LOVE Bagian 13
Terpikir olehnya, sampai kapan hatinya akan terus menerus tenggelam dalam kebimbangan? Bila tak ada keberanian memutuskan satu persoalan, sampai kapan pun tak akan pernah bertemu kebahagiaan. Bila ingin ada perubahan ke arah depan, dia memang harus berani melangkah. Tapi bila ternyata kegagalan masih berpihak padanya, harus rela juga menerimanya. Setiap pilihan yang diambil ada resikonya, dan sesungguhnya, hidup adalah resiko itu sendiri.
Secepat gerakan jarum jam penunjuk detik, Dzulfikar sudah kembali berada di hadapannya, menunggu jawaban yang suatu saat harus bisa dipertanggungjawabkan.
Di menit-menit terakhir, dia masih menimbang-nimbang. Bila dia bersedia menerima Zul sebagai suami, sederet kewajiban harus segera dilaksanakan. Bila dia rela menerima kedua anak Zul sebagai anaknya juga, segudang tugas sebagai seorang ibu, harus segera ditunaikan. Tapi tentu saja semua itu ada imbalannya. Sudah menjadi sunnatullah, amal kebaikan sebesar dzarrah pun akan ada pahalanya. Dan sebaliknya, perbuatan buruk sebesar dzarrah pun akan mendapat balasan. Pahala atas ketaatan seorang istri pada suami sudah menantinya. Pahala atas kerelaannya mendidik dan membesarkan anak-anak dengan penuh kasih sayang juga tengah menunggunya. Bismillaahirrahmaanirrohiim, ya Allah semoga pilihanku kali ini adalah pilihan yang terbaik dalam hidupku. Dan aku memilihnya semata-mata untuk mencari ridho-Mu ya Allah. Semua kata hatinya itu mendorongnya untuk memberikan jawaban dengan mantap.
“Malam ini adalah malam yang bersejarah bagiku, karena pada malam ini aku masih berkenan dipilih. Dengan begitu aku bukan lagi seorang pecundang.” Jawabnya.
“Abang mohon, cari kalimat yang jernih, biar Abang bisa langsung paham maksudmu!” Pinta Dzulfikar.
“Aku menerima ajakanmu!” Tiga kata yang sangat jernih menurutnya. Tapi si pria masih menuntutnya agar memperjelas dan mempertegas jawaban itu.
“Ajakan yang mana? Ajakan makan malam atau….??”
“Aku besedia menjadi istrimu dan menjadi ibu anak-anakmu!”
Mendengar itu terlihat senyum Dzulfikar mengembang, pertanda hatinya senang, puas dan tentu saja bahagia.
“Terima kasih, Anis.”
“Tapi ada satu permintaanku yang mesti dicatat dalam hati Abang!” Katanya lagi.
“Apa itu?”
“Aku adalah wanita yang tidak bisa berkompetisi. Selalu menjadi perempuan yang dikalahkan. Oleh karena itu, tolong jangan sekali-kali menyuruhku bersaing dengan wanita lain. Jangan pernah memunculkan perempuan lain sebagai pesaingku, itu saja!” Katanya lagi kemudian.
“Oh itu. Jangan khawatir. Abang ditinggalkan oleh ibunya anak-anak sudah begitu lama. Jika Abang mau, mungkin dari dulu sudah meminang orang. Tujuh tahun Abang hidup sebagai widower. Tidak pernah terpikir untuk mencari pasangan secepatnya. Apalagi berganti-ganti. Menurut Abang, mencari calon istri itu ternyata jauh lebih sulit dari pada mencari jarum di dasar lautan. Masalahnya Abang punya anak. Bila salah memilih, sudah pasti anak-anaklah yang menjadi korban pertama kesalahan itu.” Keterangan Dzulfikar panjang lebar.
“Semoga aku bisa memegang amanah baru ini dengan teguh dan sabar,” jawabnya.
