan pertemuan dua orang kekasih yang sudah lama bertaut jiwa tak seorang pun sempat menyaksikannya. Hanya benda-benda yang ada di sekeliling ruanganlah yang menjadi saksi bisu peristiwa itu.
Fauzi mendekapnya lebih hangat dari dekapannya dulu ketika pertama kali bertemu di alam mimpi. Ternyata sosok Fauzi adalah sosok yang begitu perkasa di matanya. Dalam dekapan hangatnya itu dia merasa tentram dan terlindungi. Sudut hatinya yang sejak kecil kedinginan karena tak pernah tersentuh kasih sayang seorang ayah, untuk pertama kalinya terhangatkan.
“Nice, kamu mirip betul dengan pic-pic yang terpasang berjejer di blogmu. Dan kamu mirip betul dengan Nice yang selalu hadir dalam benakku sepanjang waktu.” Dalam debaran jantungnya yang cukup kuat, pria itu berusaha mengungkapkan sedikit demi sedikit kata-kata hatinya.
“Pastilah mirip, itu kan poto-poto narsis-ku sendiri, bukan pinjem punya orang.” Katanya, kedua tangannya masih melingkari tubuh gemuk pria itu. Terasa olehnya sekujur tubuh pria itu begitu hangat, entah pengaruh suhu udara hari ini yang memang sedang memasuki musim kemarau, entah pengaruh lain yang datang dari lubuk hati masing-masing yang tak terselami kedalamanya. Pria itu mengecup ubun-ubunya beberapa kali, satu hal yang tak pernah dilakukan oleh Dzulfikar terhadapnya. Dia tersentak secara tiba-tiba ketika mengingat nama Dzulfikar. Lalu secara perlahan dia melepaskan pelukannya dan juga pelukan mesra pria itu, dengan alasan ingin segera menghidangkan minuman.
“Sebentar ya Uzi, aku buatkan minuman dulu. Di sini hanya tersedia air putih, teh manis, dan kopi. Mau minum apa?” Katanya, sambil menghampiri meja tempat menyimpan termos air, ceret, berikut gelasnya, di sudut ruangan.
“Cukup air putih saja!” Tatapan mata pria itu tak pernah lepas mengamatinya. Dia sadari hal itu, dengan begitu dia jadi tidak bebas bersikap.
“Maaf, untuk sementara saya belum bisa menjamu tamu dari negeri antah berantah ini dengan sepantasnya. Habis, kedatanganmu mendadak sekali sih!” Katanya dengan nada malu.
“Oh, it’s OK.” Jawaban yang masih disertai senyuman.
Dia menghidangkan dua gelas air putih di meja dengan tangan sedikit gemetar. Sesungguhnya dia masih belum bisa menguasai keadaan.
“Aku sangat ingin kita bisa lebih bebas lagi berkencan di tempat lain, Nice. Aku menginap di hotel Harmony, jalan Talagabodas. Kalau bersedia, sekarang juga kita ke tempat menginapku itu. Sepertinya kita akan lebih leluasa ngobrol di sana. Atau kita jalan-jalan dulu keliling kota Bandung. Please, beri pelayanan yang memuaskan untuk turismu ini!”
Mendengar ajakan itu dia terdiam. Dia teramat bingung dengan semua pengalaman hidupnya pada hari ini: pertemuan yang tiba-tiba, permintaan tamu yang tiba-tiba pula.
“Ingat Nice, aku datang dari jauh, tak selayaknya kamu tolak semua keinginanku!” Kembali sinar mata Fauzi menusuk tepat di bilik jantungnya. Dan aneh, sekelebatan wajah Dzulfikar hinggap pula di pelupuk matanya, lalu pergi lagi.
