LOVE Bagian 11
Kemudian dia mengajak Dzulfikar pulang. Terasa ada yang tidak beres dengan badannya. Kepalanya terasa berat. Padahal biasanya bila sudah minum kopi, kepenatannya hilang seketika.
“Bang, kenapa ya badanku tiba-tiba sakit semua?” Katanya setelah mereka tiba di rumah.
“Mungkin masuk angin. Muka kamu kelihatan pucat, Nis.” Laki-laki itu menempelkan punggung tangan kanannya di jidat Anis.
“Suhu badanmu tidak normal, anget. Pasti sekarang pusing ya?”
“Duh, pusing banget! Perutku mual lagi.”
“Yu, kita pergi ke dokter sekarang juga!” Ajak pria itu.
“Nggak ah, besok saja. Aku masih cape.”
“Kan biar cepat sembuh. Di mana baju anget-nya? Abang ambilkan.”
“Di lemari kecil, di samping tempat tidur.”
Setelah semuanya siap mereka keluar rumah lagi, menemui dokter umum yang biasa berpraktek pada sore hari. Menurut diagnosis dokter, dia kelelahan, perlu istirahat beberapa hari dan meminum obat sesuai resep yang diberikan.
Selama seminggu dia istirahat total di rumah. Berusaha melupakan semua tugas-tugasnya di sekolah. Tapi, berhari-hari kondisi badanya tidak juga pulih. Dia sering menderita pusing yang hebat. Badannya semakin hari semakin lemas, tak nafsu makan. Setiap malam tiba suhu tubuhnya meninggi, tapi dia menggigil kedinginan, meriang. Perutnya sakit, melilit-lilit. Tubuh bagian belakang juga. Terasa seperti ada ribuan jarum yang menusuk-nusuk di sekitar pinggul dan bokongnya.
Karena merasa tidak kuat menahan semuanya, dia menyuruh pembantunya untuk interlokal ke Jakarta. Dengan sangat terpaksa dia memberitahukan keadaannya pada ibunya, padahal sebenarnya dia tak ingin merepotkan ibunya atau siapa pun.
Dalam keadaan seperti itu, mimpinya pada suatu malam masih sempat disinggahi sosok Fauzi. Sesuai dengan kondisi tubuhnya yang buruk, mimpinya pun buruk juga. Tak disangka, dalam mimpi itu hati Fauzi ternyata berbagi. Dengan jujurnya laki-laki itu mengaku, bahwa dia tengah dekat dengan seorang wanita yang bisa membuatnya selalu happy. Satu pengkhianatan yang membuatnya merintih kesakitan. Dalam pengakuan selanjutnya, pria itu pun masih membutuhkannya dan sama sekali tak hendak menendang dirinya. Sungguh sebuah keserakahan kaum lelaki pada umumnya!
Masih dalam mimpi malam itu, mereka bertengkar hebat. Akhirnya dia memutuskan untuk mengalah, mengundurkan diri sebagai orang terdekat pria ini. Mengalah, seperti ketika dia dikhianati oleh suaminya dulu. Mengalah adalah jalan satu-satunya yang ia pilih dalam segala bentuk persaingan agar sebuah masalah segera terselesaikan, tidak berlarut-larut berkepanjangan. Meskipun dengan begitu dia akan mendapat gelar “Sang Pecundang”.
Dalam mimpi itu pula Fauzi memohon dan memelas untuk tidak ditinggalkannya. Waktu dia melemparkan kalimat-kalimat yang bernada tajam ke arah Fauzi, muka laki-laki itu terlihat pucat dan badannya gemetar.
“Please Honey, aku mohon jangan marah. Badanku suka langsung gemetaran. Sudah kukatakan berkali-kali, kamu adalah segalanya, Nice. Sampai hari ini kamu tetap yang terbaik, really! “ Pintanya.
“Seharusnya kamu tidak menceritakan semua hal yang sebenarnya tak perlu kamu ceritakan padaku. Atau kalau memang maunya jujur, bersikaplah ksatria, pilih aku atau dia, jangan menginginkan keduanya. Ingat, aku juga punya hati, yang pasti sama dengan hati wanita itu, sama dengan hati yang kamu punya, sangat peka, sebab hati manusia bukanlah baja. Dan aku rasa, lebih baik hubungan ini kita akhiri sampai di sini!” Begitulah dia, jika tersinggung pasti keluar karakter buruknya, keras kepala.