“Mudah-mudahan,” Jawab laki-laki itu pula sambil memegang kedua tangannya. Dan jari-jari tangan mereka bertaut dengan eratnya, seakan tak ingin lepas selamanya.
***
Hari ini dia seolah-olah terlahir kembali ke dunia. Semuanya seperti baru dalam pandangannya. Tirai kelabu yang selama ini terpasang di jendela hatinya, menghilang dengan sendirinya. Dia menyongsong hari-hari indah dengan segudang gairah. Langkahnya tak bimbang lagi.
Minggu depan Dzulfikar berencana mempertemukan dia dengan anak-anaknya. Satu babak dalam kehidupannya yang cukup mendebarkan. Dia khawatir anak-anak Zul tak berkenan dengan kehadirannya, meskipun Dzulfikar pernah bilang, semua itu bisa diatur asal mereka berdua bisa memilih pendekatan yang tepat.
Dan kekhawatiran itu terbawa juga ke tempat kerjanya. Pikirannya tak bisa lepas dari persoalan bagaimana cara melaksanakan pendekatan yang jitu agar anak-anak Zul rela menerima dia menjadi bagian dari hidup mereka. Meskipun sudah bertahun-tahun dia menjadi guru, yang setiap hari bercampur baur dengan anak-anak remaja, dan selalu berhasil menyelami hati dan perasaan mereka, tapi tetap saja rencana pendekatan pada anak-anak Zul nanti adalah sebuah tantangan tersendiri, dan belum tentu dia mampu dan sukses melaksanakannya.
Dia berusaha melupakan sejenak kekhawatirannya itu dengan melakukan kegiatan bersih-bersih ruangan. Sambil menunggu kedatangan orang tua murid yang memang hari ini dipanggil untuk menemuinya, dia membersihkan dan merapikan lab komputer. Setelah menyapu debu-debu yang banyak menempel pada komputer dan mejanya dengan lap, diteruskan dengan menyusun buku-buku yang bertumpuk tak beraturan menjadi susunan yang rapi di dalam lemari.
Dalam surat panggilan orang tua kemarin yang dititipkan pada salah seorang siswa kelas 3 H, dia mengundang orang tua Lewi untuk datang pada jam 9 pagi. Sekarang sudah lewat tiga puluh menit. Sayangnya orang tua anak itu tidak memiliki handphone maupun pesawat telepon di rumahnya, sehingga sulit dihubungi secara langsung. Sudah satu minggu ini anak itu tidak masuk sekolah, tapi teman-temannya sering memergokinya setiap hari berangkat pagi-pagi dari rumah dengan memakai pakaian seragam.
Terdengar suara orang mengetuk pintu lab. Dia segera membukanya. Mang Dadan (pesuruh sekolah) memberitahukan bahwa ada seseorang yang mau bertemu dengannya.
“Suruh dia menemui saya di sini, tolong ya, Mang!”
“Mangga, Bu,” kata pesuruh itu sambil segera berlalu.
Ketika dia sedang mengeluarkan buku absensi anak kelas 3 H, orang itu sudah berada di ambang pintu. Seperti biasa, dia menyambut ramah setiap orang tua siswa yang telah sudi memenuhi undangannya.
“Silahkan masuk, Pak!.” Katanya. Sambil mempersilahkan tamunya untuk duduk.
“Bapak ini orang tua kandung Lewi?” Tanyanya setelah tamu itu duduk berhadapan dengannya.
Laki-laki itu tak segera menjawab. Malah kelihatannya kikuk. Ada apa dengan tamu ini? Pikirnya.
“Putra Bapak sudah seminggu ini tidak masuk sekolah tanpa berita. Apakah dia dari rumah berangkat setiap hari?” Tanyanya lagi.
“Jadi ini yang bernama Ibu Rengganis itu?” Laki-laki itu malah balik bertanya.