“Aku berharap Uzi berkenan mengunjungi rumahku, sekarang juga!” Dia sengaja mengundang Fauzi ke rumahnya sebagai tanda bahwa sekarang di antara mereka berdua sudah tak ada lagi hal-hal yang bersifat misteri. Andai pun suatu saat nanti ia dengan Fauzi tak kesampaian hidup bersama dalam satu ikatan perkawinan, yang ia inginkan Fauzi tetap bisa mengunjungi rumahnya, betapa pun jauhnya jarak yang terbentang antara Australia dan Indonesia, atas nama pesaudaraan.
“Wow, undangannya boleh juga. Tentu saja aku tak akan melewatkan kesempatan emas ini. Jam berapa kamu diperbolehkan meninggalkan tempat ini?” Kata laki-laki itu dengan semangatnya.
“Sebenarnya hari ini tak ada jadwal mengajar, kosong. Aku sekarang ada di sini karena berniat memanggil orang tua siswa, dan ternyata dia tak memenuhi undanganku.” Jawabnya.
“Dan yang datang malah orang asing, ya?” Kata laki-laki itu.
“Iya, yang datang malah seorang bule yang sedikit gosong.” Jawabnya. Keduanya tertawa. Dia masih bisa bercanda, tapi belum bisa mengusir semua kegalauan dalam hatinya. Kemudian dia bangkit dari kursi menuju tempat yang telindung dari pandangan dan pendengaran Fauzi, masuk ke ruangan sebelah yang berfungsi sebagai gudang kecil. Melalui handphone-nya dia menyuruh pembantunya memesan hidangan lengkap dari catering langganan untuk menjamu tamunya itu.
“Bila semua sudah siap, beri tahu Ibu secepatnya ya, Ju!” Pesannya lagi pada pembantu setianya.
Setelah ada bel pemberitahuan bahwa hidangan telah siap disantap di rumah, mereka pun bergegas meninggalkan sekolah.
“Bersembunyi di mana selama ini, Uzi?” Tanyanya sesaat setelah mereka berdua berada di dalam mobil yang sedang melaju di jalan raya.
Ternyata Uzi adalah seorang pria romantis di mana-mana, di cyber, di dunia nyata seperti sekarang ini, juga dalam mimpi-mimpinya. Saat ini pun posisi duduk Fauzi begitu dekat dengannya yang tengah berkonsentrasi pada setir dan jalanan. Sesekali tangan kanan Fauzi melingkar di bahunya.
“Waktu itu aku sakit, Nice sayang. Diabetes dan hipertensi sangat mengganggu hidupku. Aku sempat terpuruk, kesehatanku memburuk, dan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Waktu itu tekadku sangat kuat untuk bisa sembuh. Aku sangat berharap rencanaku untuk menemuimu bisa terlaksana di alam nyata. Oleh karenanya aku turuti semua petunjuk dokter yang menyarankan aku berdiet ketat dan bersitirahat secara total. Usahaku ternyata tak sia-sia kan, Nice Sayang?”
Selama Fauzi berbicara panjang lebar itu, dia berpikir keras, bagaimana caranya menjelaskan pada laki-laki ini tentang kehadiran Dzulfikar di antara mereka berdua. Dan bagaimana caranya menjelaskan pada Dzulfikar tentang siapa sebenarnya Fauzi. Sejujurnya, dia tak mau menyakiti hati kedua pria yang di matanya sama-sama penting, sama-sama bermakna. Dulu dan kemarin-kemarin dia tak menyangka sama sakali, bahwa di kemudian hari akan dihadapkan pada masalah rumit seperti ini.
“Uzi…, Uzi percaya takdir kan?” Dia mencoba mengajukan pertanyaan yang dulu pernah Fauzi ajukan juga kepadanya.”
“Kenapa bertanya begitu, Sayang? What’s the matter? Adakah sesuatu yang buruk telah menghalangi hubungan kita?” Raut muka Fauzi tiba-tiba berubah. Wajah cerahnya meredup seketika.

Bersambung ...

focus berita handphone, laptop, gadget, tablet, computer

darwys - 22.08
terimakasih atas kunjungan anda

0 komentar:

Posting Komentar