;

ALAM berbalut CINTA


Angela Lin 22 September jam 12:36 Balas Laporkan
… AIR
Yang mengalir dari ketinggian puncak gunung
Akan berhenti di sini
Danau Tenang kedamaian
Abadi…

“Cintailah aku,” ucap Riak kepada rembulan yang hanya diam tak menyahut.

Sudah berbagai cara dilakukan Riak untuk merayu Rembulan namun selalu diam yang didapatinya sebagai jawaban. Membiarkan permukaan wajah tenangnya memantulkan sosok Bulan yang indah, bercumbu walau dengan bayangan saja. Mencipta puisi cinta yang dititipkan kepada Angin, bercerita hati yang telah lama dingin. Tiada jawaban dan hanya kesunyian.

“Sekali ini saja, bicaralah padaku,” ucap Riak kepada Rembulan yang memandang sayu.
“Aku tak bisa.”

… BULAN
Yang bersuara lewat pancaran sinar
Akan terkirim ke sini
Dimana Riak selalu menanti
Setia…

“Apakah yang kau tak bisa? Berbicara padaku kah?”
“Tidak! Mencintaimu.” Rembulan tersenyum.

Ough! Riak bergetar sedikit. Permukaan danau terlihat tak tenang. Tak pernah terjadi seperti ini karena memang Riak tak pernah merasakan cinta sebelumnya. Hanya memandang apapun yang ada di atasnya dan hanya mampu menilai sesuatu apa adanya, tak lebih.

“Mengapa kau tak bisa mencintaiku? Sementara kau selalu hadir di sini, di setiap sunyi malam. Kau selalu memberikan senyum teduhmu, gelisahmu, kebahagiaanmu, dan harapanmu. mengapa? Berikan aku satu alasan saja.”
Kembali Rembulan tersenyum. Malam ini senyumannya menyiratkan kepedihan. Terlihat dari cahayanya yang meredup, membiaskan prana hidup.

“Bagiku mencintai berarti memiliki. Aku di sini hanya mampu melihatmu, menyinarimu, mengagumimu, tanpa bisa menyentuhmu, memelukmu, memilikimu utuh. Bukankah kau pun menyadari hal yang sama, wahai Riak.”
Jikalah saja Riak mampu menunduk dan menghindar dari menatap Rembulan, maka ia akan melakukan hal itu. Pahit merasakan kenyataan yang memang nyata.

“Bulan, cinta tak harus saling memiliki.”
“Riak, cinta menginginkan sentuhan kasih-sayang.”
“Bulan, aku membiarkan cahayamu menyentuhku!”
“Riak! Cahayaku hanya semu!!”
“Bulan……”
Riak tercekik pekik. Jeritannya hanya dapat terlihat dari getaran danau yang semakin hebat. Perlahan ia mencoba mengatasi perasaannya yang bergelombang gejolak. Akhirnya hanya bisa pasrah dengan segala hal yang terjadi. Rembulan memanglah tak akan bisa dimiliki.

Semenjak saat itu, Riak pun mencoba menghilangkan perasaanya kepada Rembulan dan mencari cinta yang lain. Pada suatu saat di musim gugur, Angin menghadirkan Dedaunan menyentuh danau Riak, menemani kesepiannya. Namun, Dedaunan hanya bisa bercerita sedikit. Hadir, kemudian mati.

Di musim yang lain, Salju datang ke dalam hatinya. Lama mereka berbincang tentang kehidupan yang telah dijalani. Berminggu-minggu mereka mencurahkan isi hati yang terdalam. Saling bicara, saling sentuh, bersetubuh, Riak dan Salju saling mengingini. Hingga saatnya Salju harus pergi dan berjanji akan kembali setahun mendatang. Riak pun sabar menanti. Bertahun-tahun mereka menjalin hubungan cinta yang sangat indah.

… SALJU
Yang hadir dengan tubuh dingin
Akan selalu hadir
Tanpa semu yang bertabir
Utuh…

Hingga tiba di suatu musim, Salju tak menepati janjinya n’tuk hadir. Riak bertanya pada Angin, pada Bulan, pada Bintang, “Dimanakah Salju, kekasihku?” Tiada yang tau.

Musim berikutnya pun Salju kembali tak datang. Riak gelisah dan kembali menebarkan tanya ke mana-mana. Bulan tak sanggup melihat penderitaan sosok yang pernah mencintainya yang selalu terekam di setiap malam. Di suatu pagi, Bulan sengaja pulang terlambat untuk mencari tau.

“Bulan! Sudah saatnya kau pulang!” Mentari di pagi itu terlihat menyeramkan. Biasanya, di musim seperti ini Mentari datang ke Bumi yang mengenakan jubah ozon pelindung. Namun kali ini tidak. Hanya pakaian tipis yang tembus pandang di tubuh Bumi yang ada.

“Maafkan diriku, Matahari. Sosok pemujaku sedang bergundah-hati menanti kekasihnya yang tak datang bertahun-tahun. Diriku ingin membantu mencari-tau kegelisahannya itu,” Bulan yang kehilangan cahaya merasakan takut.
“Jika kau telah mengetahui hal yang ingin kau ketahui, akankah kau berjanji tak akan pulang terlambat lagi?”
Bulan mengangguk, Mentari pun mulai bercerita.

… MENTARI
Kekuasaan yang terpatri
Rasuki titik nadi…

“Apa yang ingin kau katakan, wahai sosok indah Bulan?”
Malam itu, setelah bermusim-musim menanti menghilangkan harapan Riak yang terdalam, Bulan memutuskan untuk bercerita. Menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi.

“Salju tak mengingkari janjinya kepadamu, Riak.”
“Jadi mengapa ia tak datang?”
“Karena ia tak bisa datang.”
“Tapi mengapa tiada khabarnya kepadaku?”
“Karena ia sekarat!”
Jawaban demi jawaban dari Rembulan membuat Riak semakin gundah. Tiada satu pun yang mampu ia mengerti dari jawaban itu. Yang ada hanyalah gundah yang semakin larut dalam kepedihan. Riak di permukaan danau terlihat bergejolak.

“Dimanakah ia sekarang?”
“Bertualang mencari tempat yang mampu ia tempati.”
“Dimanakah itu? Aku akan mencarinya!”
“Tempat yang selalu berpindah-pindah. Tergantung dengan jubah ozon Bumi yang mampu melindunginya dari Matahari.”
“Matahari? Jadi diakah biang keladi dari segala apa yang terjadi ini? Diakah yang membuat Salju takut bertemu denganku? diakah?!!”
Kemarahan yang tak terbendung, danau mendidih. Malam itu, panas di sekeliling danau. Pohon-pohon merunduk takut, ikan-ikan mati kekeringan. Riak tak lagi mendengarkan apa yang dikatakan Rembulan selanjutnya. Cinta duka membuat telinganya tuli. Kepada siapakah ia harus melampiaskan kemarahannya ini?

Bersambung ...


focus berita handphone, laptop, gadget, tablet, computer

darwys - 18.05
terimakasih atas kunjungan anda

0 komentar:

Posting Komentar