“Betul, saya wali kelas 3 H. Silahkan, Bapak jangan sungkan-sungkan. Saya mengundang Bapak untuk membicarakan dan menyelesaikan masalah “anak” kita.
“Maaf, saya bukan orang tuanya..siapa tadi?” Kata laki-laki itu.
“Oh? Bukan orang tua kandung maksudnya?”
Sesaat lelaki itu terdiam. Matanya memancarkan sinar yang aneh, seaneh sikapnya pada detik-detik ini.
“Tak masalah, siapa pun yang hadir, yang penting bisa mewakili orang tua kandungnya,” katanya lagi.
“Aku datang dari tempat yang sangat jauh, menyebrangi lautan luas untuk sampai di tempat ini. Website SMP 4 banyak membantuku, sampai akhirnya aku bisa menemukanmu di sini.” Sinar mata yang aneh itu kembali menyergapnya. Dia baru tersadar, bahwa orang ini tak ada hubungannya sama sekali dengan muridnya yang bernama Lewi Nofemena. Dia berpikir sesaat, siapa gerangan orang ini?
Di ruangan ini sepi…hening…Di luar terdengar riuh rendah suara gelak tawa dan teriakan anak-anak sekolah yang sedang menikmati jam istirahatnya.
“Sungguh sebuah keajaiban, aku bisa menemuimu saat ini. Akhirnya terlaksana juga aku berbincang-bincang denganmu secara langsung. Apa kabar, Nice?” Kata orang itu lagi.
Nice?…Nice, kata pria ini? Apa dia tak salah dengar?…Panggilan yang baru saja diberikan laki-laki ini untuknya mengingatkan dia pada seseorang. Jadi…yang ada di hadapannya ini adalah….Fauzi?….Akh! Tidak mungkin!! Dia merasa tak yakin, tapi mendadak hatinya berdebar juga. Dan dia sadar betul bahwa sekarang dia tidak dalam keadaan tertidur. Jadi semua ini bukanlah mimpi.
Bersambung ...
Terpikir olehnya, sampai kapan hatinya akan terus menerus tenggelam dalam kebimbangan? Bila tak ada keberanian memutuskan satu persoalan, sampai kapan pun tak akan pernah bertemu kebahagiaan. Bila ingin ada perubahan ke arah depan, dia memang harus berani melangkah. Tapi bila ternyata kegagalan masih berpihak padanya, harus rela juga menerimanya. Setiap pilihan yang diambil ada resikonya, dan sesungguhnya, hidup adalah resiko itu sendiri.
Secepat gerakan jarum jam penunjuk detik, Dzulfikar sudah kembali berada di hadapannya, menunggu jawaban yang suatu saat harus bisa dipertanggungjawabkan.
Di menit-menit terakhir, dia masih menimbang-nimbang. Bila dia bersedia menerima Zul sebagai suami, sederet kewajiban harus segera dilaksanakan. Bila dia rela menerima kedua anak Zul sebagai anaknya juga, segudang tugas sebagai seorang ibu, harus segera ditunaikan. Tapi tentu saja semua itu ada imbalannya. Sudah menjadi sunnatullah, amal kebaikan sebesar dzarrah pun akan ada pahalanya. Dan sebaliknya, perbuatan buruk sebesar dzarrah pun akan mendapat balasan. Pahala atas ketaatan seorang istri pada suami sudah menantinya. Pahala atas kerelaannya mendidik dan membesarkan anak-anak dengan penuh kasih sayang juga tengah menunggunya. Bismillaahirrahmaanirrohiim, ya Allah semoga pilihanku kali ini adalah pilihan yang terbaik dalam hidupku. Dan aku memilihnya semata-mata untuk mencari ridho-Mu ya Allah. Semua kata hatinya itu mendorongnya untuk memberikan jawaban dengan mantap.
“Malam ini adalah malam yang bersejarah bagiku, karena pada malam ini aku masih berkenan dipilih. Dengan begitu aku bukan lagi seorang pecundang.” Jawabnya.