“Kamu kan tahu sendiri keaadaanku sekarang, aku dalam keadaan sakit, kakiku tak sesempurna pria lain. Jangan membuat aku semakin sengsara tak berdaya. Please, jangan tinggalkan aku, Sayang!” Fauzi masih tidak mengerti juga dengan keputusannya.
“Aku lebih sakit lagi, Uzi. Luka hatiku berdarah-darah. Jangan mentang-mentang kamu tidak sempurna, lalu bisa semena-mena memperlakukan aku seperti itu!” Katanya lagi.
“Baik. Kalau begitu maafkan aku. Sekarang, katakanlah apa maumu. Aku akan melakukan semua kehendakmu. Aku akan jauhi semua teman-teman perempuanku. Demi kamu, aku akan delete semua chatter di list-ku, asal jangan kehilanganmu, kumohon!” Kedua telapak tangan lelaki itu berpadu dan di angkat mendekati dadanya, seperti gerakan orang yang sedang menyembah.
“Tidak usah sampai bertindak seperti itu! Kenapa tidak dari awal berpikir begitu. Sekarang sudah terlambat. Semua tindakanmu selanjutnya tak ada gunanya, hanya buang-buang energi dan waktu. aku sudah terlanjur kecewa. “ Sepertinya keputusannya kali ini tidak bisa diganggu gugat .
“Sayang, lihat keaadaanku, aku begitu gemetar mendengar semuanya. Entah apa yang terjadi pada diriku esok hari, mungkin lebih buruk lagi.” Kata laki-laki itu sambil berurai air mata. Baru kali ini dia melihat seorang laki-laki menangis, dalam mimpinya. Dia jadi tahu, sebenarnya Uzi adalah seorang yang berkepribadian lemah.
Dengan tenangnya dia menjawab, “Aku sudah pasrah, apa pun yang akan terjadi pada dirimu. Mungkin kekasih barumu itulah yang lebih bisa menolongmu dari pada aku!” Kemudian dia berlalu, meninggalkan seorang pria yang bermuka samar-samar mirip wajah pada selembar poto buram, yang tengah berdiri kaku, dalam mimpi itu.
Ketika dia mulai siuman, kepalanya masih terasa berat, otaknya seperti dibebani tumpukan batu-batu besar. Badannya panas dan sangat lemas. Dari ubun-ubun sampai ujung kaki, terasa amat sakit. Begitu matanya terbuka, dia terheran-heran dengan keadaan di sekelilingnya. Ya Allah, aku sedang berada di mana? Langit-langit ruangan itu berwarna putih, tembok juga putih, gordyn putih, kasur dan selimut yang sedang menutupi tubuhnya putih. Apakah aku sudah berada di suatu tempat di luar alam dunia? Pikirnya dengan perasan takut yang mencekam.
Dia mengangkat tangannya yang terasa begitu pegal. Astagfirullah, ternyata tangannya itu sedang dalam keaadan diinfus. Secara perlahan dia bisa menguasai gejolak perasaan takut dan cemasnya. Kesadarannya mulai pulih. Sekarang dia bisa menebak dengan yakin bahwa dirinya sedang dirawat di rumah sakit.
Tiba-tiba dia dikejutkan oleh sebuah suara yang sudah sangat intim dengan telinganya.
“Anis, Sayang…ini Mama, Nak…Kamu sudah sadar Sayang?” Kata ibunya sambil terisak.
“Apa yang telah terjadi, Ma? Sejak kapan Anis dibawa ke tempat ini?” Bisiknya. Dia baru menyadari, untuk berkata seperti itu pun dia kekurangan tenaga.
“Kamu jatuh pingsan di rumah. Ketika itu Juju panik, langsung interlokal ke Jakarta. Sekarang kita ada di rumah sakit. Tapi Mama tak khawatir lagi, kamu dalam perawatan dokter ahli.” Hibur ibunya.
“Alhamdulillah, sekarang kamu sudah sadarkan diri.” Suara seorang pria. Ketika dia menengok ke arah suara itu…Dzulfikar.
“Kenapa Abang ada di sini?” Suaranya lemah hampir tak terdengar.
“Abang sangat khawatir akan keadaanmu. Mungkin dalam beberapa hari ini Abang akan menungguimu di sini.”
“Tidak usah repot-repot, nanti gimana dengan pekerjaannya?”
“Tenang saja, Abang sudah ambil cuti tahunan selama seminggu.”
“Aku pengen pulang sekarang juga.” Dia merengek seperti anak kecil.
