;

love bagian 12


Akiko Acellia 23 Agustus jam 15:39 Balas Laporkan
LOVE Bagian 12

Dan malam ini, di tengah temaramnya lampu-lampu hias di ruang makan sebuah restoran, dia sedang berhadapan dengan laki-laki yang akan mengungkapkan sesuatu yang penting untuk menentukan episode hidupnya selanjutnya. Kebetulan suasana restoran itu tak begitu ramai, malah terkesan sepi, sebab hari ini hari kerja, bukan akhir pekan. Dengan begitu mereka berdua lebih bisa menikmati menu favorit, serta lebih leluasa mengungkapkan segenap perasaan masing-masing yang tengah “bergemuruh” pada saat ini, baik melalui kata-kata maupun dengan bahasa isyarat yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.

“Sesuai janjiku tadi pagi di telepon, malam ini ada sesuatu yang ingin Abang bicarakan.” Kata pria itu. Pada detik-detik ini, tiba-tiba sosok Zul di matanya begitu mempesona. Stelan jas yang dikenakannya bergaya eksekutif muda, dengan wangi parfum yang ia suka, mampu membuatnya terpana. Dan satu lagi, cara berbicaranya yang elegant, jauh dari kata-kata murahan, untuk pertama kalinya mampu pula membuat jantungnya berdebar.

“Tentang apa?” Dia hanya bisa mengeluarkan dua buah kata. Masih terpana.
“Tentang banyak hal.” Laki-laki itu menatapnya penuh arti. Dia balas menatap. Dan sinar mata teduh pria itu membuatnya jadi salah tingkah.
“Pada malam ini, perkenankanlah Abang mengajukan sebuah permintaan.”
“Iya, tentang apa?” Dia masih salah tingkah.
“Abang berharap, Anis mau jadi istri Abang!” Kalimat itu diakhiri dengan senyum manis.
Sesaat dia merasa bingung. Rasanya terlalu dini kupingnya mendengar permintaan ini. Dan dia merasa malam ini bukan waktu yang tepat untuk menjawabnya.
“Bagaimana, Nis?” Terpancar dari raut muka laki-laki itu, hatinya sedang dalam keaadaan harap-harap cemas, menunggu sebuah kepastian.
“Maaf, aku tidak bisa menjawabnya malam ini. Berilah aku kesempatan untuk berpikir.” Dia memberanikan diri mengajukan tenggang waktu.
“Kenapa jawabannya harus ditunda-tunda? Bukankah kita sudah sama-sama dekat? Direstui pula oleh ibumu. Dan usia kita sudah sama-sama tak muda lagi, kita dikejar waktu. Apa yang menjadi ganjalanmu selama ini, hingga tidak siap menjawabnya?” Pertanyaan laki-laki itu memberondong seperti peluru yang ditembakkan dari sebuah senapan.
“Andai Abang tahu tentang riwayat rumah tanggaku dulu, mungkin Abang akan maklum pada sikapku ini. Ada dua faktor yang membuat aku sedikit trauma untuk menikah lagi. Apakah ibuku pernah bercerita tentang ini?” Dia mencoba menjelaskan semuanya dengan tenang.
“Pernah sih. Tapi Abang tidak tahu, apa saja dua faktor yang membuatmu trauma itu?”
“Pertama, aku takut dikhianati lagi. Abang pasti lebih tahu, setiap orang siapa pun itu, ingin dicintai sepenuh hati. Siapa sih yang rela membagi cinta kekasihnya kepada perempuan lain? Rasanya tak ada. Semua wanita berharap dicintai dan dikasihi sepenuhnya, tak ingin tersaingi. Dan laki-laki, kadang-kadang tak mengerti apa maunya wanita, atau pura-pura tak mengerti. Nah aku takut hal itu terjadi lagi.”
“Dan kedua?” Pria ini tak sabar menunggu kelanjutan perkataannya.
“Ketahuilah, aku seorang perempuan mandul. Apa yang bisa Abang harapkan dari wanita seperti aku ini?” Katanya dengan nada sendu. Kata hatinya, apakah selanjutnya Zul akan mundur teratur atau terus maju setelah mengetahui semuanya? Dia sudah pasrah sejak jauh-jauh hari.
Hening sejenak. Keduanya sedang sama-sama berusaha mengolah perasaan, agar bisa mengajukan argumen yang tidak membuat hati pasangannya tersinggung.

Hidangan yang tersaji pada dua piring besar di meja sudah habis, disantap keduanya, tinggal beberapa dessert yang menunggu dihabiskan juga.

“Dengarkan Anisku sayang, kedekatan kita sudah berjalan lama, bukan baru sehari dua hari. Abang rasa kita sudah sama-sama maklum akan keadaan masing-masing. Sudah seharusnya kita mencintai pasangan kita dengan segala kekurangan maupun kelebihannya. Begitu pun kamu, Abang mohon kamu mau menerima Abang dengan segala kekurangan dan kelemahan seorang Dzulfikar.”

