;

love bagian 10


Akiko Acellia 23 Agustus jam 15:33 Balas Laporkan
LOVE Bagian 10

Mengajar anak-anak pun tidak sesemangat dulu. Bila tak terlalu penting, dia jarang menggunakan media internet dalam proses belajar mengajarnya. Baginya, internet bukan hal yang menarik lagi. Gelap terangnya dunia itu sudah ia pahami. Di cyber dia pernah tertawa bahagia, dan di cyber pula ia menangis karena kecewa.

Sekarang dia sedang belajar menapaki dunia realita, dunia di mana semua penghuninya bisa diraba, termasuk Dzulfikar, yang akhir-akhir ini sering mengunjunginya bila sedang bebas tugas. Memang skenario hidupnya harus seperti ini barangkali. Lambat laun dia menyadari semua ini dengan pasrah. Oleh karena itu dia tak pernah menolak bila Dzulfikar mengajaknya ke suatu tempat untuk tujuan refreshing, hitung-hitung terapi, pemulihan hatinya yang tengah merana kehilangan belahan jiwa secara tiba-tiba.

Kadang mereka berdua saja pergi ke café untuk sekedar nongkrong menikmati beberapa jenis makanan yang dipesan, diiringi pertunjukan musik liveshow. Bila awal bulan, Zul selalu mengajaknya ke toko buku, hunting buku-buku terbitan baru. Atau berjalan kaki menyusuri jalan yang rindang menikmati sejuknya udara sore kota Bandung sambil mencari jajanan yang enak di lidah tapi murah.

Kali ini pun seperti itu, mereka sudah cukup jauh berjalan menyusuri panjangnya Jalan Setia Budi. Ketika melihat bangku kosong yang permanen karena terbuat dari bata, Dzulfikar mengajaknya beristirahat dulu.

“Kenapa dari tadi diam saja, Nis? Apa yang sedang kamu pikirkan?”
“Nggak. Cuma sedikit cape.” Jawabnya.
“Cape? Ya sudah, kita duduk dulu di sini yu, sampai lelahnya hilang.”
“Atau barangkali ada sikapku yang kamu tidak suka?” Kata Dzulfikar lagi. Dia berpikir sejenak, rasanya tidak ada juga. Pada dasarnya Zul itu baik, malah baik banget. Hidupnya penuh vitalitas dan optimisme. Tapi ada satu hal yang tak ada padanya, yaitu sifat romantis. Kalau pun berbicara banyak, nada maupun isi pembicaraannya lurus-lurus saja. Sampai hari ini, dia belum pernah mendengar satu pun ungkapan Zul tentang ketertarikan laki-laki ini pada dirinya, apalagi kata-kata mesra seperti sayang, honey, darling, miss you, love you, dan sebagainya.

Dia jadi ingin mengajukan pertanyaan, hubungan yang sedang mereka jalini ini hubungan macam apa? Hubungan khusus atau cuma sekedar pertemanan? Bagi dia sih tak masalah mau condong ke arah mana kedekatan yang sudah berjalan tiga bulan ini. Yang terpenting harus ada kejelasan. Tapi dia tak berani terbuka tentang semua ini langsung pada orangnya. Jawaban yang keluar dari bibirnya bukan seperti apa yang sedang dipikirkannya.
“Nggak ada, Zul. Sikapmu selama ini baik-baik saja. Aku cuma pusing dikit.”
“Pusing? Kenapa tidak bilang dari tadi? Pasti kita tidak akan jalan sejauh ini. Anis…Anis…” Kata pria itu lagi. Dia bangkit dari duduknya, kemudian mengajak si wanita untuk segera bergegas meninggalkan tempat itu.
Entah kenapa, si wanita pikirannya jadi teringat kembali pada seseorang, seseorang yang sudah cukup lama berusaha dia lupakan. Lalu dia membandingkannya dengan laki-laki yang sedang berada di sampingnya ini. Jika yang sekarang sedang mendampinginya ini adalah Fauzi, mungkin dia akan merasa sedang dilindungi. Mungkin pula dari awal bertemu Fauzi sudah menghiburnya dengan kalimat-kalimat indah, lalu tangan Fauzi menggenggam tangannya, atau memeluk bahunya. Sinar matanya bergelora dan berbicara banyak tentang cinta. Tapi Dzulfikar? Menyentuh bahunya barang sebentar juga belum pernah. Saat menyebrang jalan raya saja dia tak mau menggandeng tangannya. Kata-katanya lugas tak bersayap. Pandangan matanya lurus ke depan, sekali-sekali meliriknya dan sinarnya terpancar tanpa makna. Andai Zul menganggap dia kekasihnya, Zul adalah seorang kekasih yang dingin. Untuk teman diskusi, OK lah, untuk teman jajan juga lumayan, pria tinggi ramping ini selalu bersedia menjadi donatur. Tapi untuk dijadikan pendamping hidup? Dia tidak bisa membayangkannya. Akan seperti apa atmosfir rumah tangganya bila sang kepala rumah tangga terlalu serius, tak suka humor, dan bersikap sedingin es?