“Abang mohon, cari kalimat yang jernih, biar Abang bisa langsung paham maksudmu!” Pinta Dzulfikar.
“Aku menerima ajakanmu!” Tiga kata yang sangat jernih menurutnya. Tapi si pria masih menuntutnya agar memperjelas dan mempertegas jawaban itu.
“Ajakan yang mana? Ajakan makan malam atau….??”
“Aku besedia menjadi istrimu dan menjadi ibu anak-anakmu!”
Mendengar itu terlihat senyum Dzulfikar mengembang, pertanda hatinya senang, puas dan tentu saja bahagia.
“Terima kasih, Anis.”
“Tapi ada satu permintaanku yang mesti dicatat dalam hati Abang!” Katanya lagi.
“Apa itu?”
“Aku adalah wanita yang tidak bisa berkompetisi. Selalu menjadi perempuan yang dikalahkan. Oleh karena itu, tolong jangan sekali-kali menyuruhku bersaing dengan wanita lain. Jangan pernah memunculkan perempuan lain sebagai pesaingku, itu saja!” Katanya lagi kemudian.
“Oh itu. Jangan khawatir. Abang ditinggalkan oleh ibunya anak-anak sudah begitu lama. Jika Abang mau, mungkin dari dulu sudah meminang orang. Tujuh tahun Abang hidup sebagai widower. Tidak pernah terpikir untuk mencari pasangan secepatnya. Apalagi berganti-ganti. Menurut Abang, mencari calon istri itu ternyata jauh lebih sulit dari pada mencari jarum di dasar lautan. Masalahnya Abang punya anak. Bila salah memilih, sudah pasti anak-anaklah yang menjadi korban pertama kesalahan itu.” Keterangan Dzulfikar panjang lebar.
“Semoga aku bisa memegang amanah baru ini dengan teguh dan sabar,” jawabnya.
“Mudah-mudahan,” Jawab laki-laki itu pula sambil memegang kedua tangannya. Dan jari-jari tangan mereka bertaut dengan eratnya, seakan tak ingin lepas selamanya.
***
Hari ini dia seolah-olah terlahir kembali ke dunia. Semuanya seperti baru dalam pandangannya. Tirai kelabu yang selama ini terpasang di jendela hatinya, menghilang dengan sendirinya. Dia menyongsong hari-hari indah dengan segudang gairah. Langkahnya tak bimbang lagi.
Minggu depan Dzulfikar berencana mempertemukan dia dengan anak-anaknya. Satu babak dalam kehidupannya yang cukup mendebarkan. Dia khawatir anak-anak Zul tak berkenan dengan kehadirannya, meskipun Dzulfikar pernah bilang, semua itu bisa diatur asal mereka berdua bisa memilih pendekatan yang tepat.
Dan kekhawatiran itu terbawa juga ke tempat kerjanya. Pikirannya tak bisa lepas dari persoalan bagaimana cara melaksanakan pendekatan yang jitu agar anak-anak Zul rela menerima dia menjadi bagian dari hidup mereka. Meskipun sudah bertahun-tahun dia menjadi guru, yang setiap hari bercampur baur dengan anak-anak remaja, dan selalu berhasil menyelami hati dan perasaan mereka, tapi tetap saja rencana pendekatan pada anak-anak Zul nanti adalah sebuah tantangan tersendiri, dan belum tentu dia mampu dan sukses melaksanakannya.
Dia berusaha melupakan sejenak kekhawatirannya itu dengan melakukan kegiatan bersih-bersih ruangan. Sambil menunggu kedatangan orang tua murid yang memang hari ini dipanggil untuk menemuinya, dia membersihkan dan merapikan lab komputer. Setelah menyapu debu-debu yang banyak menempel pada komputer dan mejanya dengan lap, diteruskan dengan menyusun buku-buku yang bertumpuk tak beraturan menjadi susunan yang rapi di dalam lemari.