“Lalu, apakah Abang rela rumah tangga kita tak dihiasi oleh tangisan, teriakan, maupun canda ria anak-anak?” Dia mencoba menyelami perasaan laki-laki yang sedang lekat menatapnya, meskipun dia tahu betul bahwa hati orang itu tak akan pernah bisa terselami.
“Abang tak akan pernah menuntut Anis untuk bisa melahirkan.” Pria itu menjawab dengan mantapnya.

“Alasannya?” Dia tak percaya akan jawaban yang baru saja didengarnya.
“Mau tahu alasannya?” Laki-laki itu masih menatapnya. Dan bibirnya tersenyum. Sepertinya buat laki-laki ini hidup bukanlah beban, tapi hidup adalah rangkaian momen-momen yang menyenangkan.

“Katakan, apa dong alasannya?” Giliran dirinya yang penasaran.
“Abang sengaja merahasiakan semua ini. Sebab takut kehilanganmu, takut Anis mundur sebelum kita sempat mengenali diri kita masing-masing. Abang berwanti-wanti pada ibumu untuk tidak menceritakan semuanya, sampai tiba waktunya nanti. Dan sekarang telah sampailah pada waktu yang dijanjikan itu.”

“Hey, Abang sengaja ya mengulur-ngulur waktu dan bicara berbelit-belit biar aku pusing mendengarnya? Berani-beraninya lagi bersekongkol sama ibuku! Emang rahasia apaan?” Mendengar itu Zul malah tertawa senang.
“Sadar nggak Nis, kalau kamu lagi cemberut gitu lucu deh kelihatannya.”
“Sekarang kita kan lagi meeting ceritanya. Seriuslah, jangan bercanda dulu!” Protesnya lagi.

“OK. Simak baik-baik acara buka-bukaan ini. Dari perkawinanku terdahulu, aku sudah dikaruniai anak, dua orang, laki-laki dan perempuan. Abang pikir cukuplah dua saja. Tak mau tambah lagi. Andai kita ditakdirkan berjodoh, anak-anak itu adalah anakmu juga. Dan rumah kita tak akan sepi dari teriakan mereka, sebab anak-anakku sedang masa-masanya senang berantem.”

Dia sedikit terkejut mendengarnya. Kenapa Zul baru cerita sekarang?
“Dan ibunya?” Dia menyela pembicaraan laki-laki itu.
“Ibunya meninggal ketika anak-anakku berumur balita. Dia menderita gagal ginjal hingga tak tertolong.” Pria itu diam sejenak, barangkali pikirannya sedang menerawang peristiwa sekian tahun yang lalu, yang membuat hati pria itu tiba-tiba merasa pilu.
“Sekarang anak-anakmu umur berapa?”
“Si Sulung, laki-laki ganteng kaya bapaknya, berumur dua belas tahun, Si Bungsu perempuan, cantik seperti calon mamanya ini, umurnya sepuluh tahun.”

Dia berusaha untuk tersenyum, padahal dirinya masih terkaget-kaget mendengar pengakuan jujur Dzulfikar.
“Dan giliranmu untuk menjawab pertanyaanku tadi, bersediakah menjadi istriku? Relakah menjadi ibu anak-anakku? Tolong, jawabannya jangan ditunda sampai esok hari, apalagi diundur-undur sampai minggu dan bulan depan, bisa-bisa Abang merana karenanya…!”

“Beri aku waktu sepuluh menit untuk menimbang-nimbang!” Dia masih mengajukan tenggang waktu. Dalam waktu sepuluh menit ini dia harus konsentrasi berpikir dan bernalar, agar tidak salah menentukan pilihan.
Entah kenapa, pikirannya berputar kembali ke masa-masa ketika dia sering chatting dengan Fauzi. Hallo, apa kabar Australia? Kenapa kamu tak mau menampakkan diri, melalui tulisan sekalipun, Uzi? Sampai kapan kamu bersembunyi seperti itu?

Dalam kebimbangannya, dia menimbang-nimbang, jika dia menerima tawaran Dzulfikar, bagaimana dengan Fauzi? Dia khawatir suatu saat Fauzi datang kembali padanya menagih kesetiaannya. Tapi bila dia memilih Fauzi, Apa yang akan dia alami di kehidupan selanjutnya? Bagaimana mungkin dia memilih teman hidup yang keberadaannya tak pasti? Bagaimana bila ternyata hati Fauzi juga telah berbagi seperti dalam mimpinya waktu itu?

“Silahkan, Abang tinggal dulu ya, mau ke toilet sebentar.” Dzulfikar bangkit dari kursinya, sepertinya sengaja memberi kesempatan pada Anis untuk merenung sejenak, dalam rangka memberi jawaban yang diharapkan akan memuaskan dan melegakan hatinya.

Bersambung ...


focus berita handphone, laptop, gadget, tablet, computer

darwys - 22.12
terimakasih atas kunjungan anda

0 komentar:

Posting Komentar