“Belum boleh, Sayang. Kamu terkena Typhus mesti bedrust dan tidak boleh banyak bergerak.” Kata ibunya.
Tangan laki-laki yang berdiri di sisinya mengelus-ngelus lembut lengannya. Pengaruhnya langsung terasa, dia jadi sedikit tenang, dan tentu saja senang, karena kenyataannya masih ada seorang pria yang protect pada dirinya.
Dalam keadaan tak berdaya dia masih sempat berpikir tentang laki-laki ini. Kenapa Dzulfikar begitu baik padanya? Sampai mau mengorbankan waktunya hanya untuk menunggui dirinya, di rumah sakit pula. Sebenarnya bagaimana perasaan laki-laki ini terhadapnya? Dia merasa amat penasaran.
Dzulfikar memang bukan Fauzi. Baik pribadi maupun perasaannya sulit ditebak. Zul lebih sering mengajaknya berkomunikasi tentang perasaan lewat body language. Dan sebagai wanita yang akhir-akhir ini mulai akrab dengannya, dia harus pandai menafsikan tanda-tanda itu, untuk kemudian menjadi jelas jawabannya, bahwa Dzulfikar telah jatuh hati padanya.
Perjalanan hidupnya mengisi hari-hari dengan terbaring di rumah sakit membuahkan kisah baru. Kisah kedekatan antara dia dengan Dzulfikar. Perlahan tapi pasti hatinya mulai luluh, mau menerima pria itu sebagai bagian dari hidupnya. Semua itu selain demi kasih sayangnya pada ibunya seorang, juga dia merasa telah berhutang budi. Kesembuhannya tidak terlepas dari peran pria itu yang telah rela menunggui dan meladeninya di saat dia sedang membutuhkan pertolongan.
Akhirnya dirinya terbiasa dengan karakter Dzulfikar yang tidak romantis. Malah hal itu membuatnya merasa aman dan nyaman. Sebab menurut pengalaman dan pengamatannya, bila seorang pria bersikap begitu romantis ketika bertemu kekasihnya, perlu dicurigai, boleh jadi pria itu akan bersikap sama seperti itu pada perempuan lain.
Bersambung ...
Kemudian dia mengajak Dzulfikar pulang. Terasa ada yang tidak beres dengan badannya. Kepalanya terasa berat. Padahal biasanya bila sudah minum kopi, kepenatannya hilang seketika.
“Bang, kenapa ya badanku tiba-tiba sakit semua?” Katanya setelah mereka tiba di rumah.
“Mungkin masuk angin. Muka kamu kelihatan pucat, Nis.” Laki-laki itu menempelkan punggung tangan kanannya di jidat Anis.
“Suhu badanmu tidak normal, anget. Pasti sekarang pusing ya?”
“Duh, pusing banget! Perutku mual lagi.”
“Yu, kita pergi ke dokter sekarang juga!” Ajak pria itu.
“Nggak ah, besok saja. Aku masih cape.”
“Kan biar cepat sembuh. Di mana baju anget-nya? Abang ambilkan.”
“Di lemari kecil, di samping tempat tidur.”
Setelah semuanya siap mereka keluar rumah lagi, menemui dokter umum yang biasa berpraktek pada sore hari. Menurut diagnosis dokter, dia kelelahan, perlu istirahat beberapa hari dan meminum obat sesuai resep yang diberikan.
Selama seminggu dia istirahat total di rumah. Berusaha melupakan semua tugas-tugasnya di sekolah. Tapi, berhari-hari kondisi badanya tidak juga pulih. Dia sering menderita pusing yang hebat. Badannya semakin hari semakin lemas, tak nafsu makan. Setiap malam tiba suhu tubuhnya meninggi, tapi dia menggigil kedinginan, meriang. Perutnya sakit, melilit-lilit. Tubuh bagian belakang juga. Terasa seperti ada ribuan jarum yang menusuk-nusuk di sekitar pinggul dan bokongnya.
Karena merasa tidak kuat menahan semuanya, dia menyuruh pembantunya untuk interlokal ke Jakarta. Dengan sangat terpaksa dia memberitahukan keadaannya pada ibunya, padahal sebenarnya dia tak ingin merepotkan ibunya atau siapa pun.