Dalam surat panggilan orang tua kemarin yang dititipkan pada salah seorang siswa kelas 3 H, dia mengundang orang tua Lewi untuk datang pada jam 9 pagi. Sekarang sudah lewat tiga puluh menit. Sayangnya orang tua anak itu tidak memiliki handphone maupun pesawat telepon di rumahnya, sehingga sulit dihubungi secara langsung. Sudah satu minggu ini anak itu tidak masuk sekolah, tapi teman-temannya sering memergokinya setiap hari berangkat pagi-pagi dari rumah dengan memakai pakaian seragam.
Terdengar suara orang mengetuk pintu lab. Dia segera membukanya. Mang Dadan (pesuruh sekolah) memberitahukan bahwa ada seseorang yang mau bertemu dengannya.
“Suruh dia menemui saya di sini, tolong ya, Mang!”
“Mangga, Bu,” kata pesuruh itu sambil segera berlalu.
Ketika dia sedang mengeluarkan buku absensi anak kelas 3 H, orang itu sudah berada di ambang pintu. Seperti biasa, dia menyambut ramah setiap orang tua siswa yang telah sudi memenuhi undangannya.
“Silahkan masuk, Pak!.” Katanya. Sambil mempersilahkan tamunya untuk duduk.
“Bapak ini orang tua kandung Lewi?” Tanyanya setelah tamu itu duduk berhadapan dengannya.
Laki-laki itu tak segera menjawab. Malah kelihatannya kikuk. Ada apa dengan tamu ini? Pikirnya.
“Putra Bapak sudah seminggu ini tidak masuk sekolah tanpa berita. Apakah dia dari rumah berangkat setiap hari?” Tanyanya lagi.
“Jadi ini yang bernama Ibu Rengganis itu?” Laki-laki itu malah balik bertanya.
“Betul, saya wali kelas 3 H. Silahkan, Bapak jangan sungkan-sungkan. Saya mengundang Bapak untuk membicarakan dan menyelesaikan masalah “anak” kita.
“Maaf, saya bukan orang tuanya..siapa tadi?” Kata laki-laki itu.
“Oh? Bukan orang tua kandung maksudnya?”
Sesaat lelaki itu terdiam. Matanya memancarkan sinar yang aneh, seaneh sikapnya pada detik-detik ini.
“Tak masalah, siapa pun yang hadir, yang penting bisa mewakili orang tua kandungnya,” katanya lagi.
“Aku datang dari tempat yang sangat jauh, menyebrangi lautan luas untuk sampai di tempat ini. Website SMP 4 banyak membantuku, sampai akhirnya aku bisa menemukanmu di sini.” Sinar mata yang aneh itu kembali menyergapnya. Dia baru tersadar, bahwa orang ini tak ada hubungannya sama sekali dengan muridnya yang bernama Lewi Nofemena. Dia berpikir sesaat, siapa gerangan orang ini?
Di ruangan ini sepi…hening…Di luar terdengar riuh rendah suara gelak tawa dan teriakan anak-anak sekolah yang sedang menikmati jam istirahatnya.
“Sungguh sebuah keajaiban, aku bisa menemuimu saat ini. Akhirnya terlaksana juga aku berbincang-bincang denganmu secara langsung. Apa kabar, Nice?” Kata orang itu lagi.
Nice?…Nice, kata pria ini? Apa dia tak salah dengar?…Panggilan yang baru saja diberikan laki-laki ini untuknya mengingatkan dia pada seseorang. Jadi…yang ada di hadapannya ini adalah….Fauzi?….Akh! Tidak mungkin!! Dia merasa tak yakin, tapi mendadak hatinya berdebar juga. Dan dia sadar betul bahwa sekarang dia tidak dalam keadaan tertidur. Jadi semua ini bukanlah mimpi.
Bersambung ...
|
|
darwys
| terimakasih atas kunjungan anda |
|


0 komentar:
Posting Komentar