“Mau terus pulang, atau mau mampir dulu ke rumah makan?” Kata pria itu setelah keduanya ada di dalam mobil yang sengaja diparkir agak jauh dari bangku permanen tadi.
“Ke Indah café aja, aku kangen pada secangkir kopi panas.”
“OK.” Kata pria itu sambil memutar mobilnya ke arah jalan menuju café yang dimaksud.

Suasana di dalam café cukup ramai oleh pengunjung yang ingin menikmati akhir pekan. Dia dan laki-laki itu memilih duduk di kursi yang agak tersembunyi, terhalang oleh tanaman rindang yang tumbuh dalam pot besar.

Dari panggung, seniman-seniman penghibur para tamu sedang bersiap-siap akan menghadirkan lagu-lagu requaest para pengunjung. Tak lama kemudian terdengarlah suara merdu dua orang penyanyi membawakan lagu “Cintai”-nya Melly Guslow featuring Krisdayanti.
Suasana di sekitar mereka berdua cukup romantis. Tapi pria ini tak terpengaruh oleh keadaan, dia tengah khusu dengan buku barunya. Dan si wanita bengong sendiri, sambil sesekali menyeruput kopi panas kesukaannya.

Lagu yang tengah dibawakan penyanyi café itu sampai pada lirik:

Cinta tegarkan hatiku
tak mau sesuatu merenggut engkau
naluriku berkata tak ingin terulang lagi
kehilangan cinta hati bagai raga tak bernyawa

Aku junjung petuahmu
cintai dia yang mencintaiku
hatinya dulu berlayar
kini telah menepi
bukankah hidup kita akhirnya harus bahagia…

Hatinya kembali merindukan orang itu, orang yang tiba-tiba menghilang tak tentu rimbanya setelah mengunjunginya dalam mimpi. Fauzi, di mana engkau berada saat ini? Apa salahku hingga kamu tak mau memberitahuku tentang keberadaanmu sekarang? Batinnya.
“Kamu menyenangi lagu itu, Nis?”
“Iya, Uzi. Itu lagu favoritku.”
“Uzi? Siapa tuh Uzi?” Tanya laki-laki itu sambil memandang wajahnya keheranan.
“Eh, sorry. Tadi aku sedang berpikir tentang teman di sekolahku itu. Dia juga senang lagu ini.” Dia berusaha bersikap wajar dengan mencoba tersenyum.
“Teman, apa teman?” Kata pria itu lagi.
“Ya teman lah, kenapa memang kalau dia bukan teman?” Dia sedikit gusar pada laki-laki di hadapannya. Dia kurang suka dengan nada menyelidik pria itu. Akhirnya mereka terdiam. Si pria asyik sendiri dengan buku bacaannya, si wanita tak mau kalah, juga asyik sendiri dengan khayalannya tentang pria Australia pujaannya.

Bersambung ...


focus berita handphone, laptop, gadget, tablet, computer

darwys - 22.17
terimakasih atas kunjungan anda

0 komentar:

Posting Komentar