Dalam keadaan seperti itu, mimpinya pada suatu malam masih sempat disinggahi sosok Fauzi. Sesuai dengan kondisi tubuhnya yang buruk, mimpinya pun buruk juga. Tak disangka, dalam mimpi itu hati Fauzi ternyata berbagi. Dengan jujurnya laki-laki itu mengaku, bahwa dia tengah dekat dengan seorang wanita yang bisa membuatnya selalu happy. Satu pengkhianatan yang membuatnya merintih kesakitan. Dalam pengakuan selanjutnya, pria itu pun masih membutuhkannya dan sama sekali tak hendak menendang dirinya. Sungguh sebuah keserakahan kaum lelaki pada umumnya!
Masih dalam mimpi malam itu, mereka bertengkar hebat. Akhirnya dia memutuskan untuk mengalah, mengundurkan diri sebagai orang terdekat pria ini. Mengalah, seperti ketika dia dikhianati oleh suaminya dulu. Mengalah adalah jalan satu-satunya yang ia pilih dalam segala bentuk persaingan agar sebuah masalah segera terselesaikan, tidak berlarut-larut berkepanjangan. Meskipun dengan begitu dia akan mendapat gelar “Sang Pecundang”.
Dalam mimpi itu pula Fauzi memohon dan memelas untuk tidak ditinggalkannya. Waktu dia melemparkan kalimat-kalimat yang bernada tajam ke arah Fauzi, muka laki-laki itu terlihat pucat dan badannya gemetar.
“Please Honey, aku mohon jangan marah. Badanku suka langsung gemetaran. Sudah kukatakan berkali-kali, kamu adalah segalanya, Nice. Sampai hari ini kamu tetap yang terbaik, really! “ Pintanya.
“Seharusnya kamu tidak menceritakan semua hal yang sebenarnya tak perlu kamu ceritakan padaku. Atau kalau memang maunya jujur, bersikaplah ksatria, pilih aku atau dia, jangan menginginkan keduanya. Ingat, aku juga punya hati, yang pasti sama dengan hati wanita itu, sama dengan hati yang kamu punya, sangat peka, sebab hati manusia bukanlah baja. Dan aku rasa, lebih baik hubungan ini kita akhiri sampai di sini!” Begitulah dia, jika tersinggung pasti keluar karakter buruknya, keras kepala.
“Kamu kan tahu sendiri keaadaanku sekarang, aku dalam keadaan sakit, kakiku tak sesempurna pria lain. Jangan membuat aku semakin sengsara tak berdaya. Please, jangan tinggalkan aku, Sayang!” Fauzi masih tidak mengerti juga dengan keputusannya.
“Aku lebih sakit lagi, Uzi. Luka hatiku berdarah-darah. Jangan mentang-mentang kamu tidak sempurna, lalu bisa semena-mena memperlakukan aku seperti itu!” Katanya lagi.
“Baik. Kalau begitu maafkan aku. Sekarang, katakanlah apa maumu. Aku akan melakukan semua kehendakmu. Aku akan jauhi semua teman-teman perempuanku. Demi kamu, aku akan delete semua chatter di list-ku, asal jangan kehilanganmu, kumohon!” Kedua telapak tangan lelaki itu berpadu dan di angkat mendekati dadanya, seperti gerakan orang yang sedang menyembah.
“Tidak usah sampai bertindak seperti itu! Kenapa tidak dari awal berpikir begitu. Sekarang sudah terlambat. Semua tindakanmu selanjutnya tak ada gunanya, hanya buang-buang energi dan waktu. aku sudah terlanjur kecewa. “ Sepertinya keputusannya kali ini tidak bisa diganggu gugat .
“Sayang, lihat keaadaanku, aku begitu gemetar mendengar semuanya. Entah apa yang terjadi pada diriku esok hari, mungkin lebih buruk lagi.” Kata laki-laki itu sambil berurai air mata. Baru kali ini dia melihat seorang laki-laki menangis, dalam mimpinya. Dia jadi tahu, sebenarnya Uzi adalah seorang yang berkepribadian lemah.
Dengan tenangnya dia menjawab, “Aku sudah pasrah, apa pun yang akan terjadi pada dirimu. Mungkin kekasih barumu itulah yang lebih bisa menolongmu dari pada aku!” Kemudian dia berlalu, meninggalkan seorang pria yang bermuka samar-samar mirip wajah pada selembar poto buram, yang tengah berdiri kaku, dalam mimpi itu.
Ketika dia mulai siuman, kepalanya masih terasa berat, otaknya seperti dibebani tumpukan batu-batu besar. Badannya panas dan sangat lemas. Dari ubun-ubun sampai ujung kaki, terasa amat sakit. Begitu matanya terbuka, dia terheran-heran dengan keadaan di sekelilingnya. Ya Allah, aku sedang berada di mana? Langit-langit ruangan itu berwarna putih, tembok juga putih, gordyn putih, kasur dan selimut yang sedang menutupi tubuhnya putih. Apakah aku sudah berada di suatu tempat di luar alam dunia? Pikirnya dengan perasan takut yang mencekam.
Dia mengangkat tangannya yang terasa begitu pegal. Astagfirullah, ternyata tangannya itu sedang dalam keaadan diinfus. Secara perlahan dia bisa menguasai gejolak perasaan takut dan cemasnya. Kesadarannya mulai pulih. Sekarang dia bisa menebak dengan yakin bahwa dirinya sedang dirawat di rumah sakit.
Tiba-tiba dia dikejutkan oleh sebuah suara yang sudah sangat intim dengan telinganya.
“Anis, Sayang…ini Mama, Nak…Kamu sudah sadar Sayang?” Kata ibunya sambil terisak.
“Apa yang telah terjadi, Ma? Sejak kapan Anis dibawa ke tempat ini?” Bisiknya. Dia baru menyadari, untuk berkata seperti itu pun dia kekurangan tenaga.
“Kamu jatuh pingsan di rumah. Ketika itu Juju panik, langsung interlokal ke Jakarta. Sekarang kita ada di rumah sakit. Tapi Mama tak khawatir lagi, kamu dalam perawatan dokter ahli.” Hibur ibunya.
“Alhamdulillah, sekarang kamu sudah sadarkan diri.” Suara seorang pria. Ketika dia menengok ke arah suara itu…Dzulfikar.
“Kenapa Abang ada di sini?” Suaranya lemah hampir tak terdengar.
“Abang sangat khawatir akan keadaanmu. Mungkin dalam beberapa hari ini Abang akan menungguimu di sini.”
“Tidak usah repot-repot, nanti gimana dengan pekerjaannya?”
“Tenang saja, Abang sudah ambil cuti tahunan selama seminggu.”
“Aku pengen pulang sekarang juga.” Dia merengek seperti anak kecil.
“Belum boleh, Sayang. Kamu terkena Typhus mesti bedrust dan tidak boleh banyak bergerak.” Kata ibunya.
Tangan laki-laki yang berdiri di sisinya mengelus-ngelus lembut lengannya. Pengaruhnya langsung terasa, dia jadi sedikit tenang, dan tentu saja senang, karena kenyataannya masih ada seorang pria yang protect pada dirinya.
Dalam keadaan tak berdaya dia masih sempat berpikir tentang laki-laki ini. Kenapa Dzulfikar begitu baik padanya? Sampai mau mengorbankan waktunya hanya untuk menunggui dirinya, di rumah sakit pula. Sebenarnya bagaimana perasaan laki-laki ini terhadapnya? Dia merasa amat penasaran.
Dzulfikar memang bukan Fauzi. Baik pribadi maupun perasaannya sulit ditebak. Zul lebih sering mengajaknya berkomunikasi tentang perasaan lewat body language. Dan sebagai wanita yang akhir-akhir ini mulai akrab dengannya, dia harus pandai menafsikan tanda-tanda itu, untuk kemudian menjadi jelas jawabannya, bahwa Dzulfikar telah jatuh hati padanya.
Perjalanan hidupnya mengisi hari-hari dengan terbaring di rumah sakit membuahkan kisah baru. Kisah kedekatan antara dia dengan Dzulfikar. Perlahan tapi pasti hatinya mulai luluh, mau menerima pria itu sebagai bagian dari hidupnya. Semua itu selain demi kasih sayangnya pada ibunya seorang, juga dia merasa telah berhutang budi. Kesembuhannya tidak terlepas dari peran pria itu yang telah rela menunggui dan meladeninya di saat dia sedang membutuhkan pertolongan.
Akhirnya dirinya terbiasa dengan karakter Dzulfikar yang tidak romantis. Malah hal itu membuatnya merasa aman dan nyaman. Sebab menurut pengalaman dan pengamatannya, bila seorang pria bersikap begitu romantis ketika bertemu kekasihnya, perlu dicurigai, boleh jadi pria itu akan bersikap sama seperti itu pada perempuan lain.
Bersambung ...
|
|
darwys
| terimakasih atas kunjungan anda |
|


0 komentar:
Posting Komentar